[Tarawih #4] Shaum dan Kesehatan Mental


Tarawih ketiga alhamdulillah ada ilmu baru lagi. Masih di tempat yang sama, tapi dengan kondisi yang agak beda: pulang kantor. Penceramahnya masih relatif muda. Bahasannya tentang Shaum dan Kesehatan Mental.

***

Kondisi dunia belakangan ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan dalam mental kebanyakan manusia. Berbagai kasus psikopatik dan aksi nekat orang-orang yang menderita stress, menunjukkan suatu tren bahwa manusia semakin mudah mengalami gangguan kejiwaan.

Di tengah fenomena ini, pernah dilakukan sebuah riset yang mencoba menterapi beberapa pasien kejiwaan dengan cara puasa selama 30 hari. Dan hasil yang mencengangkan ditunjukkan oleh para penderita. Mereka tidak hanya membaik, bahkan ada yang sembuh sama sekali.

Hal ini menunjukkan bahwa puasa, atau shaum, jika dilakukan dengan benar, tidak hanya bisa menjaga kesehatan fisik seperti yang sudah sama-sama diketahui. Shaum juga bisa menjaga kesehatan mental. Setidaknya, ada 5 hal dari ibadah shaum yang berdampak cukup signifikan terhadap mental umat muslim.

  1. Melatih kesabaran
  2. Puasa melatih kita untuk bersabar. Ketika makanan sudah tersaji di depan mata tapi hanya kurang 1 menit saja dari azan maghrib, maka kita akan menahan diri untuk tidak memakannya. Pengendalian diri terhadap nafsu, baik terhadap makan minum maupun syahwat, merupakan salah satu aspek kesehatan mental. Ketika seseorang mampu mengendalikan nafsunya, maka kita bisa mengatakan bahwa mentalnya sangat sehat. Dan sebaliknya.

  3. Melatih kejujuran
  4. Puasa melatih kejujuran dengan cara membuat hanya kita dan Allah saja yang tahu apakah kita menjaga puasa kita atau justru membatalkannya. Ketika di terik siang hanya ada kita yang sedang puasa dan segelas air dingin, kita dilatih untuk jujur dan tidak meminumnya. Meskipun tidak ada satu pun yang melihat. Ibadah ini dirancang sedemikian rupa sehingga kejujuran menjadi salah satu pokok yang diasah. Mental yang jujur jelas adalah mental yang sehat.

  5. Melatih ketaatan
  6. Puasa melatih ketaatan kita dengan membenturkan antara keinginan dan perintah dari Allah. Keinginan kita ialah makan minum seenaknya, tapi perintah Allah untuk menjaga. Di sini dituntut ketaatan terhadap sebuah peraturan. Orang yang memiliki gangguan kejiwaan seringkali tidak peduli dan tidak bisa menaati peraturan.

  7. Melatih jiwa berbagi
  8. Dalam kondisi berpuasa, khususnya Ramadhan, kita dianjurkan untuk banyak-banyak berbagi. Merelakan sebagian milik kita untuk dinikmati oleh orang lain. Hal ini jelas melatih mental untuk meredam nafsu menguasai dan mengajak untuk peduli terhadap kondisi orang lain.

  9. Memohon ampun di saat fajar
  10. Di bulan Ramadhan khususnya, bangun sebelum fajar menjadi sebuah kebiasaan yang dilakukan selama satu bulan. Pada waktu ini lah kita juga dianjurkan untuk memohonkan ampun kepada Allah. Entah korelasi secara detailnya seperti apa, namun hal ini pun menjadi terapi yang baik untuk mental yang agak terganggu.

***

Begitu hebat sebuah ibadah shaum dirancang sehingga tidak hanya berdampak pada fisik tapi juga pada psikis. Namun, benarkah hal itu sudah kita rasakan? Apa dengan shaum, kita sudah menjadi orang yang lebih sabar, jujur, taat, suka berbagi, dan selalu memohon ampun?

Jika belum, mungkin saja belum benar shaum kita, sehingga seburuk-buruknya hanya lapar dan haus yang diterima.

Wallahu a’lam bishshowab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s