Antara Ambisi dan Nurani


image from wwwdelivery.superstock.com

Jika aku berkata tentang semangat,maka aku tidak berkata tentang ambisi. Jika aku berkata tentang bergerak, maka aku juga berkata tentang melihat.

 

Aku banyak belajar dari banyak teman,tentang apa itu ambisi dan passion. Jika passion adalah panggilan jiwa,maka ambisi aku katakan sebagai pencerminan passion yang keliru — jika kita tidak mampu mengelolanya dengan baik.

 

Aku jadi teringat tentang cerita dua orang yang sedang berlomba lari. Keduanya sama-sama memiliki passion dalam berlari,bermarathon. Namun, bedanya adalah, salah seorang menjalaninya dengan ambisi, yang satu menjalaninya dengan hati. Sang ambisius berlari sekencang-kencangnya sejak pluit tanda mulai berbunyi panjang. Yang ada di kepalanya hanya lah garis finish dan start, yang ada di kepalanya hanya lah impiannya,cita-citanya,dan tentunya,ambisinya. Kepalanya dipenuhi semua itu hingga tidak ada ruang di pikirannya untuk hal lain,bahkan orang lain.

 

Sementara,pelari yang satu lagi menjalaninya dengan hati. Ia tetap punya semangat yang tinggi untuk menyelesaikan perlombaan dengan usaha maksimal yang bisa ia lakukan. Namun,ia tidak memenuhi kepalanya dengan ambisinya semata. Kalau boleh diibaratkan, keinginan untuk menjadi juara hanya ia genggam di tangan,tidak ia tanam di hati. Sehingga dia lah yang mengendalikan tujuannya itu,bukan sebaliknya.

 

Di tengah perjalanan, ternyata ada seorang pelari lain yang terjatuh dan kakinya terluka cukup parah. Lalu,bagaimana reaksi sang ambisius ketika melewati pelari itu? Ya,dia pun tidak lantas menolong. Matanya tetap nanar memandang jauh ke depan,tanpa sudi berpaling ke kanan dan ke kiri. Ia pun tetap memacu dirinya untuk bisa mencapai garis finish paling pertama. Lalu bagaimana dengan pelari satunya? Ya, ia tidak lantas meneruskan larinya ketika menemui pelari yang cedera tersebut. Dengan sigap,ia pun segera menghampiri pelari yang cedera,menanyakan kondisinya,melakukan pertolongan kecil untuk meringankan cederanya,lalu memapahnya hingga garis finish.

 

Ya, pada akhirnya sang ambisius memang juara. Ia berhenti setelah garis finish,terengah-engah parah,lalu sesaat kemudian tubuhnya ambruk,pingsan seketika,karena fisiknya sebenarnya tidak mampu menahan tekanan dari ambisinya.Sedangkan sang penolong,ia berada di urutan terakhir. Ia mungkin kalah, namun, bagi pelari yang cedera, dan bagi penonton yang lain, dialah pemenangnya.

 

Kisah ini seperti kisah nyata seorang calon anggota pecinta alam yang akhirnya dilantik karena ia meninggalkan rombongan ketika pelantikan demi menolong temannya yang terluka.

 

——

 

Hidup memang harus direncanakan. Hidup memang harus dipersiapkan. Hidup memang perlu tujuan, cita-cita, dan mimpi. Namun, jangan sampai semua itu mempengapi pikiran dan hati kita. Jangan sampai ambisi kuliah di luar negeri sampai merugikan orang lain karena tanggung jawab sebagai seorang pengurus organisasi dilupakan. Jangan sampai ambisi lulus cepat sampai mengacuhkan kesulitan teman saat mempersiapkan acara bakti sosial. Jangan sampai ambisi mendapat gelar mahasiswa terbaik sampai menghalalkan mencontek dan memplagiat tugas orang lain.

 

Buta hati, tumpul nurani, termakan ambisi.

 

Ketika kita mau melonggarkan sedikit tali ambisi di kepala kita, sehingga kepala kita mampu untuk menoleh tidak hanya ke depan saja, tapi juga mampu menoleh ke kanan dan ke kiri, maka kita akan melihat lingkungan kita secara lebih luas,lebih komprehensif. Kita akan lebih mudah mengambil hikmah dari tiap kejadian. Kita akan lebih mudah melihat ketidaknormalan di sekitar kita. Ketidaknyamanan yang dirasakan orang lain terhadap perilaku kita. Kekecewaan orang lain terhadap perkataan kita yang mungkin pedas. Dan diluar semua itu,penderitaan orang lain yang tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan tindakan kita.

 

Untuk apa?

 

Mengutip sabda Rasulullah, muslim yang paling baik adalah muslim yang paling banyak memberi manfaat bagi muslim lainnya. Silakan cari satu saja nama pahlawan yang berjasa karena memperjuangkan ambisi pribadinya. Silakan sebut satu tokoh besar yang dikenal karena kegigihannya mencapai ambisinya,tanpa memberi manfaat ke banyak manusia. Mengutip kata Ahmad Dahlan dalam Sang Pencerah, hidup ini pendek,terlalu berharga jika dijalani hanya untuk diri sendiri.

 

Berambisi lah sewajarnya, bertekad kuatlah. Tapi jangan pernah mau diperbudak ambisi. Seperti yang aku tulis tadi,kita mungkin tidak harus memperlambat langkah kita. Kita hanya harus membuka mata dan telinga lebar-lebar sehingga kita tahu betul kapan kita harus berhenti berlari mengejar garis finish,untuk sekedar menolong teman kita yang sedang kesulitan.

 

Meminjam penjabarannya Herry Nurdi, manusia modern kini memang semakin diperlelah oleh rutinitas,pekerjaan,kuliah,dan berbagai tekanan kehidupan. Sehingga,ketika ada kesempatan untuk berhenti sejenak,yang akan dilakukan adalah mencari hiburan,penyenang,merefresh kembali pikiran yang penat. Mencari hiburan dan liburan yang memuaskan batin.

 

Sangat wajar. Namun,menjadi tidak wajar adalah ketika,setiap kali stress mulai mendera,setiap itu pula dilampiaskan pada hiburan untuk menghilangkan penat. Dan itu terus terjadi berkali-kali. Sehingga,hati kita mati rasa. Kita sudah hampir tidak sempat merasakan penderitaan karena setiap kali penderitaan itu mulai hadir,kita lari mencari hiburan. Hati kita mati rasa terhadap penderitaan sehingga semakin tidak peka dengan penderitaan,penderitaan orang lain khususnya. Bukan berarti kita harus sengaja berkubang dalam penderitaan. Namun,kita sebisa mungkin harus menyeimbangkan semuanya,tidak hanya berkutat dengan stress dan pelariannya saja.

 

—-

 

Merenung sejenak tidak akan membuatmu gagal mencapai mimpi. Berpikir sejenak justru memastikan apakah jalan yang kau ambil sudah benar, apakah langkahmu terlalu cepat, atau terlalu lambat. Apakah sepanjang perjalanan tidak kau temui orang-orang yang menderita karena tertabrak olehmu? Jika ia,berhati-hatilah,karena sangat wajar jika dia lah yang berbalik menabrakmu suatu saat.

 

Pedulilah sebanyak mungkin,bantulah sebanyak mungkin temanmu yang terjatuh,karena jika kau nanti terjatuh,banyak tangan yang akan mengangkatmu untuk berdiri lagi.

 

–bekasi 17 Sept 2010

Originally posted : https://www.facebook.com/note.php?note_id=436130946742

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s