Launching HSBC Young Entrepreneur Challenge


Hari Sabtu, tanggal 3 Maret 2012 lalu, saya menghadiri sebuah acara launching program kompetisi business plan yang diadakan oleh Bank HSBC. Tepatnya program Young Entrepreneur Challenge 2012. Entah dari mana panitia dapat alamat email saya, tapi tiba-tiba saya dan dua orang teman saya (tim Terasrafting) dikirimi undangan khusus melalui email untuk menghadiri acara ini. Jujur, free passage-nya cukup menggiurkan dan saat itu jadi motivasi utama kenapa saya akhirnya memutuskan untuk hadir😛 Ditambah lagi acaranya diadakan di Hotel The Dharmawangsa; bisa dibilang elit lah untuk jajaran hotel-hotel di ibu kota ini.

Selain karena gratisnya, sebenarnya saya juga cukup penasaran dengan salah satu pembicara yang akan mengisi acara itu. Namanya Goris Mustaqim. Saya beberapa kali pernah mendengar nama beliau, khususnya dari kerabat yang aktif di Asgar Muda; yayasan yang didirikan oleh Kang Goris ini. Awalnya, Bung Dani dan Jekim sebagai kolega di Terasrafting berencana untuk berangkat juga. Tapi karena berbenturan dengan keperluan, akhirnya hanya saya saja yang pergi mewakili Terasrafting. Menumpang bus menuju blok M dan lanjut menumpang bajaj, akhirnya sampai lah di The Darmawangsa.

Ya bisa dibilang jarang ke hotel atau memang udik, tapi menurut saya hotel ini much more beyond my expectation. Tamu-tamu yang terlihat juga bule-bule semua. Ya sudah lah, pasang tampang normal saja dan tanya sana sini untuk menuju Nusantara Ballroom. Awalnya saya mengira bahwa saya sudah sangat telat karena di jadwal tertulis acara di mulai jam 8. Saya tiba di lokasi sekitar jam 9 tapi justru acara bahkan belum mulai. Setelah registrasi dan icip-icip coffee break, ballroom dengan meja-meja bundar sudah menyambut bersama para peserta acara (sekitar 30 orang) yang berasal dari berbagai tempat. Rata-rata berumur 20-25 tahun (karena sebenarnya ditujukan buat mahasiswa). Setelah memilih meja, saya berkenalan dengan salah seorang peserta. Alumni ITB juga ternyata, angkatan 2001 Teknik Lingkungan. Saya bercerita tentang bisnis arung jeram yang sedang dirintis ini dan ternyata dia pun penggemar arung jeram. Beliau juga kenal beberapa anak KMPA, khususnya TL 2001.

Acara dimulai sekitar 09.30, dibuka oleh MC (artis kalau ga salah) dan sambutan dari perwakilan HSBC dan Kementerian Koperasi dan UKM. Lalu, acara berlanjut ke acara inti: talkshow dengan narasumber entrepreneur muda. Saya yakin bukan sebuah kebetulan bahwa dua orang narasumber pada sesi ini adalah alumni ITB. Goris Mustaqim alumni Sipil 2001, dan Ali Bagus Antra alumni Planologi 2001.

Kang Goris ialah pemuda kelahiran Garut, yang memang belum banyak saya dengar namanya. Namun, dari acara itu saya tahu bahwa beliau adalah seorang pemuda yang hebat dan layak dijadikan panutan. Dia adalah pendiri sebuah perusahaan penyedia RFID bernama PT Resultan Nusantara. Beliau juga pendiri yayasan Asgar Muda; sebuah yayasan yang menggerakkan pemuda-pemuda lokal Garut untuk membangkitkan daerah Garut di berbagai sisi. Beliau juga membentuk sebuah social enterprise, yaitu melakukan pengelolaan terhadap proses pengolahan akar wangi di Garut dengan mengkordinir petani-petani akar wangi di daerah Garut. Melalui Asgar Muda, beliau juga melakukan banyak pemberdayaan masyarakat lokal melalui berbagai cara, baik pendidikan, ekonomi, dan lain-lain. Kang Goris ini lah yang membuat saya sangat excited selama acara talkshow melihat begitu banyak hal yang sudah beliau lakukan untuk masyarakat. Saya berpikir, seperti inilah seharusnya seorang sarjana; dibentuk dengan sumbangsih masyarakat dan melakukan sesuatu untuk masyarakat. Saya salut dengan semangat yang ia bawa dan bagaimana mental dan ilmu yang dia dapat selama kuliah bisa ia pergunakan untuk memberikan manfaat untuk orang banyak. Titik tertinggi yang pernah ia capai ialah ketika mewakili Indonesia (bersama para entrepreneur lain seperti Sandiaga Uno, Ciputra, dll) pada acara The Presidential Summit on Entrepreneurship di US dan terpilih sebagai Asia’s Young Entrepreneur.

google image

Sedangkan Kang Ali adalah satu dari empat pendiri Bebek Garang (orang Bandung pasti tau restoran ini). Ia adalah satu dari dua orang yang tetap melanjutkan usaha ini sementara dua orang lainnya memilih untuk mundur. Kang Ali sebagai seorang sarjana planologi bercerita tentang bagaimana ia memutuskan untuk memulai bisnis. Ia mengatakan bahwa ilmu planologi, yang lekat dengan perencanaan kota, keputusan, dan sebagainya, akan sangat sulit untuk direalisasikan di Indonesia. Utamanya karena sulitnya birokrasi dan iklim politik yang kurang baik. Ia memutuskan untuk memilih bisnis kuliner bebek juga karena beberapa hal. Kuliner adalah bisnis yang memiliki cashflow harian sehingga lebih mudah dikontrol. Sementara, bebek adalah jenis kuliner yang belum banyak dijual dibandingkan ayam. Ia yang berlatar belakang teknik tentu harus menggaet koki yang handal untuk bisa menghasilkan sajian bebek yang unik. Dia memulai dengan gerobak dan saat ini sudah membuka 5 cabang di Bandung.

Ada beberapa hal utama yang didapat dari sesi ini. Antara lain adalah:

  1. Keputusan untuk memulai bisnis sebaiknya berasal dari dalam diri sendiri, panggilan hati. Karena, seorang lulusan universitas ternama khususnya, akan menghadapi banyak sekali tantangan ketika ia lebih memilih untuk memulai bisnis dari pada bekerja di perusahaan-perusahaan besar. Mental dan motivasi yang kuat itu yang akan membuat seseorang bertahan ketika mendapat respon yang negatif dari orang ataupun ketika membandingkan kondisi yang masih bersusah payah dengan kondisi teman yang sudah dengan mudah mendapat uang.
  2. Dalam memulai bisnis, business plan bisa dibilang sebagai salah satu kunci utama setelah jaringan dan kemampuan interpersonal (komunikasi, negosiasi, dll). Untuk jaringan dan kemampuan interpersonal ini sudah pasti merupakan harga mati dan saya sudah sering mendengarnya. Namun, pada acara ini, saya baru paham begitu pentingnya membuat business plan yang baik, dipikirkan secara matang, dan dapat dipahami oleh orang lain. Kenapa? Secara detail tentang business plan ini dibahas pada sesi kedua sebenarnya. Tapi, poin inti pada sesi ini adalah bahwa dengan business plan, kita bisa mencari bantuan dari ANGEL INVESTOR (istilah yang baru saya dengar kemarin). Angel Investor ialah orang yang mau menginvestasikan modalnya pada kita, namun tujuan utamanya ialah untuk membantu bukan semata komersil (less commercial, more social), tidak seperti bank atau rentenir. Business plan yang baik membuka jalan untuk mendapat modal dari Angel Investor ini. Kang Goris dan Kang Ali keduanya memulai bisnis hampir tanpa dana dari kocek sendiri. Mereka mencari angel investor yang mau mendanai bisnis mereka, tentunya tetap dengan perjanjian bagi hasil, tapi lebih fleksibel.
  3. Memilih jalan entrepreneurship, ide dan kreativitas sangat penting. Sharing ilmu dan bantuan dari mentor juga tidak kalah penting. Dan komunitas-komunitas yang menyediakan hal ini sudah sangat banyak. Baik di Jakarta, di Bandung, dan tempat lain. Keterlibatan seorang pebisnis baru dalam wadah seperti ini sangat dibutuhkan.

***
Di samping semua ilmu yang saya dapatkan hari ini, apalagi ditambah sesi 2 yang fokus membahas bagaimana menyusun business plan yang baik (pembicaranya alumni ITB juga), semangat yang ditularkan dan inspirasi yang diberikan jauh lebih besar artinya bagi saya. Ketika banyak orang mengagung-agungkan entrepreneurship dari sisi ekonomi dan materilnya saja, kedua pembicara tadi TIDAK SEDIKIT PUN membahas tentang kelebihan berbisnis dari sisi materi. Mereka berdua hanya menunjukkan karakter mereka masing-masing, apa adanya, sederhana, dan penuh hasrat. Tidak muluk-muluk membahas kondisi-kondisi utopis yang kadang bisa membuat orang mau yang instan saja, langsung sukses, tidak mau berpayah-payah berusaha. Dan satu lagi pesan Kang Goris yang saya sangat ingat,

Sekarang ini yang diperlukan bukan para pebisnis yang memilih untuk berbisnis karena kepepet atau karena orang tuanya kaya raya. Tapi, sekarang ini dibutuhkan entrepreneur-entrepreneur lulusan perguruan tinggi yang hebat dan cerdas, dan memilih berbisnis karena mengikuti panggilan hati, bukan karena kepepet.

Semoga semangat ini tidak berhenti hanya di sini saja. Semoga impian kita bisa jauh melebihi apa yang kita capai saat ini. Aamiin.

5 thoughts on “Launching HSBC Young Entrepreneur Challenge

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s