Seperti Mengejar Bulan

28 02 2012

Mengejarnya seperti berlomba dengan bulan

Semakin kukejar, semakin tak sampai

Seakan dekat, namun nyatanya sangat jauh

Tak tergapai

Jelas terlihat, sepertinya indah

Tapi seakan tiada pernah mendekat

Barang satu langkah pun

Tapi juga tak menjauh

Hanya diam di situ

 

Ia seperti bulan

Timbul tenggelam

Tidak hilang, tetap bertengger dalam keanggunan

Hanya sembunyi, jika siang datang terlalu menyilaukan

 

Ia menempati ruang

Dalam pikiran, bukan sesuatu yang berubah

Bahkan jikapun terlihat, hanya satu sisi saja

Tak mampu mata ini menjangkau sisi satunya

Yang kutahu hanya terangnya saja

 

Suatu hari kusinggahi ia dalam hening

Mencoba menggambarkan seperti apa wujud seutuhnya

 

Yang kudapati tanpa basa-basi

Tetap beku seperti gunung es

Tetap hening seperti bulan

Aku diam, menerka-nerka tujuan

Aku diam, mereka-reka pesan yang ingin disampaikan

 

Aku diam, dan melihat kaki-kakiku

Penuh luka dan darah

Penuh memar dan merah

Merasakan nafasku, ternyata begitu tersengal dan berat

Meraba jantungku, begitu cepat berpacu

 

Aku diam, dan sadar

Aku pernah menjadi bak prajurit, meretas hutan dengan penuh perjuangan

Saat sakit dan lelah tak dihiraukan

 

Dan aku mulai berpikir,

sudah waktunya kah untuk berhenti?

sudah waktunya kah untuk mundur,

lalu membiarkan matahari menjemput,

merawat luka dan memarku,

dengan kehangatan, bukan kebekuan?





Mengeluh – Puzzle Series

21 02 2012

Beberapa hari ini, seorang lelaki usia sekitar 25 tahun menjadi perhatianku acapkali pulang pergi kerja. Dia sering terlihat di pinggiran kawasan industri pulo gadung, tepatnya di perbatasan antara kawasan industri dengan jalan PAM Swadaya – tempat pengendara motor dan mobil biasa mengambil jalan pintas. Ia biasa bekerja menertibkan jalur sempit tersebut, agar tetap bisa dilalui oleh kendaraan dari dua arah. Ia pasang badan di tengah jalan, lalu memberi arahan bagi kami para pengendara untuk melewati depan dan belakangnya. Sederhana. Seperti polisi cepek lainnya.

from sodahead.com

Tapi hal ini menjadi tidak sederhana ketika aku perhatikan lebih dekat, di mana di bawah kedua tangannya, terselip dua buah tongkat penyangga. Berbahan logam. Dan ternyata, kedua tongkat itu menyangga tubuhnya yang tak lengkap, ia hanya memiliki satu kaki.

Halo? Apakah kita seringkali mengeluhkan pekerjaan kita? Lelah, penat, pusing karena pekerjaan di kantor yang menumpuk? Atau bahkan, pekerjaan kita, kita rasa kurang cocok dengan diri kita? Mengeluh, karena gaji dirasa kurang? Tidak sesuai dengan kemampuan atau tingkat pendidikan?

Rehatlah sejenak. Pikir kembali, betapa kita harusnya bersyukur. Kerja di kantor, di bawah ruang ber AC, gaji jauh dari cukup untuk makan sehari-hari, masih cukup untuk bensin, pulsa, dan lain-lain. Kerja di pabrik, di bawah atap, tidak perlu dipapar matahari jika terik, atau basah jika hujan. Kerja di tengah hutan, dijamin kesehatan dan keselamatannya, tidak perlu khawatir kekurangan biaya kalau misalnya kena celaka.

Sebelum memilih untuk menyesali pekerjaan kita saat ini, ada baiknya kita mengumpulkan sebanyak-banyaknya hal yg bisa disyukuri dari itu. Kita jauh lebih beruntung karena tanpa bekerja pun, kita lebih kaya dari pada sang lelaki itu yang hanya punya satu kaki. Mengeluh sebaiknya jadi pilihan terakhir, setelah bersyukur, memperhatikan sekitar, bersyukur lagi, dan berbuat. Meskipun secara materi pas-pasan, tapi secara nurani, kita harus kaya. Menurutku yang penting itu.

Soal kerjaan yang ‘nampak’ kurang enak? Mengutip kata sahabat,

Rumput tetangga emang selalu ‘nampak’ lebih hijau, cuy…

from imtiyaz-publisher.blogspot.com




Untuk Seorang Teman

16 02 2012

Seperti petir, sekilas, sesaat, namun begitu gagah

Memporak-porandakan setiap yang indah

Membekukan benak sesaat, melamunkan, dan memikirkan

Apa yang baru saja terjadi

 

Ya, seperti kilat, menyambar, merobek, menjejakkan bekas luka

Lebih dalam dari tikaman belati

Karena ia bahkan tak tampak, tak tahu seperti apa harus mengobati

 

Seakan belum lengkap istana kartu ini ia bangun,

Namun harus runtuh, luluh lantah

Akan seperti apa yang ia bayangkan, yang kita bayangkan,

Ternyata harus digilas rata setiap lembar yang sudah tertata

 

Ia pergi, meninggalkan berjuta imaji

Lekat, sangat lekat mengerak dalam memori

Berbagai rekam jejak seakan menari-nari

Semakin jelas tergambar, ketika sang bidadari sudah terbang pergi

 

Ia tak kembali, tak seperti ambang mati yang kerap kita kunjungi

Tak beranjak kembali untuk berbagi cerita

Tak berbalik lagi, lantas jauh ke atas sana

 

Bukan hanya kita yang menyayanginya, kawan

Bukan hanya kita yang memilikinya

Kita hanya disempatkan untuk mengunjungi segelintir kecil sudut-sudut terbaik darinya

Tapi kita pernah menghabiskan malam, siang, canda, dan air mata

keringat, darah, cinta, cita,

harapan, angan, keluhan, kegembiraan,

cerita, dan cara memandang dunia

 

Kita tidak terlahir dari rahim yang sama

Tapi aku yakin, ketika ia pergi,

kamu, aku, dan semua yang pernah berbagi tempat di bawah langit dengannya

hanya bisa tertegun bisu, memaksa diri untuk menerima

menekan pilu sekuat-kuatnya, atau menangis sejadi-jadinya

 

Tugasnya sudah selesai

Membagikan pada kita berbagai kisah, berbagai pelajaran

Bukan untuk menjadi klise yang tak sempat tercetak

Tapi untuk kita teruskan, terjemahkan,

ke dalam lukisan besar,

arti hidup seorang manusia,

yang meski singkat namun penuh cinta dan cita-cita

Indah terlukiskan dalam sebuah nama,

Angelina Yofanka

(11 July 1992 – 5 Februari 2012)








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.