Antara Jalan Abimanyu, Indomaret, dan Tipu Muslihat


Kali ini bercerita tentang sebuah pengalaman yang sangat sangat unik sekali, dan kalau mau direnungi sejenak, hikmahnya ternyata cukup dalam.

***

Hari itu saya dapat kabar duka dari seorang teman. Ayahnya meninggal. SMS dari beliau saya terima pagi sebelum berangkat ke kantor, tapi karena dikira tidak terlalu urgent, jadi baru saya buka sesampainya di kantor. Saya pun meniatkan sore harinya, selepas ngantor, meluncur ke daerah Jatikramat, Jatiasih, tempat teman saya tersebut.

Yang mau diceritakan bukan tentang berita ini, tapi tentang perjalanan saya sore itu menuju ke rumah duka. Bermodalkan google maps, saya masukkan alamat yang dimaksud, lebih tepatnya nama jalan dan daerah. Lalu muncullah sebuah titik referensi di google maps yang menunjukkan jalan Abimanyu, di daerah Jatiasih, sesuai dengan alamat yang diberi. Selepas jam kantor, saya pun bergegas berangkat melalui jalur pulang seperti biasanya, karena alhamdulillah tempat yang akan dituju ada di arah yang sama dengan rumah. Sesuai dengan hasil pencarian di google maps, saya pun mulai memperlambat laju motor di sekitar daerah yg dimaksud. Saya sempat bertanya pada seorang tukang ojek, “Pak, jalan Abimanyu sebelah mana ya?” Lalu si bapak tukang ojek menjawab dengan jawaban positif, “Wah, masuk aja Mas dari sini, terus ke dalem nanti ikutin motor yang depan”

Menerima ancer-ancer positif, saya pun dengan yakin melanjutkan sesuai dengan arahan si bapak. Saat itu belum ada kecurigaan sedikit pun tentang suatu hal unik yang bakal terjadi.

Sampai di pertengahan kompleks, nama-nama jalan yang ada di situ pun sudah menunjukkan tanda-tanda positif: nama-nama tokoh pewayangan. Saya hanya berbekal sebuah alamat Jl. Abimanyu 5, blok U/239, Jatikramat, Jatiasih. Maka saya pun mencoba menanyakan lebih tepatnya jalan tersebut. Ada sekitar 2 kali saya bertanya pada penduduk, di mana jalan Abimanyu ini. Dan akhirnya, saya pun sampai di sebuah daerah di mana ada beberapa jalan Abimanyu di situ.

Keunikan mulai terjadi di sini.

Dari beberapa warga kompleks yang saya tanya, mereka tidak tahu bahwa ada jalan Abimanyu 5. Mereka hanya tahu kalau jalan Abimanyu cuma sampai 4. Ditambah lagi, mereka hari itu tidak tahu menahu tentang kabar ada warga yang meninggal. Begitu pun ketika saya tanyakan nama almarhum, tidak ada yang tahu.

Saat itu, yang ada di kepala saya hanya satu prasangka:

Waw, di daerah sini, kekeluargaan antar warganya jelek banget ya. Masa ada orang meninggal di sekitar kompleksnya, ga ada satu pun yang tau? Masa ga ada yang ikut bantuin ngurus? Masa segitu individualisnya warga-warga sini?

Saya pun akhirnya memutuskan untuk berhenti sejenak di mushola. Kebetulan belum sholat maghrib. Saya lanjutkan pencarian setelah itu. Sayangnya, teman saya yg ingin saya kunjungi ini tidak bisa ditelpon. Entah kenapa. Akhirnya saya coba menghubungi teman-teman yang tadi siang sudah sempat melayat ke sana.

Keunikan kedua terjadi di sini.

Saya bertanya pada beberapa teman. Mereka mengatakan bahwa rumahnya tidak jauh dari Indomaret. Setelah Indomaret, belok kiri dan di situ ada bendera kuning, tanda rumah duka. Dan benar saja, memang di daerah tempat saya berada, ada sebuah Indomaret. Dan di situ memang ada jalan Abimanyu. Saya sangat yakin bahwa rumahnya sudah dekat, ada di daerah situ. Maka, saya pun bersikeras berputar-putar kompleks, bahkan sampai ke kampung, tapi nihil. Tetap tidak ada jalan Abimanyu 5, dan tidak ada yang meninggal kata warga.

Dalam kebingungan, saya pun berhenti lagi di sebuah masjid. Sudah masuk Isya. Lagipula, siapa tahu orang masjid ada yang tahu. Dalam kekesalan itu, saya mencoba menekan tombol “Pause” dulu, sholat dulu. Dan biasanya, memang paling manjur metode ini kalau lagi ada masalah.

Di depan masjid, saya mencoba bertanya pada salah seorang jamaah sambil bersiap-siap wudhu. Ternyata dia lebih buta daerah lagi, karena ketika saya tanya jalan Abimanyu, dia tidak tahu sama sekali. Ternyata dari daerah seberang. Ketika ditanya ada yang meninggal, dia pun tidak tahu. Saya pun tidak banyak berharap.

Tapi, kemudian dia bertanya lagi, “Mas, emangnya di kompleks apa rumahnya?” Lalu saya jawab, “Kompleksnya kurang tahu Pak, pokoknya di daerah Jatikramat” Lalu sang bapak jamaah menjawab, “Waaah, Mas, di sini belum masuk Jatikramat. Di sini masih Jatiasih. Kalau Jatikramat, dari sini masih jauh lagi, ke arah Pondok Gede.”

Yap! Dan seketika, semua kekesalan, prasangka, dan kebingungan buyar sudah. Saya seperti mencari Kota Bandung di Pulau Sumatera. Sampai kapan pun ga akan ketemu. Saya pun tersenyum sendiri. Dalam hati, betapa bodohnya saya ini. Betapa keras kepalanya. Terlalu percaya pada kemampuan dan pengetahuan diri sendiri. Sampai-sampai ga mau membuka pikiran sedikit lebih luas, supaya duduk permasalahan sebenarnya bisa terlihat.

Saya tersenyum, bahkan sampai tertawa sendiri. Betapa kita bisa dengan mudah ditipu lingkungan tempat kita berada. Begitu cocoknya semua gambaran yang saya dapat dari teman di telepon tadi. Betapa kita mudahnya dibodohi oleh pikiran sendiri. Mungkin kehidupan dunia pun seperti ini, begitu banyak hal-hal yang kita anggap benar tapi ternyata sudah salah dari akarnya. Begitu juga ilmu kita, begitu banyak ilmu dan pemahaman yang kita anggap benar, tapi justru menipu. Selama kita menutup diri dari pengetahuan yang lebih luas, yang ada cuma lelah berputar-putar pada kesalahan. Selama yang diandalkan cuma yang nyata terlihat saja, kita sangat mungkin tertipu dan tersesat.

Dan, satu lagi hikmahnya.

Terlalu banyak Indomaret, Alfamart, dan sejenisnya, ternyata bisa membahayakan juga, bisa bikin orang salah alamat😀

si indomaret

4 thoughts on “Antara Jalan Abimanyu, Indomaret, dan Tipu Muslihat

  1. pagii mas.. saya alvin . mau tanya untuk kompetisi HSBC young entrepreneur challenge 2012. mungkin waktu launching dulu mas dapat informasi mengenai proposal business plan nya itu di ketik dalam bahasa indonesia atau bahasa inggris? apa boleh dalam bahasa indonesia. terima kasih ya mas

  2. pagi… salam kenal Alvin. Waktu launching kemarin, ga dijelasin harus pakai bhsa inggris ato ga. tp mungkin detail info nya bisa dilihat di webnya asiayechallenge.com atau langsung email aja ke id@asiayechallenge.com
    mungkin bisa ditanyakan lewat situ😀

    mudah2an membantu ya. sukses…

  3. Sir,, sir,,, aku juga waktu sama handra dan ijul cukup berkali-kali turun dari mobil dan nanya daerah jatikramat, sambil telpon2an sama ikhwan… Kan gps ( gunakan penduduk sekitar ) sir,,, hehehe….

  4. hahaha… tapi GPS itu emang paling manjur buat di kota, cul.. klo GPS yg asli baru manjur buat di gunung :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s