Ujian Kemudahan


dari google images

Sedikit tulisan di malam hari, sebelum tidur, setelah tiba-tiba mendapat satu ilham yang akan signifikan mengubah pola berpikir.

Yasir itu artinya mudah. Secara sekilas jelas bahwa mamah dan papah menginginkan anaknya ini mendapatkan banyak kemudahan dalam menjalani hidupnya.

Ya, alhamdulillah – dan semoga tidak dianggap sombong – doa itu terkabul. Entah hanya penilaian subjektif saja atau tidak, tapi saya merasa menjalani kehidupan hingga tahun ke 22 ini begitu mudah. Dengan berbagai potensi, kemampuan, fasilitas yang ada, seakan semua tahapan-tahapan hidup yang sudah dijalani begitu mulus. Hampir tidak ada kesempatan di mana saya merasa begitu benar-benar kesusahan. Mungkin bisa jadi perasaan tersebut muncul dari dalam diri, seperti menghadapi hal-hal sulit pun dibawa enteng, atau memang benar-benar dimudahkan semua-muanya, tidak tahu lah. Intinya, saya harus banyak-banyak bersyukur dengan kehidupan yang begitu banyak kemudahan dan kelebihan ini.

Lalu, di satu sisi, timbul sebuah rasa khawatir. Kenapa? Karena, tidak ada kesulitan yang berarti membuat saya merasa kalau belum diberi ujian dari Allah. Padahal, setiap orang itu pasti diberi ujiannya masing-masing untuk bisa sampai ke jenjang lebih tinggi. Lalu, kalau tanpa ujian, berarti belum pantas untuk diuji dan belum pantas naik tingkat. Pemikiran seperti ini mungkin akan lebih tegas ketika mengetahui banyak orang-orang yang saya kagumi yang berawal dari kondisi yang serba sulit, yang dengan perjuangannya akhirnya bisa mencapai kondisinya saat ini yang jauh lebih baik. Coba saja kita sebut orang-orang yang menurut kita hebat. Dahlan Iskan misalnya yang lagi terkenal, Jokowi pun begitu. Dan masih banyak lagi.

Tapi ternyata, pemikiran ini SANGAT salah dan berbahaya. Pola pikir seperti ini bisa membuat tidak bersyukur. Udah bagus dikasih kehidupan yang serba baik malah ‘menantang’ Allah untuk memberi kesusahan.

Lalu, di mana ujiannya? Ujiannya justru berada pada KEMUDAHAN, KETERCUKUPAN, KELEBIHAN, dan hal-hal baik lainnya. Justru, itu lah ujian terberat menurut saya. Bisa kita daftar juga orang-orang yang hancur, atau sempat hancur, justru karena kondisinya yang di atas angin: serba mudah dan berlebih. Padahal, boleh jadi orang-orang tersebut adalah orang yang baik. Tsa’labah misalnya. Ia awalnya begitu miskin dan taat ibadahnya. Begitu didoakan oleh Rasulullah dan menjadi kaya raya, ia lantas menjadi sombong dan kikir. Selain itu, masih banyak lagi contohnya.

Rasa nyaman dan kemudahan itu seperti pedang bermata dua. Bisa memberi manfaat, tapi juga bisa menjadi malapetaka. Ya, justru itu lah ujian terberat menurut saya. Ketika seseorang sedang kesulitan lalu mengingat Tuhannya, sudah biasa. Tapi ketika seseorang sedang mendapat keberlimpahan, jarang sekali mengingat Tuhannya. Terlenakan.

Ujiannya terletak pada berlimpahnya sumber daya, baik materi, fisik, kecerdasan, waktu, relasi, kemudahan, atau fasilitas, termasuk teknologi. Dengan semua yang sudah diberi itu, akan digunakan untuk hal-hal baik atau justru menjadi bumbu-bumbu, atau bahkan sebuah jalan kepada kejelekan. Ujiannya adalah, seberapa besar kita bisa memanfaatkan segala kemudahan dan kelebihan yang kita miliki untuk hal yang baik, bukan lantas menjadi hancur justru karenanya? Apakah kita terlenakan? Apakah kondisi serba berlimpah yang kita rasa benar-benar sebuah ‘hadiah’ atau justru ‘soal ujian’? – sebuah oto kritik –

Semoga kita selamat dari ujian ‘kemudahan’ ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s