Hakikat Liburan


Original release – 8 Juli 2011

Rafting, salah satu bentuk liburan - http://www.terasrafting.com (gambar dari http://www.whitewaterrafting.com)

Semakin hari, dinamika hidup orang-orang perkotaan semakin membebani pikiran saja. Ketatnya persaingan, makin banyaknya orang pinter, bikin setiap diri kita mau ga mau harus memecut diri supaya mau menjalani semua yang berat-berat ini. Yang udah kerja, beban kerja begitu beratnya, stress di tekan atasan setiap hari. Yang udah kuliah, materinya makin gila aja. Yang dulunya satu mata kuliah materinya satu diktat aja, sekarang bisa sampe empat diktat, bahkan satu buku. Yang dulunya satu mata kuliah tugasnya cuma dua buat satu semester, sekarang jadi lima. Yang dulunya ujian cukup dilalui berbekal pelajaran di kelas, sekarang harus ditambah baca bahan sana sini.

 

Belum lagi tuntutan dari keluarga dan orang tua. Kita seakan hidup dalam sebuah ujian yang tak urung selesai. Setiap kali satu rintangan selesai, rintangan selanjutnya sudah harus dilalui lagi. Intinya, semakin hari, dinamika hidup semakin membuat kejang otak dan otot.

 

Lalu, di antara sulitnya menjalani kehidupan ini, apalagi yang dicari oleh kita kalau bukan hiburan, refreshing, penyegaran kembali. Ibaratnya, di padang pasir tandus, apalagi yang dicari selain segelas air es. Sangat wajar, ketika di antara kesibukan sehari-hari, begitu libur datang, waktu lowong datang, liburan lah yang menjadi agenda utama setiap orang. Manusiawi sekali.

 

Tapi, ternyata ada efek laten yang disebabkan fenomena ini, yang aku sadari setelah membaca sebuah buku tulisan Salim A. Fillah (kalau tidak salah). Di situ, dibahas tentang fenomena ini, dan dampaknya terhadap kepekaan diri kita terhadap lingkungan sosial di sekeliling kita. Lho kok bisa?

 

Kita sibuk, lelah, penat. Ketika ada kesempatan liburan, kita seakan menjadikannya sebagai pelarian dari semua yang membebani kita selama jam kerja. Pada akhirnya, pola ini berulang, berulang, dan terus berulang. Ada kepenatan, harus ada refreshing. Maka, lama kelamaan, hati kita menjadi kebas, mati rasa. Yang dicari cuma satu, hiburan, senang-senang, dan pelarian dari semua kepenatan. Ya, mungkin ini asal muasal budaya hedonis. Dan menurutku, hedonisme ini bukan melulu ke klab malam, pub, bioskop, atau apa pun lah yang berbau senang-senang, dan mayoritas ga lepas dari budaya konsumtif juga. Tapi, itu belum dampak. Itu baru indikasi yang terlihat.

 

Karena, dibaliknya ada dampak yang lebih besar lagi. Ketika diri ini semakin haus akan hingar bingar hiburan, dahaga hura-hura dan senang-senang seakan menjadi kebutuhan primer, ruang hati kita akan penuh terisi oleh hal-hal seperti ini. Kita menjadi alergi terhadap kesusahan, kesulitan, termasuk yang dialami oleh orang lain. Kita menjauhi kesusahan sebisa mungkin. Nafsu akan kebutuhan psikologis ini seakan menjadi tuntutan utama pikiran, sehingga tidak ada lagi ruang di pikiran untuk memikirkan orang lain. Penat, ingin hiburan, kemudian mencari hiburan. Pola ini berulang dan berulang. Sehingga di antaranya tidak bisa diselipkan lagi barang setengok kepala, melihat kondisi orang-orang di sekitar.

 

Hingga kita mati rasa terhadap kesusahan. Hingga kepekaan tergerus keinginan untuk bersenang-senang. Hingga kepedulian seakan menjadi barang langka dan susah dicari.

 

Kalau kata sebuah lagu, “Berhibur tiada salahnya, karna hiburan itu indah.”

 

Memang hiburan itu perlu. Jalan-jalan itu perlu. Refreshing itu perlu. Tapi kita harus pandai-pandai cek dan ricek diri kita, apakah sebegitu besarnya hasrat kita untuk mencari kesenangan, sehingga kita mati rasa terhadap kesusahan, baik itu milik kita maupun milik orang lain.

 

Jadi inget ayat juga, “berjalanlah di muka bumi, dan perhatikanlah”. Seingatku ada banyak ayat yang mengandung kalimat ini dengan konteks yang berbeda-beda. Baik itu memperhatikan akibat dari orang-orang yang berdosa, maupun memperhatikan fenomena-fenomena yang ada di atas bumi untuk memikirkan kebesaran Allah. Lakukanlah perjalanan, tapi tetap perhatikan, tetap ambil hikmah, sehingga tidak hanya nafsu akan kesenangan semata yang dipenuhi, tapi juga kita tetap berfikir dan mengambil hikmah dari sekecil apapun peristiwa yang terjadi di sekeliling kita. Sehingga hati kita ga lantas tumpul, dan tetap sensitif mengindra hal-hal di luar diri kita, yang butuh perhatian kita.

 

“Hidup itu seperti mendaki gunung. Seseorang bisa saja mendapat pemandangan yang indah karena bersedia menikmati perjalanannya sambil memperhatikan sekelilingnya. Namun, seorang lainnya bisa saja hanya mendapat lelah saja, karena hanya bersedia menganggap perjalannya sebagai sebuah beban dan tantangan yang harus sesegera mungkin ditaklukkan, sehingga indahnya perjalanan tidak ia dapati sama sekali.”

 

Dan Allah Lebih Tahu, dan Maha Tahu dari siapa pun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s