Keluhan Seekor Anak Kerang


Cerita ini saya dapat dari seorang dosen teladan yang menjadi panutan saya selama kuliah di kampus. Tidak hanya mengajar, tapi juga mendidik. Tidak hanya menguji tapi juga membina. Tidak hanya menyuapi tapi juga memberi tantangan dan mengajak berpikir.

***

from inchi04.student.umm.ac.id

Syahdan, seorang anak kerang mutiara dan induknya tinggal di sebuah laut dalam. Suatu hari, sebuah serpihan karang kecil tidak sengaja masuk ke dalam tubuhnya. Sang anak pun merasa terganggu dan tidak nyaman karena serpihan yang masuk ke dalam tubuhnya itu.

“Ibu, tolong aku! Ada serpihan karang yang masuk ke dalam tubuhku dan aku merasa kesakitan! Tolong aku, Bu, tolong keluarkan serpihan ini!” keluh sang anak kerang kepada sang ibu.

“Sabar, Nak. Coba tahan rasa sakit itu..” jawab sang ibu sederhana.

Berhari-hari berlalu, sang anak kerang masih merasakan sakit karena serpihan itu. Ia pun kembali mengeluh.

“Ibu, aku merasa terganggu sekali. Tolong singkirkan serpihan ini dari tubuhku!” lagi-lagi sang anak kerang mengiba dan meminta bantuan sang ibu kerang.

Ibunya pun menjawab dengan kalimat yang sama, “Sabar, Nak. Coba tahan rasa sakit itu…”

Berminggu-minggu berlalu dan sudah berkali-kali sang anak kerang mengeluh dan membujuk sang ibu kerang untuk membantunya. Sesering itu pula sang ibu menasehati anaknya untuk bersabar.

Setelah akhirnya hampir satu bulan berlalu, ketika sang anak sudah bisa terbiasa dengan rasa sakitnya dan mulai tidak merasakannya, sang ibu pun menyuruh sang anak kerang untuk membuka tubuhnya dan melihat apa yang ada di dalamnya.

Sang anak kerang terkejut dan takjub. Ternyata, di dalam tubuhnya ada sebuah mutiara putih yang sangat indah dan berkilau. Ia pun terheran dari mana asalnya mutiara itu.

Sang ibu pun menjawab,

“Mutiara itu dulunya adalah serpihan kerikil yang menyakitimu, Nak. Namun, dengan kesabaranmu menahan rasa sakit, tubuhmu pun perlahan menyelimuti kerikil itu dengan cairan yang kau hasilkan. Dan ketika sudah berminggu-minggu kau lalui rasa sakitmu itu, mutiara ini lah yang kau hasilkan; buah dari kesabaranmu menahan rasa sakit selama ini.”

***

Begitu juga kehidupan kita. Kita tak jarang mengeluh akan kesusahan yang kita alami. Kita seringkali merasa tak kuat dan ingin menyerah saja. Tapi, jika kita mau bersabar terhadap kesusahan itu, niscaya kesabaran kita akan berbuah “mutiara” yang indah.

Boleh jadi kita membenci sesuatu padahal itu baik bagi kita, dan sebaliknya, boleh jadi kita menyukai sesuatu padahal itu buruk bagi kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s