[Tarawih #10] Membangun Islam dengan 5 Kekuatan


Tarawih ke 10 dibuka dengan sebuah ayat yang sudah sangat masyhur, sebuah penekanan tentang hakikat manusia – terlepas dari apapun agama atau keyakinannya – yang pernah membuat sebuah kesaksian tentang ketuhanan Allah. Ayatnya sebagai berikut:

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”,

Nilai dasar dalam ayat ini ialah bahwa setiap manusia sudah ditanamkan ketauhidan dalam dirinya. Maka memang benar bahwa setiap bayi terlahir dalam fithrah. Hanya saja ada yang dilahirkan sebagai muslim, nasrani, yahudi, dll. Tauhid inilah yang menjadi dasar dari semua ketaqwaan, ibadah, dan akhlak setiap muslim. Oleh karenanya, pengajaran tentang tauhid harus didahulukan di atas pengajaran mengenai fiqih dan akhlak.

Ada 5 hal yang harus dibangun untuk menuju sebuah masyarakat tauhid yang kuat. 5 hal tersebut ialah:

1. Quwwatul aqidah

Membangun kekuatan aqidah adalah hal paling penting yang harus pertama kali dilakukan. Mengapa aqidah menjadi dasar dari semuanya? Tanpa aqidah yang kuat maka tidak ada semangat dalam menjalankan ibadah. Tanpa ibadah yang baik, maka tidak akan terbentuk akhlak yang baik. Maka, ketika aqidah sudah kokoh, maka ibadah dan akhlak akan ikut menjadi baik. Ramadhan sebagai momen yang sangat tepat untuk kembali merenungkan dan memperkokoh aqidah kita, setelah sebelas bulan sebelumnya disibukkan dengan hal-hal duniawi.

Aqidah pada zaman ini ibarat calon pemilih yang jadi incaran banyak calon walikota. Begitu banyak pihak yang mencoba mempengaruhi. Sehingga, akidah yang kokoh, yang berakar kuat pada satu aqidah yang benar, menjadi modal yang sangat penting untuk menghadapi zaman. Di sisi lain, pengajaran tentang aqidah seakan semakin disampingkan, tergeser oleh ilmu-ilmu formal, bahkan oleh ilmu agama sendiri yang lebih bersifat ketatacaraan. Pendidikan aqidah selayaknya ditanamkan sejak dini, oleh orang tua di rumah masing-masing. Mengakrabkan anak dengan elemen Tuhan di setiap aktivitas hariannya. Mendekatkan interaksi tidak hanya dengan sesama manusia, tapi juga dengan Sang Pencipta.

2. Quwwatul ibadah

Membangun kekuatan ibadah ialah langkah kedua setelah kekuatan aqidah dibangun. Ibadah ialah manifestasi konkret dari aqidah. Ketika aqidah tempatnya di hati, maka ibadah ialah perbuatan yang menjadi cerminan hati. Memperkokoh ibadah ialah menjadikan ibadah tidak hanya sebagai rutinitas dan ritual semata. Serangkaian gerakan dan bacaan yang sudah di luar kepala, yang akhirnya dilaksanakan tanpa nyawa. Bahkan, dikerjakan di waktu dan tenaga sisa.

Ibadah juga tidak terbatas pada gerakan dan bacaan saja. Setiap aktivitas baik bisa menjadi ibadah selama diniatkan begitu. Ibadah dibagi menjadi 2 yaitu ibadah mahdoh yaitu ibadah yang ketentuannya sudah jelas, seperti solat, zakat, dan puasa, dan yang kedua ialah ibadah ghoir mahdoh yaitu ibadah yang tidak ditentukan tata caranya, seperti bekerja mencari nafkah, membuang sampah di tempatnya, dll.

3. Quwwatul ukhuwah

Kesatuan ukhuwah menjadi daftar selanjutnya dari hal yang harus dikuatkan. Ketika terjadi perselisihan antara kelompok-kelompok muslim, maka ukhuwah telah terganggu. Celah ini lah yang digunakan oleh pihak-pihak yang membenci Islam untuk menghancurkan Islam.

4. Quwwatuts Tsaqofah

Selanjutnya ialah membangun kekuatan peradaban atau budaya. Peradaban ialah produk dari sebuah masyarakat yang memiliki sistem nilai dan sistem perilaku tertentu. Maka peradaban yang baik hanya dapat dilahirkan dari masyarakat yang baik. Salah satu caranya ialah dengan mengembalikan semuanya kepada Al-Qur’an, di mana seluruh sistem nilai, etika, dan tata cara dalam kehidupan yang baik diatur dengan apik.

5. Quwwatul Iqtishodiah

Yang kelima ialah kekokohan perekonomian. Sebuah sistem masyarakat yang memiliki peradaban yang luhur, harus didukung dengan sistem perekonomian yang kokoh. Uang memang segalanya, tapi kita tidak bisa melakukan segalanya tanpa uang.  Perekonomian yang kokoh ialah perekonomian yang mampu mengangkat semua elemen masyarakatnya, tidak hanya kalangan orang-orang konglomerat saja. Yang terjadi di Indonesia sekarang, daya beli sebagian kecil masyarakat berkali-kali lipat dari sebagian masyarakat lain yang berada jauh di bawah garis kemiskinan. Maka menjadi suatu hal yang aneh ketika Indonesia disebut-sebut sebagai negara miskin, namun mobil-mobil mewah semakin banyak berkeliaran di jalanan. Disebut miskin tapi gadget dan barang mewah lainnya bak kacang goreng, laku terjual. Tapi di sisi kota lain, justru semakin banyak orang yang harus tinggal di kolong jembatan. Bahkan tidak sedikit yang harus berpindah-pindah bersama gerobaknya karena gerobak lah satu-satunya barang mewah yang mereka punya. Indonesia tidak miskin, justru sangat kaya. Namun ketidakrataan lah yang menjadikannya miring sebelah. Dengan membangun ekonomi yang kokoh, kebutuhan dasar manusia sudah terpenuhi dengan baik, sehingga dapat lebih fokus dalam beribadah dan beragama.

Wallahu a’lam bishshowab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s