Bangsawan dan Ulama – Story About Self Consciousness


Alkisah, seorang bangsawan kaya di daerah timur tengah. Ia begitu kaya raya dan melimpah harta. Suatu hari, ia merenung dan merasa bahwa dirinya begitu hampa dan membutuhkan suatu pencerahan. Ia pun berniat untuk belajar kepada seorang ulama yang bijaksana di sebuah masjid di suatu daerah. Ia ingin mempelajari kebijaksanaan sang ulama dan menjadi lebih bijaksana.

from flickr.com

Singkat cerita, ia pun berhasil menemukan masjid yang ia cari; masjid tempat sang ulama biasa berdiam diri. Ia memasukinya dan sang ulama terlihat sedang duduk dan berdoa.

“Salam sejahtera, wahai ulama yang bijaksana. Perkenalkan, aku seorang bangsawan. Aku ingin belajar kebijaksanaan darimu. Aku ingin menjadi lebih bijak dalam menjalani kehidupanku”, sang bangsawan menyapa sang ulama dengan salam yang ramah.

“Baiklah, kamu boleh berguru padaku. Namun sebelumnya, aku ingin menanyakan beberapa pertanyaan padamu”, sang ulama pun menyambut sang bangsawan.

“Silakan guru, apa pertanyaan-pertanyaanmu?”, bangsawan.

“Ketika kau masuk ke masjid ini, apakah kau sudah meletakkan sandalmu dengan benar, tidak terbalik kanan dan kirinya?”, sang ulama mengajukan pertanyaan pertama.

Sang bangsawan pun bingung dan mengingat-ingat pertanyaan tersebut.

“Aku lupa wahai guru. Sebentar, aku periksa dulu”, bangsawan itu pun keluar dari masjid dan memeriksa sandalnya. Ia memeriksa sandalnya dan masuk kembali ke dalam.

“Sudah aku periksa guru, ternyata sandalku sudah kuletakkan dengan benar. Lalu, apa pertanyaan selanjutnya?” bangsawan bertanya lagi.

“Ketika tadi engkau memeriksa sandalmu, apa warna anak tangga yang kau lewati tadi?” ulama bertanya lagi.

Bangsawan pun makin bingung dan mencoba mengingat. Kali ini dia mulai berprasangka bahwa ia hanya dikerjai oleh sang ulama. Tapi ia mencoba untuk berprasangka baik, “Wah, sebentar guru, saya periksa dulu.”

Bangsawan pun keluar lagi dari masjid. Setelah memeriksa anak tangga, ia kembali masuk lagi.

“Warna kuning muda, wahai guru. Tapi aku masih bingung, apa maksud pertanyaan-pertanyaanmu tadi?” bangsawan pun mulai penasaran.

“Pertanyaan selanjutnya, ketika kamu memeriksa warna anak tangga tadi, ada berapa buah anak tangga yang kau lalui?” sang ulama tidak menjawab dan justru bertanya lagi kepada sang bangsawan.

Bangsawan mulai sedikit kesal. “Wahai guru, kalau memang masih ada pertanyaan lagi seputar hal di teras masjid sana, tanyakanlah semua sekaligus padaku supaya aku tidak harus bolak-balik.” Bangsawan dengan nada agak sedikit naik menyampaikan hal tersebut.

“Sudah, jawab saja dulu pertanyaanku,” sang ulama tetap tidak menanggapi.

“Aku tidak ingat guru, makanya biar aku periksa dulu,” bangsawan yang terhormat itu pun kembali keluar masjid untuk ketiga kalinya. Ia pun menghitung anak tangga itu satu persatu. Setelah menemukan  jawabannya, ia kembali lagi.

“Ada dua puluh anak tangga, Guru. Lalu apa maksud pertanyaanmu ini?” ia pun bertanya lagi.

Kali ini sang ulama tersenyum dan menjawab.

“Kau bukannya lupa. Kau memang tidak pernah ingat. Pelajaran pertama untuk menjadi bijaksana adalah dengan menjaga kesadaran diri kita. Kesadaran diri dalam menjalani setiap hal yang kita alami akan membuat kita menjadi lebih bijaksana. Kita seringkali mengalami suatu hal tapi karena kita tidak memiliki kesadaran diri maka tidak banyak pelajaran dan hikmah yang kita dapat.”

“Boleh jadi kita memiliki banyak sekali pengalaman. Tapi itu akan sia-sia saja jika kita tidak menjalaninya dengan cukup sadar. Kita hanya mendapatkan apa yang jelas terlihat atau yang kita anggap penting saja, sementara hal-hal yang kita anggap tidak penting tidak kita perhatikan. Padahal, bisa saja banyak hikmah yang diselipkan Tuhan pada hal-hal yang tidak penting itu.”

“Kita yang tidak sadar akan menjalani pengalaman besar dengan biasa saja. Sementara kita yang sadar akan menjalani sebuah peristiwa kecil dengan mendapat banyak hikmah, pelajaran, pembelajaran, dan kebijaksanaan. Hanya yang penuh kesadaran yang mampu menangkap maksud Tuhan dari setiap peristiwa, sekecil apa pun.”

Bangsawan itu pun paham dan berterima kasih kepada sang ulama. Semenjak hari itu, ia pun menjalani setiap peristiwa yang ia alami dengan penuh perhatian dan kesadaran sehingga ia menjadi orang yang lebih bijaksana.

– disarikan dari ceramah tarawih di masjid salman, dengan redaksi dan konten seinget penulis😛 –

from sciencentechnologyupdates.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s