Negeri 5 Menara


Film ini diangkat dari novel Ahmad Fuadi, seorang novelis yang mengangkat pengalaman pribadinya ke dalam novel tersebut. Jujur, untuk sebuah pengalaman pribadi, cerita dalam novel ini cukup sulit untuk sekedar diterima oleh pembacanya. Namun, seperti itulah semangat yang ingin disampaikan dalam novel ini – yang akhirnya dengan sangat baik disampaikan juga lewat filmnya – yaitu semangat “Man Jadda, Wajada! : Siapa yang bersungguh-sungguh, niscaya akan berhasil!”.

***

Seorang anak bernama Alif, seorang anak Sumatera Barat, Padang Panjang, yang baru saja lulus SMP dan menemui persimpangan hidupnya. Ia bercita-cita ingin berkuliah di ITB dan untuk mencapainya, melanjutkan SMA di Bandung seakan menjadi harga mati untuknya. Namun, sang Ibu berkehendak lain. Ia diminta untuk melanjutkan sekolahnya di sebuah pondok pesantren di Jawa. Tentu saja hal ini menjadi sebuah pilihan yang sangat berat untuk Alif, sebuah persimpangan antara mimpinya dan permintaan dari Ibunya. Konflik batin seperti ini mungkin sama seperti yang dirasakan oleh banyak anak-anak yang memiliki cerita yang sama, karena pada pandangan umum, pesantren adalah harga mati untuk sebuah ketertutupan, kekakuan agama, dan jauh dari dunia luar. Sang Ayah pun mendukung permintaan ibunya. Ia rela menjual kerbau satu-satunya untuk membiayai anaknya tercinta ke pesantren.

Satu nasehat yang sangat baik menurut saya adalah ketika sang ayah berkata tentang jual beli kerbau yang ia lakukan di pasar,

“Apakah kau lihat ketika ayah menjabat tangan si pembeli di bawah sarung, dan melakukan tawar menawar harga kerbau? Seperti itulah hidup. Jabatlah saja dulu kehidupan, baru nanti kau akan tahu kebaikannya. Jangan hanya menilai dari luar saja.”

Sang ayah menasehati anaknya untuk menjalani dulu pilihan ibunya yang mungkin ia anggap buruk. Akhirnya, Alif memutuskan dengan berat hati untuk menuruti permintaan ibunya dan bersama sang ayah pergi merantau ke Jawa, ke sebuah pesantren bernama Madani.

Kehidupan di pesantren dibuka dengan proses di mana Alif bertemu dengan 5 orang temannya, Raja, Baso, Dulmajid, Atang, dan Said yang kesemuanya berasal dari daerah yang berbeda-beda. Hari pertama belajar di bangku pesantren adalah hal yang sangat tidak ia sangka. Sang Ustad masuk ke dalam kelas membawa sebilah pedang berkarat dan sebatang kayu. Tanpa basa-basi, sang Ustad mengeluarkan pedang itu dan menebas batang kayu itu berkali-kali. Pedang yang nampak berkarat dan tumpul itu seakan tidak mampu melukai batang kayu itu sedikit pun. Namun, sang Ustad terus dan terus menebas sampai akhirnya batang kayu itu pun terpotong. Tentunya dengan napas yang tersengal. Lalu, sang Ustad pun menyampaikan satu pesan yang menjadi nafas utama di film ini yaitu sebuah pepatah Arab: Man Jadda, wajada! Bukan yang paling tajam, tapi siapa yang bersungguh-sungguh, dia yang berhasil!. Pepatah itu pun digemakan oleh seluruh isi kelas dan menjadi semangat bagi 6 orang sahabat tersebut.

Kehidupan dan lika-liku di lingkungan pondok pesantren begitu apik diceritakan oleh sang penulis skenario. Saya yang pernah mengenyam pendidikan di pondok pesantren tentu sangat “mengikuti” setiap alur cerita yang disajikan. Dari mulai obrolan dan kenakalan santri, lekatnya persahabatan satu atap, ketatnya peraturan dan galaknya para Ustad, indahnya beraktivitas bersama sepanjang hari, serta berbagai hal yang hanya bisa ditemui di lingkungan pondok lainnya. Termasuk di dalamnya diselipkan cerita ketika Alif bertemu seorang gadis keponakan pimpinan pesantren yang membuatnya jatuh hati.

Beberapa plot cerita yang menarik untuk dibagi adalah tentang cerita utamanya, yaitu 6 orang sahabat yang sangat dekat. Mereka selalu bersama hampir di setiap saat. Dan satu tempat favorit mereka ialah di bawah menara pondok. Oleh sebab itu lah mereka menamakan diri mereka Sohibul Menara. Di bawah menara ini lah tercetus sebuah cita-cita dan janji mereka. Cita-cita mereka untuk menjelajahi dunia sejauh-jauhnya, menapaki tempat-tempat yang ada di benua lain. Mereka pun berjanji, suatu saat nanti, mereka akan mengumpulkan foto masing-masing di bawah menara yang mereka singgahi di tempat mereka berada nanti. Itulah asal nama negeri 5 menara. Cita-cita ini lahir dari sebuah paradigma baik yang disampaikan oleh sang pemimpin pesantren bahwa pondok pesantren itu bukan hanya sebuah sekolah agama, tapi pondok pesantren adalah sekolah kehidupan dengan pemikiran yang sangat terbuka, tidak hanya terbatas pada agama. Pesantren juga mengajarkan tentang ilmu pengetahuan dan sosial sehingga dapat diterapkan di masyarakat kelak.

Plot menarik lainnya adalah ketika salah satu dari Sohibul Menara, Baso, harus pergi meninggalkan pesantren. Ia harus merawat neneknya di kampung dan tidak bisa melanjutkan studi di pesantren. Sejak saat itu lah terjadi berbagai konflik. Alif yang memang sejak awal menjalani pesantren dengan setengah hati sempat memutuskan untuk keluar dan pindah ke Bandung, mengejar impiannya semula. Namun, ia menjatuhkan pilihan untuk tetap bertahan di pesantren dan mungkin keputusan itu lah yang menjadi keputusan yang paling berharga dalam hidupnya. Konflik batin seperti ini juga tak jarang dialami oleh santri-santri di kehidupan nyata.

Film ini ditutup dengan sebuah pertunjukkan teater yang dibuat oleh para Sohibul Menara bersama seluruh teman satu angkatannya. Mereka mempertunjukkan sebuah teater di depan massa pesantren dengan sangat baik. Sesaat sebelum film berakhir, plot cerita dibawa bertahun-tahun ke depan untuk menunjukkan kisah sukses setiap Sohibul Menara dengan cerita suksesnya masing-masing.

***

Dari segi sinematografi (alah, kaya yang ngerti), akting para pemain di film ini seperti sedang tidak berakting. Itu lah satu hal yang saya acungi banyak jempol. 6 orang pemeran utama dalam film ini seakan sudah kenal bertahun-tahun, benar-benar hidup di pesantren, dan seakan tidak sedang menjalani sebuah naskah skenario. Silakan buktikan dan bandingkan dengan film-film yang lain, yang mungkin dimainkan oleh aktor-aktor professional yang sudah terkenal.

Bagi saya seorang mantan santri pondok pesantren, Negeri 5 Menara bukan sekedar film. Negeri 5 Menara menjadi sebuah ringkasan pengalaman selama beberapa tahun di pagar pesantren yang hampir pasti dialami oleh setiap santri di Indonesia. Begitu banyak pesan moral dan inspirasi yang bisa didapat dari film ini, terutama tentang cita-cita dan mental baja yang pernah dibentuk di pondok pesantren, sebuah sekolah kehidupan, yang begitu besarnya sehingga saya merasa begitu malu jika tidak mengeluarkan usaha yang sama keras dengan mereka. Saya merasa begitu malu jika tujuan mulia sebuah pondok pesantren didirikan berakhir hanya sebagai ijazah dan cerita saja di tangan lulusan-lulusannya. Sebuah pepatah Arab YANG JUGA SELALU DIAJARKAN oleh salah satu guru saya, MAN JADDA WAJADA, bahkan tidak pernah luput dituliskan di setiap lembar ujiannya, adalah sebuah energi yang bisa membuat apa saja menjadi mungkin. Film ini membawa lulusan pondok pesantren kembali ke masa-masa indah di pondok serta me-refresh kembali mental pejuang yang ada di dalam diri. Sangat layak untuk ditonton. Sekian.

4 thoughts on “Negeri 5 Menara

  1. man jadda wajada.. ngedenger kata2 ini ada 2 hal yang langsung keinget sama gw , kertas ujian dan ringkasan materi kimia dari Bu Icus sama pertunjukan drama terakhir angkatan kita, Rampage!

  2. Quote yang ini yang paling membekas ke aku.
    “Apakah kau lihat ketika ayah menjabat tangan si pembeli di bawah sarung, dan melakukan tawar menawar harga kerbau? Seperti itulah hidup. Jabatlah saja dulu kehidupan, baru nanti kau akan tahu kebaikannya. Jangan hanya menilai dari luar saja.”
    Pada akhirnya, gak akan tau kalo gak dicoba.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s