Bukan Sembarang Supir Angkot – Puzzle Series


Cerita ini didapat ketika aku dalam perjalanan pulang dari daerah karawaci ke Bekasi.

 

Bis no 74A yang seharusnya berhenti di daerah UKI, saat itu justru langsung menuju Kp Rambutan melalui jalur alternatif. Abis mengambil Tol Bintaro, entah keluar di mana, yang aku tahu, ketika plang penunjuk jalan menunjukkan Cawang/UKI seharusnya belok kiri, bis itu kata sang kondektur bakal langsung lurus, ke terminal nampaknya. Mau tidak mau, aku pun turun saat itu juga, untungnya dengan bawaan yang sedikit.

 

Ga pikir panjang, aku pun berjalan mengikuti arah penunjuk jalan, ke Cawang belok kiri. Di perempatan yang sangat besar itu, aku pun melihat beberapa mikrolet (istilah angkot buat daerah jakarta) lagi ngetem. Aku pun bertanya pada salah satu supir angkot, dia bilang, kalau ke UKI, naik angkot di depannya. Aku pun langsung mengambil kursi depan, karena di dalam angkot, masih belum ada satu pun penumpang. Angkot 06A, jurusan gandaria.

 

Ini lah supir pertama. Dia menunggu penumpangnya sambil ngetem di perempatan tadi. Berteriak2 setiap kali ada orang yang berjalan mendekatinya, dan berkali-kali memajumundurkan mobil, tanpa peduli ada 1 orang penumpang di situ yang sudah tidak sabar ingin berangkat. Setiap kali si supir pertama ini tampak mau berangkat, setiap kali itu pula dia memundurkan mobilnya ke posisi semula. Dan itu ia lakukan hingga belasan kali. Silakan bayangkan seperti apa perasaan si penumpang satu-satunya ini.

 

Sampai sekitar 15 menit, ada penumpang lain masuk. Dia duduk di belakang, lalu ikut menunggu menemaniku. Tidak berbeda yang dilakukan supir pertama. Masa bodoh sekali. Sampai akhirnya aku memberanikan diri sedikit “menyindir” dgn bertanya “Masih lama bang?”. Tepat setelah saya bertanya, eh, si penumpang yang dibelakang sudah lebih dulu turun, karena sudah tidak sabar lagi. Aku pun mengambil ancang2 keluar dan bukannya si supir berangkat, dia malah berkata “Kalau mau cepet, naik taksi aja mas..!”

 

 

Ga ambil pusing, toh marah pun ga nyelesein masalah. Langsung cari 06A lain yang nampak sedang berjalan dan cukup banyak penumpangnya. Dapat lah satu angkot 06A yang lain. Dan ini lah supir kedua, dengan jurusan yang sama.

 

Sangaat berbeda tabiat supir kedua ini. Mungkin, ini lah supir angkot paling ramah yang pernah saya temui. Sepanjang perjalanan, dia berbincang-bincang hangat dengan seorang nenek yg duduk di belakang supir. Sangat bersahabat walau dengan suara yang lantang. Sopan dan penuh senyum. Dari cermin, aku bisa melihat wajahnya yang selalu ceria.

 

Dia melajukan angkotnya dengan cukup cepat, seperti yang diharapkan oleh semua penumpang. Katanya kepada si nenek, “Ga perlu saya mah berhenti lama-lama, cepet aja”. Bahkan, setiap kali ada calon penumpang yang berdiri di pinggir jalan, dia ga segan menyapa dengan ramah dan suara lantang, menawarkan tumpangan. Makanya, ga heran kalo di mobil, ga pernah kurang dari 5 orang penumpangnya. Lalu, ketika ada pejalan kaki yang ternyata tidak bermaksud naik angkotnya, dia pun bergumam, “Oh, ternyata ga mau”, dan tetap tersenyum.

 

Dua orang penumpang di depan pun tak lepas dari obrolan dengannya seputar pertandingan bola piala asia. Orang asing nampak bukan orang asing baginya. Setiap kali ada penumpang yang ingin turun, dia selalu memastikan bahwa tempat ia menurunkan penumpangnya adalah tempat yang aman, makanya dia selalu meminta penumpangnya untuk sabar, tunggu sampai ia berhentikan mobilnya di pinggir jalan. Setiap kali penumpangnya memberi ongkos, dia selalu mengucap terima kasih.

 

Dua orang supir yang berbeda, dengan trayek angkot yang sama, tapi dengan tabiat dan karakter yang jauh berbeda. Aku mempelajari satu hal yang sangat berharga. Rezeki itu mengikuti kok, kalau kita selalu berusaha untuk ga menyusahkan orang lain dan berbuat baik kepada siapapun. Apakah si supir pertama dalam 20 menitnya ngetem, mendapatkan sepeser saja rupiah? Apakah si supir pertama dengan sifatnya yang seperti itu akan mendatangkan banyak penumpang? Sementara, supir kedua, tampak sangat bahagia. Seperti ia sangat tahu apa yang diharapkan penumpang dan tidak berpikir panjang untuk melakukannya. Lalu, penumpang pun datang silih berganti. Di luar takdir Dia dan ketentuan Mikail dalam mengatur rezeki, bahkan si nenek pun membayar dengan ongkos berlebih. Si supir sempat berkata, “Wah, si nenek bayarnya banyak banget nih. Padahal sama anak kecil dua.”

 

Sepanjang perjalanan, aku ga bisa berhenti tersenyum kagum pada si supir. Dengan profesinya sebagai supir angkot aja, dia bisa membahagiakan banyak penumpangnya. Dengan profesinya sebagai supir angkot, dia bisa menjalaninya dengan ceria. Dengan profesinya sebagai supir angkot, banyak pengalaman yang bisa ia bagi kepada para penumpangnya.

 

Lalu, yakinkah kita dengan orientasi profesi kita saat ini? Yang niat mau jadi bos, kalau sekedar demi uang banyak dan sejahterain diri sendiri, mungkin masih kalah sama supir angkot. Yang niat mau jadi eksekutif muda tapi belum niat mau membahagiakan banyak orang, mungkin masih kalah juga.

 

Banyak hikmah yg diambil. Terima kasih pa supir.

***

originally posted on Friday, 31 December 2010

https://www.facebook.com/note.php?note_id=482766791742

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s