Mandor, Pekerja, dan Batu Kerikil


dari myconstructionphotos.smugmug.com

Di sebuah proyek pembangunan gedung bertingkat, salah seorang pekerja terlihat sedang melakukan pekerjaannya di bagian pondasi gedung tersebut. Suasana saat itu sangat bising. Ada yang menghancurkan beton dengan palu godam, ada yang mengebor, ada yang memasang paku, dan banyak lagi.

Sang mandor yang berada di lantai dua gedung yang setengah jadi tersebut suatu ketika ingin menyampaikan sesuatu kepada si pekerja tadi. Ia pun berteriak-teriak, memanggil si pekerja dengan suara sekencang-kencangnya. Tapi, kebisingan di lantai dasar itu benar-benar mematikan suara sang mandor.  Tidak mungkin lagi memanggil dengan suaranya.

Sang mandor pun memutar otak. Ia merogoh kantong celananya dan menemukan sebuah uang logam seribu rupiah. Ia pun punya ide untuk menarik perhatian si pekerja dengan melemparkan uang logam tersebut. Hup! Uang itu ia lempar, mengenai lengan si pekerja, lalu jatuh ke tanah. Si pekerja pun sadar ada sesuatu yang mengenai dirinya dan ia pun melihat koin tadi di atas tanah.

Namun, bukannya mencari dari mana datangnya koin itu, si pekerja justru kegirangan dan malah mengambil koin itu lalu memasukkan ke kantongnya.

“Lumayaaan… Buat beli minum!”, begitu kurang lebih gumamnya. Tanpa berpikir lebih jauh, si pekerja pun lalu meneruskan pekerjaannya.

Sang mandor yang berada di lantai atas kesal. Ia pun lalu memutar otak lagi dan mendapat sebuah ide lagi. Ia lalu mengambil sebuah batu kerikil lalu melempar batu itu tepat ke atas helm yang sedang dikenakan si pekerja.

Sontak si pekerja kaget. Ia lalu secara refleks memegangi kepalanya dan lalu menoleh ke atas. Setelah menyadari sang mandor yang melempar batu itu untuk memanggilnya, baru lah si pekerja menyahut dan segera menuju lantai dua ke tempat bosnya itu.

***

Allah juga mungkin seperti itu. Ia mencoba meminta perhatian kita dengan memberikan sebuah rezeki atau ni’mat seperti uang logam tadi. Namun, bukannya memenuhi panggilan Allah, kita malah kegirangan dan lupa diri. Maka, tidak heran jika lantas Ia meminta perhatian kita bukan dengan ni’mat lagi tapi dengan teguran berupa musibah, cobaan, atau apa pun yang tidak menyenangkan seperti batu yang dilempar tadi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s