Bismillah
Tulisan ini diawali dengan sebuah riwayat, As-Suusiy berkata: “Ikhlas adalah tidak merasa telah berbuat ikhlas. Barang siapa yang masih menyaksikan keikhlasan dalam ikhlasnya, maka keikhlasannya masih membutuhkan keikhlasan lagi”.
Kalau ikhlas berarti mengerjakan sesuatu tanpa pamrih, agaknya salah. Karena manusia pasti pamrih. Tapi pamrihnya beda-beda. Dan ikhlas berarti pamrih terhadap keridhoan Allah. Riwayat kedua,
“Sesungguhnya Allah tidak akan menerima suatu amal, kecuali jika dikerjakan murni karena-Nya dan mengharap wajah-Nya”. (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i)
Setiap perbuatan baru akan diterima ketika dilakukan dengan ikhlas. Sekilas, dua pernyataan ini agak bertolak belakang. Kita harus ikhlas mengerjakan sesuatu, tapi jika kita merasa sudah ikhlas, maka itu belum sempurna keikhlasannya. Bingung.
Tapi, saya memahaminya, bahwa ikhlas itu hanya bisa dinilai oleh Allah karena itu urusan hati, urusan bathin, urusan ghaib. Kondisi keikhlasan yang sempurna tidak akan kita sadari.
Maka memang tugas manusia itu bukan menunggu sampai ia ikhlas baru beramal misalnya, tapi melakukan amalan, dan berusaha sekuat-kuatnya untuk menghilangkan niat-niat dan harapan lain selain ridhoNya. Justru ketika kita merasa sudah ikhlas melakukan sebuah amalan, ketika itu pula kita belum ikhlas.
Jadi? Jangan dipusingkan sama pertanyaan apakah kita SUDAH IKHLAS ATAU BELUM, tapi APAKAH KITA SUDAH SEKUAT TENAGA BERUSAHA UNTUK IKHLAS.
Dan Allah Maha Tahu.
referensi : http://edukasi.kompasiana.com/2011/11/10/ikhlas/
Komen terakhir