Konsekuensi Dosa-Dosa Kita


Betapa hari ini Allah memberi sebuah kisi-kisi jawaban dari soal-soal ujian yang Ia beri. Kali ini lewat khutbah jum’at. Sang khotib, bernama Bernard Abdul Jabbar-seorang muallaf yang kini menjadi pendakwah.

Apa yang disampaikannya seakan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang saya, dan mungkin teman-teman sesama muslim muda, rasakan. Tema yang ia bawa ialah tentang akibat dari dosa-dosa dan maksiat yang telah kita lakukan.

Ada 4 hal yang ia bahas, yang merupakan konsekuensi dari dosa dan maksiat yang telah kita lakukan:

  1. Terhalangnya hidayah
  2. Terhalangnya ilmu
  3. Terhalangnya rezeki
  4. Tertutup/matinya hati

Maka, jika saat ini kita sedang merasakan satu atau beberapa dari 4 hal di atas, maka boleh jadi penyebabnya adalah karena dosa-dosa yang sudah kita lakukan di masa lalu.

Yang pertama, terhalangnya Hidayah. Ada 2 jenis hidayah : hidayah irsyadiyah dan hidayah taufiqiyah.

Hidayah irsyadiyah atau hidayah ilmiah ialah hidayah yang berbentuk panduan, seperti agama Islam. Sudah jelas aturan-aturan di dalamnya seperti solat, zakat, puasa, dll.

Hidayah taufiqiyah ialah hidayah yang Allah berikan pada hati manusia, sehingga ia condong kepada keimanan dan ketaqwaan. Hidayah ini yang lebih penting karena menyangkut hati. Jika seseorang tidak mendapatkan hidayah ini, maka ia tidak akan tergerak meskipun sudah mengetahui ilmu-ilmu agama.

Terhalangnya hidayah sehingga kita menjadi malas beribadah, kalaupun beribadah seadanya saja, asal-asalan. Menjadi ritual semata. Dosa yang pernah kita lakukan sangat boleh jadi sesuatu yang menghalangi dari sampainya hidayah ini pada kita.

Yang kedua, terhalangnya Ilmu. Salah satu cerita tentang Imam Syafi’i yang seketika hilang ilmunya, lupa, ketika ia secara tidak sengaja melihat betis seorang wanita yang bukan mahramnya karena pakaian sang wanita tertiup angin. Boleh jadi, kita sudah lama mempelajari ilmu agama, bahkan dari kanak-kanak. Tapi, ilmu-ilmu itu bisa hilang lantaran banyaknya dosa yang telah kita lakukan. Begitu juga ilmu dalam artian luas. Boleh jadi kita sulit untuk memahami pelajaran, mata kuliah, karena banyaknya dosa yang kita lakukan dan tidak segera bertaubat. Bisa jadi otak buntu dan tidak bisa berpikir jernih, karena hal ini pula.

Yang ketiga, terhalangnya rezeki. Khotib menceritakan tentang sebuah kampung di Indonesia yang beberapa hari lagi akan panen raya. Melihat ladang/sawah mereka sebentar lagi akan panen, maka warga kampung pun menggelar pesta perayaan, besar-besaran. Bahkan judi dan biduan pun jadi agenda pesta itu. Hingga larut malam, dan akhirnya para warga kelelahan dan terlelap hingga esok paginya. Ketika bangun, yang mereka dapati adalah dalam sekejap waktu saja, ladang/sawah mereka yang sudah siap panen itu hancur dimakan hama wereng dan tikus. Padahal, sudah di depan mata rezeki itu, tapi karena dosa yang mereka lakukan, seketika lenyap begitu saja.

Mungkin ada dari kita yang merasa terhambat rezekinya. Sudah banting tulang, cari cara sana sini. Tapi, tetap saja tidak membuahkan. Bisa jadi, justru dosa-dosa kita yang dulu yang membuat rezeki yang sudah disiapkan itu, batal Allah beri kepada kita.

Yang keempat, matinya hati. Ketika seorang muslim melakukan dosa, makan akan timbul titik hitam yang menutupi hatinya. Jika segera ia meminta ampun, maka titik hitam itu akan hilang kembali. Namun, jika tidak segera meminta ampun, alih-alih justru melakukan dosa lagi, maka titik-titik itu akan semakin banyak dan menyelimuti seluruh hati. Maka hati kita akan menjadi hitam pekat, terbungkus.

Jadi, ketika kita merasa begitu tumpul hatinya, tidak peka lagi terhadap penderitaan sesama, tidak bisa merasakan kesedihan ketika ada orang yang sedih, tidak bisa menarik hikmah dari peristiwa, maka bisa jadi itu karena hati kita sudah tertutup, sudah mati. Kita sulit untuk menerima nasehat yang baik. Setiap perkataan baik atau pun hikmah yang kita dapat dari orang lain, bukannya menjadi perbaikan, justru kita cap buruk dan penuh sikap skeptis. Seakan sudah tidak bisa masuk lagi nasehat apa pun dari siapa pun.

Ketika perasaan begitu cemas, was-was, penuh khawatir dan tidak nyaman, maka sangat mungkin itu terjadi karena banyaknya dosa yang sudah kita lakukan. Mungkin pernah kita meninggalkan sholat wajib, pernah melihat yang haram, menyentuh yang haram, merugikan orang lain. Dosa-dosa kecil yang mungkin kita lakukan dan tidak segera kita mohonkan ampun, lama-lama menjadi besar.

Semoga kita bisa mengingat-ingat lagi banyaknya dosa yang pernah kita lakukan di hari-hari yang lalu. Meskipun sudah berlalu, bukan berarti dosa itu sudah hilang begitu saja. Bisa jadi, kita meremehkan dosa itu sehingga kita tidak meminta ampun. Sehingga kita seakan sulit sekali untuk menerima hidayah, ilmu, rezeki, dan hati kita seperti sudah tidak peka lagi. 

Wallahu a’lam. Terima kasih ustad.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s