Hafalan Sholat Delisha


ini poster filmnya

Nih film nontonnya bareng-bareng sama keluarga, cuma kurang babeh aja. Kurang lebih di hari keenam peluncuran film ini.

Film yang diangkat dari novel Tere Liye ini intinya mengisahkan tentang kisah seorang anak perempuan, umurnya 6 tahun, yang berjuang menjalani kehidupannya pasca tsunami di Aceh yang diceritakan beriringan dengan usahanya menghafalkan bacaan sholat.

Setting film ini di daerah Aceh, seperti yang dituliskan dalam novelnya, tepatnya di daerah Lhok Nga. Diawali dengan penggambaran kehidupan Delisha bersama tiga orang kakak perempuannya dan ibunya sementara ayahnya sedang melaut di tengah samudra. Lika-liku kehidupan mereka berlima disajikan dengan bumbu canda, hikmah, dan yang paling utama kebijaksanaan dan kasih sayang seorang ibu dalam mendidik keempat putrinya tersebut. Diceritakan Delisha sebagai anak bungsu, kesulitan dalam menghafal bacaan sholatnya sementara ia harus melalui ujian sholat di madrasahnya agar bisa mendapatkan hadiah sebuah kalung dari ibunya.

Tsunami pun melanda, tepat ketika Delisha sedang khusyuk menjalani ujian hafalan sholatnya di sekolah. Seluruh daerah Lhok Nga luluh lantah tersapu air laut. Tak banyak orang yang bertahan hidup. Tak banyak bangunan yang tetap berdiri. Permainan story board yang cukup bagus ketika scene ini terutama untuk menggambarkan bagaimana Delisha seorang diri terombang-ambing dalam ribuan galon air, dan akhirnya terdampar di pantai karang dengan kaki yang terluka parah. Hanya ia yang berhasil selamat di keluarganya, sementara ibu dan tiga orang kakaknya tewas dalam bencana itu.

Ia berhasil diselamatkan setelah seorang tentara Amerika bernama Smith berhasil menemukannya dalam kondisi masih bernafas. Tapi sayang, kaki kanannya harus diamputasi. Selama beberapa hari, Smith dan seorang suster bernama Shofi merawat dan memperhatikan Delisha yang tetap tidak sadarkan diri. Delisha pun akhirnya sadarkan diri setelah mendengar bacaan Al-Quran seorang pasien di ruang perawatan tersebut. Hari-hari pasca siuman ia jalani dengan tabah dan tetap ceria, seakan tidak ada kesedihan yang ia rasakan, meskipun ia harus berjalan dengan tongkat dan satu kakinya.

Mendengar kabar bencana melanda kampungnya, sang Ayah pun panik dan segera mencari jalan untuk menuju ke sana secepat mungkin. Mengetahui rumahnya telah rata dengan tanah, ia menangis sehabis-habisnya. Ia belum mendengar kabar tentang keluarganya satupun. Sampai satu per satu, anak perempuannya dikabarkan telah ditemukan dan dikuburkan, dan hanya tersisa Delisha dan sang Ibu yang belum ditemukan. Saya bisa membayangkan bagaimana perasaan sang Ayah yang dalam sekejap ditinggalkan orang-orang terecintanya, dan Reza Rahardian dengan apik mampu menggambarkannya.

Dalam kebingungannya, ia pun mendapat kabar bahwa Delisha masih hidup dan dirawat di rumah sakit darurat. Pertemuan ia dan Delisha pun cukup mengharukan, dengan disaksikan oleh Shofi dan Smith yang setia menjaga Delisha.

Delisha bersama ayahnya berjuang untuk bangkit dan membangun kembali kehidupan mereka. Konflik-konflik kecil, trauma pasca bencana, dan kesedihan serta kerinduan menjadi bagian yang sangat menarik dalam film ini. Delisha bersama semangat dan kepedihannya dengan sangat apik diperankan oleh pendatang baru Chantiq Schagerl. Perannya sangat alami dan tidak kaku; penuh penghayatan dan untuk anak seumurnya, berkali-kali melakukan akting menangis yang baik bukanlah hal yang mudah. Menurut saya, keunggulan utama dari film ini terletak pada pemeran Delisha ini.

Film perlahan ditutup dengan proses Delisha dalam menghafal bacaan sholatnya secara sempurna dan perjuangannya menebarkan semangat bagi orang-orang di sekitarnya.

Untuk sebuah film yang diangkat dari novel, seperti film-film serupa, saya menilai sutradara masih kurang apik dalam menggarap penggambaran dan translasi adegan-adegan dalam novelnya. Meski tidak seluruhnya, saya sempat membaca novel tersebut di bagian awal, tengah, dan akhirnya dan menurut saya, banyak bagian-bagian yang sebenarnya memiliki kekuatan dan daya tarik dalam novelnya, justru tidak ditampilkan dalam filmnya. Salah satunya adalah narasi dan penggambaran perjuangan Delisha ketika bertahan hidup setelah tsunami dan seberapa ia begitu mencintai dan memaknai hafalan sholatnya saat bertahan beberapa hari tanpa makan minum. Selain itu, dari segi penggunaan efek pun digarap dengan kurang baik. Banyak scene yang penggunaan efek visualnya justru sangat mengganggu karena kualitasnya yang kurang baik seperti ketika tsunami.

Namun, di samping berbagai kekurangannya, banyak sekali hikmah yang dapat diambil dari film ini. Keteguhan, kesabaran, semangat, serta ketulusan Delisha sangat dapat kita jadikan pelajaran. Kegigihan sang Ayah, serta ketulusan Smith dan Shofi dalam memberikan pertolongan pun cukup menyentil dan menggelitik sisi kemanusiaan penonton. Kita juga akan dipaksa meneteskan air mata beberapa kali, baik itu ketika scene yang mengharukan dengan akting yang sangat baik, maupun ketika scene di mana kita diajak untuk mengingat kasih sayang seorang ibu.

Satu pesan yang ingin disampaikan sejak awal cerita hingga akhir cerita adalah :

Lakukanlah segala hal dengan ikhlas, bukan karena hadiah atau imbalan yang ingin kita dapat.

Saran : mending nonton filmnya dulu, baru baca novelnya😀

Oia, novel Tere Liye yg lain banyak juga lho. Salah satunya Bidadari-Bidadari Surga, dan kayaknya lebih bagus yang ini kalau mau dibikin film karena plot cerita tunggal, pendek, dan jelas tapi banyak latar belakang.

Ini cover buku yang cetakan terakhir

2 thoughts on “Hafalan Sholat Delisha

  1. aku udah nonton filmnya, dan belum baca novelnya,
    hm, sayang alur dari satu adegan ke adegan yang lain terlalu cepet sir, jadi si penonton ga dapet suasana sedihnya..
    ama pas tahapan delisha di dampingin banyak orang yang sayang ama dia kurang di expose, cuma pas bagian tentara, dokter asing ama ahong2 penjual kalungnya… jadi tau2 pas bagian tamatnya tiba2 udah banyak orang aja yang dampingin delisa,,

    mungkin harus baca novelnya ya ><

  2. ta kira tadi siapa, win.. saha geura dagulancip?😀
    iya, coba baca aja novelnya, aku juga belum baca semua. tapi pas baca di bagian si Delisha nya kena tsunami pisan, tapi justru itu yg ilang.hehe..

    tapi emg bgitu, susah banget buat bkin film sebagus novelnya😀
    oia, ta taro blogroll ya link mu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s