Mengeluh – Puzzle Series


Beberapa hari ini, seorang lelaki usia sekitar 25 tahun menjadi perhatianku acapkali pulang pergi kerja. Dia sering terlihat di pinggiran kawasan industri pulo gadung, tepatnya di perbatasan antara kawasan industri dengan jalan PAM Swadaya – tempat pengendara motor dan mobil biasa mengambil jalan pintas. Ia biasa bekerja menertibkan jalur sempit tersebut, agar tetap bisa dilalui oleh kendaraan dari dua arah. Ia pasang badan di tengah jalan, lalu memberi arahan bagi kami para pengendara untuk melewati depan dan belakangnya. Sederhana. Seperti polisi cepek lainnya.

from sodahead.com

Tapi hal ini menjadi tidak sederhana ketika aku perhatikan lebih dekat, di mana di bawah kedua tangannya, terselip dua buah tongkat penyangga. Berbahan logam. Dan ternyata, kedua tongkat itu menyangga tubuhnya yang tak lengkap, ia hanya memiliki satu kaki.

Halo? Apakah kita seringkali mengeluhkan pekerjaan kita? Lelah, penat, pusing karena pekerjaan di kantor yang menumpuk? Atau bahkan, pekerjaan kita, kita rasa kurang cocok dengan diri kita? Mengeluh, karena gaji dirasa kurang? Tidak sesuai dengan kemampuan atau tingkat pendidikan?

Rehatlah sejenak. Pikir kembali, betapa kita harusnya bersyukur. Kerja di kantor, di bawah ruang ber AC, gaji jauh dari cukup untuk makan sehari-hari, masih cukup untuk bensin, pulsa, dan lain-lain. Kerja di pabrik, di bawah atap, tidak perlu dipapar matahari jika terik, atau basah jika hujan. Kerja di tengah hutan, dijamin kesehatan dan keselamatannya, tidak perlu khawatir kekurangan biaya kalau misalnya kena celaka.

Sebelum memilih untuk menyesali pekerjaan kita saat ini, ada baiknya kita mengumpulkan sebanyak-banyaknya hal yg bisa disyukuri dari itu. Kita jauh lebih beruntung karena tanpa bekerja pun, kita lebih kaya dari pada sang lelaki itu yang hanya punya satu kaki. Mengeluh sebaiknya jadi pilihan terakhir, setelah bersyukur, memperhatikan sekitar, bersyukur lagi, dan berbuat. Meskipun secara materi pas-pasan, tapi secara nurani, kita harus kaya. Menurutku yang penting itu.

Soal kerjaan yang ‘nampak’ kurang enak? Mengutip kata sahabat,

Rumput tetangga emang selalu ‘nampak’ lebih hijau, cuy…

from imtiyaz-publisher.blogspot.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s