Cobalah Mengubah, Jangan Diam Saja


Diawali dengan sebuah quote yang cukup terkenal,

“Ketika muda, banyak orang yang berpikir untuk merubah dunia. Namun, ketika ia mencobanya, ia sadar bahwa ia harus mengubah negaranya terlebih dahulu. Namun, ketika ia mencoba mengubah negaranya, ia sadar bahwa ia harus lebih dulu mengubah kota tempat tinggalnya. Namun, ketika ia sudah mencoba untuk mengubah kota kediamannya, ia sadar bahwa yang harus ia ubah lebih dahulu ialah keluarganya. Sayangnya, ketika ia mencoba untuk mengubah keluarganya sendiri, ia baru tersadar bahwa yang paling awal harus ia ubah adalah dirinya sendiri. Dan saat ia sadar akan hal itu, ia sudah tua renta, dan untuk mengubah dirinya sendiri pun sudah tak mampu.”

Hal ini benar saya sadari sebagai seorang biasa, seperti masyarakat yang lain. Apalagi ditambah banyaknya fenomena aneh yang terjadi di sekeliling. Salah satu yang paling membuat saya heran adalah, banyak sekali tokoh di Indonesia ini yang terkenal, sangat terkenal, menyuarakan berbagai hal tentang bagaimana menjadi manusia yang baik, mengajak orang lain untuk menjadi baik, tapi ternyata ketika tidak sengaja saya mencoba melihat dan mencari tahu kondisi keluarganya, terutama anak-anaknya, tidak mencerminkan sebagaimana yang selalu diserukannya kepada khalayak. Seorang kyai terkenal ternyata anaknya tidak berjilbab. Seorang trainer tersohor ternyata anaknya berbeda dengan citra yang melekat pada dirinya. Seorang pejabat tinggi negara ternyata anaknya punya banyak masalah tentang pergaulan.

Mari kita pandang hal ini tidak sebagai upaya mencari-cari cela dari seseorang tapi sebagai evaluasi dan perbaikan untuki diri kita ke depannya. Saya jadi teringat pada sebuah cita-cita sederhana yang ditulis oleh seorang teman, orangnya biasa saja, tidak terlihat alim, bahkan cenderung bandel. Namun, cita-cita yang ia tuliskan di buku kenangannya, tentang ingin menjadi apa ia 10-20 tahun lagi ialah : “jadi bapak yang baik buat anak-anak gue”. Kata-kata itu pun terngiang-ngiang di dalam pikiran saya. Ketika banyak mahasiswa di kampus terbaik itu membuat cita-cita setinggi langit, cita-cita yang sangat makro, teman saya membuat cita-cita yang sederhana, dekat, tapi sangat dalam maknanya.

Lagi-lagi saya mengajak kita untuk berpikir lebih positif, bukan berarti setiap cita-cita tinggi adalah salah. Tetapi mulailah semuanya dari elemen paling dasar dan paling dekat, kemudian bergerak ke elemen yang terdekat selanjutnya, dan perlahan bergerak ke elemen terluar dari diri kita. Sayangnya, mungkin banyak orang besar di negeri ini yang melompati elemen-elemen yang berada dekat dengan dirinya, dan langsung merambah ke elemen-elemen terluar, yang sebenarnya jauh dari kehidupannya sehari-hari, namun tentu lebih besar dan nampak.

Kalau saya mengambil contoh terlalu jauh, mari coba ambil contoh di sekeliling kita, atau bahkan diri kita sendiri. Kamu seorang aktivis organisasi kampus? Seorang aktivis dakwah kampus? Seorang petinggi himpunan? Atau seorang ketua acara kaderisasi? Mari perhatikan diri sendiri. Mungkin di luar sana, di kampus, kita begitu aktif bergerak, melakukan perubahan di sana-sini, perbaikan, melaksanakan program, pendidikan berbagai macam, kaderisasi, dan segala dinamikanya. Memutar otak untuk mencari metode yang efektif dalam menurunkan nilai-nilai kemahasiswaan dalam kaderisasi. Dengan memikul visi dan misi yang besar, menjalankan roda organisasi bersama kerabat-kerabat. Dengan begitu semangat, melakukan program-program dakwah kampus, berlelah-lelah mempersiapkan acara, mengajak teman-teman dekat untuk partisipasi, atau sekedar menempel poster kegiatan di malam hari.

Tapi apakah yang sudah kita lakukan untuk keluarga kita di rumah ketika kita kembali berkumpul dengan keluarga kandung, elemen terdekat setelah diri sendiri?

Ada baiknya mengevaluasi diri masing-masing saja. Mungkin agak disayangkan ketika begitu aktifnya kita membuat perbaikan dan melakukan hal-hal positif sebagai mahasiswa, tapi tidak berbuat banyak untuk keluarga, tidak mencoba memperbaiki apa yang tidak baik di keluarga, tidak mencoba menyerukan keluarga untuk berbuat baik. Seakan kita menjadi orang yang berbeda di rumah dan di kampus. Apakah kita di rumah sudah mencoba menjadi pemeran aktif, atau sekedar figuran yang pasif dan tidak berbuat apa-apa?

Mungkin di keluarga, kita bukan ketuanya. Tidak seperti di organisasi, kita pengurusnya, atau bahkan pemimpinnya. Tapi, keluarga itu adalah keluarga kita sebenarnya. Bukan organisasi yang sekedar menempelkan label kekeluargaan. Keluarga yang menjadi sekolah pertama kita sebelum menjadi hebat seperti sekarang. Dan yang terpenting, keluarga yang Allah titipkan pada kita, untuk kita selamatkan dari keburukan.

“Hindarkanlah dirimu dan keluargamu dari api neraka”

Hal ini tentunya tidak menafikan kewajiban kita untuk mengubah yang lain. Namun, jika untuk mengubah keluarga kita menjadi lebih baik dengan menerapkan semua ilmu yang kita dapat di organisasi dan di kampus, mungkin kita hanya akan menambah daftar panjang orang-orang besar yang saya sebutkan sebelumnya tadi. Dimulai dari keluarga tempat kita berada saat ini untuk menimba ilmu dan pengalaman, untuk menjadi bekal membangun keluarga kita sendiri nantinya.

Elemen setelah keluarga adalah daerah tempat tinggal. Ikut sertakan daerah tempat tinggal kita ke dalam skenario cita-cita kita. Kita pernah dititipkan di kampus yang jauh dari tempat tinggal untuk menempa diri dan diharapkan dapat kembali untuk membangun daerah masing-masing.

Terakhir, jika kita mau mulai mencoba mengubah keadaan keluarga kita, daerah kita, niscaya akan kita temui kenyataan bahwa berawal dari diri kita sendiri lah semua perubahan yang mungkin terjadi. Jadi, memang perbaikan dan perubahan itu harus dilakukan secara paralel, bukan seri : menunggu yang satu selesai secara UTUH baru beranjak mengubah yang lain. Karena tidak akan ada habisnya jika melakukannya secara iteratif.

Ambil peran, lakukan perbaikan sekecil apa pun.

Ini sekedar apa pemikiran dan apa yang saya anggap benar. Semoga bisa menjadi renungan kita bersama. Wallahu a’lam.

keluarga kecil tapi "besar"😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s