Beberapa Pelajaran Kecil (1)


Sekedar ingin berbagi beberapa pelajaran yang saya dapat dari kegiatan sehari-harri. Mungkin bisa bermanfaat.

***

Saya pengendara motor. Dan salah satu yang paling dihindari seorang pengendara ialah lampu merah; komando untuk berhenti. Kenapa? Karena pasti harus antri dulu dan terjadilah kemacetan lokal/sesaat di lampu merah itu.

Tapi setelah diperhatikan, menjelang antri lampu merah, kita seharusnya lebih senang ketika antrian di lampu merah itu semakin panjang. Kenapa begitu? Karena, antrian yang panjang salah satunya menandakan kalau lampu merahnya sudah cukup lama. Dan, kalau sudah cukup lama, kita cukup menunggu/antri beberapa saat saja sebelum lampunya menyala hijau.

Tidak jauh berbeda dengan pepatah, “semakin gelap malam, semakin mendekati fajar”. Pelajarannya, justru ketika kondisinya sudah semakin buruk menurut kita, mungkin saja beberapa saat lagi akan datang kebaikan yang ditunggu-tunggu.

***

Saya tinggal di rumah bersama adik perempuan dan kedua orang tua. Interaksi saya dan adik saya cukup unik, terutama ketika makan😀

Ada satu pelajaran kecil. Waktu itu kami berdua sedang makan. Namun, hanya saya yang sudah menyiapkan gelas berisi air minum. Air itu sempat saya minum di sela-sela makan dan menyisakan kira-kira dua teguk.

Lalu, adik saya sudah selesai lebih dulu. Ia pun meminta air minum saya, karena memang dia tidak menyiapkannya sebelum makan. Lalu saya berpikir, saat itu saya juga sedang ingin minum. Saya bisa saja menghabiskan air itu. Tapi saya berikan saja lah.

Adik saya pun menghabiskan air minum itu. Tapi tidak selesai di situ saja. Setelah habis, ia pergi ke dapur membawa gelas kosong itu, lalu mengisinya kembali sampai penuh dan memberikannya kembali pada saya.

Kalau saja saya habiskan air itu tadi, mungkin hanya dua teguk air yang saya minum. Tapi memberikannya pada adik saya, justru air minum saya kembali penuh.

***

Saya setiap hari pulang pergi ke kantor dengan sepeda motor. Di Jakarta, jangan ditanya gimana “nikmat” pulang pergi kantor dengan kendaraan pribadi.

Macet pasti, karena pada saat yang bersamaan, mungkin sampai ribuan -mungkin ratusan ribu- kendaraan yang menuju pusat kota. Dan teman setia kemacetan pasti lah polusi dan asap kendaraan. Kedua hal itu ditambah dengan berlomba-lomba untuk tidak terlambat, menghasilkan sesuatu: emosi. Minimal, bunyi klakson yang bersahutan. Agak parah, mulai salib-salib sembarangan dan memaki. Buruk-buruknya, tabrakan.

Tapi, alih-alih stres dan emosi, saya alhamdulillah bisa memilih untuk menikmati perjalanan dengan motor kreditan ini. Memang pada dasarnya hobi bermotor ria dan selama kuliah, lintas kota pakai motor udah jadi hal lumrah. Menghajar macet pun sudah biasa, bahkan di jalur nagrek yang punya kecuraman dan kendaraan saingannya truk-truk raksasa. Mood pun didongkrak dengan musik. Sekali dua, mengetuk-ngetuk stang untuk menikmati lagu.

Hasilnya, saya justru senang saat klakson menyahut-nyahut. Yang terbayang adalah kelompok marching band yang sedang cek sound. Ketika lampu hijau dan motor-motor melaju bersamaan bak kesetanan, saya justru berteriak “serbuuu!!!”. Ketika pinggiran jalan protokol dipenuhi joki 3in1 yang berbaris sambil melambai-lambaikan tangan, yang saya ingin lakukan hanya satu: “give them all my high five, like a rock star”.

Dan dengan begitu, saya menikmati setiap perjalanan itu. Meski kadang fisik pun menggeliat tidak bisa dibohongi. Tapi setidaknya pikiran saya bisa dikendalikan. Dan yang paling penting, yang mengendalikan perjalanan itu masih logika dan hati. Bukan emosi. Sehingga, saya akan selalu berhenti jika ada pengendara yang mengalami kecelakaan. Meski kadang hanya saya seorang yang membantu, karena mungkin yang lain takut terlambat, masa bodoh. Saya sudah pernah beberapa kali jatuh dari motor dan selalu ada yang menolong. Meskipun ini di Jakarta, saya tidak mau kebaikan orang-orang Bandung itu putus hanya karena saya sudah tidak di sana.

***

Bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s