Mengejarnya seperti berlomba dengan bulan
Semakin kukejar, semakin tak sampai
Seakan dekat, namun nyatanya sangat jauh
Tak tergapai
Jelas terlihat, sepertinya indah
Tapi seakan tiada pernah mendekat
Barang satu langkah pun
Tapi juga tak menjauh
Hanya diam di situ
Ia seperti bulan
Timbul tenggelam
Tidak hilang, tetap bertengger dalam keanggunan
Hanya sembunyi, jika siang datang terlalu menyilaukan
Ia menempati ruang
Dalam pikiran, bukan sesuatu yang berubah
Bahkan jikapun terlihat, hanya satu sisi saja
Tak mampu mata ini menjangkau sisi satunya
Yang kutahu hanya terangnya saja
Suatu hari kusinggahi ia dalam hening
Mencoba menggambarkan seperti apa wujud seutuhnya
Yang kudapati tanpa basa-basi
Tetap beku seperti gunung es
Tetap hening seperti bulan
Aku diam, menerka-nerka tujuan
Aku diam, mereka-reka pesan yang ingin disampaikan
Aku diam, dan melihat kaki-kakiku
Penuh luka dan darah
Penuh memar dan merah
Merasakan nafasku, ternyata begitu tersengal dan berat
Meraba jantungku, begitu cepat berpacu
Aku diam, dan sadar
Aku pernah menjadi bak prajurit, meretas hutan dengan penuh perjuangan
Saat sakit dan lelah tak dihiraukan
Dan aku mulai berpikir,
sudah waktunya kah untuk berhenti?
sudah waktunya kah untuk mundur,
lalu membiarkan matahari menjemput,
merawat luka dan memarku,
dengan kehangatan, bukan kebekuan?
udah deh yabz, kejar! hehehe..biar nggak galau terus..
haha, capek yur ~_~ kayaknya udh bukan jalannya nih
udah lulus ya mbak? piye? s2 opo kerja?
Kenapa yasir? Menyerah? Jngan dong bo.. Selama bulan itu belum pergi , jangan menyerah, namanya juga bulan, suka malu2 gitu., hehehe
Yasir, kalau niat jangan setengah-setengah.. Lelaki itu tegas harusnya.. Jangan sampai ada yg dirugikan dengan sikapmu itu.. Tegas ya bung!
iya teman, makasih atas nasihatnya. tegas itu menurut saya berdiri dan berpegang pada satu prinsip yg diyakini benar, bukan bersandar pada sesuatu yg mungkin sesuatu itu bersandar pada yg lain. mudah2an kita bisa bersandar ke yang benar, bukan cuma keliatan benar.