[Tarawih #11] Cerita Si Belang, Si Botak, dan Si Buta


Tarawih ke-11 berisi sebuah cerita yang mungkin beberapa dari kita sudah sering mendengarnya. Tapi, biar begitu, pesan dan hikmahnya tetap kental dan sangat perlu untuk diingat kembali.

***

Alkisah, di jazirah Arab, pernah hidup tiga orang yang memiliki kekurangan fisik masing-masing. Di samping itu, mereka juga miskin dan dijauhi oleh masyarakat. Mereka adalah Si Belang, Si Botak, dan Si Buta. Masing-masing tinggal di kampung yang berbeda-beda. Namun, mereka sama-sama begitu meratapi keadaan mereka dan memohon pada Allah untuk diberi kebaikan dalam hidupnya.

Akhirnya, seorang malaikat ditugaskan untuk mengabulkan permintaan mereka dengan cara menyamar sebagai seorang manusia yang sangat tampan.

Rumah yang ia datangi pertama ialah rumah Si Belang. Melihat ada seorang tampan di depan pintu rumahnya, Si Belang pun heran dan segera mempersilakan sang musafir masuk ke dalam.

“Siapa Anda? Ada apa gerangan datang ke gubukku ini? Aku hanya seorang dengan penyakit belang yang parah dan tidak mempunyai apa-apa. Tidak ada yang bisa kau harapkan dariku,” Si Belang membuka dengan pertanyaan dan mengatakan keluhannya.

“Apa yang sangat kamu inginkan saat ini?” tiba-tiba sang musafir bertanya.

“Aku hanya ingin belang di kulitku ini hilang,” Si Belang menjawab.

Lalu sang musafir mendekati si belang dan mengusap Si Belang dari ujung kepala hingga ujung kaki. Seketika itu, seluruh penyakit belang yang ada pada tubuh Si Belang lenyap. Si Belang pun begitu bahagia dan berterima kasih pada sang musafir. Tidak sampai di situ saja. Sang musafir lalu bertanya lagi.

“Lalu, apa lagi yang kau inginkan?”

“Aku ingin kaya wahai tuan.”

“Kalau begitu, aku berikan sepasang onta untuk modalmu.” Seketika itu pula, di belakang rumah Si Belang muncul sepasang onta yang sangat besar. Seusai mengabulkan permintaan-permintaan Si Belang, sang musafir pun segera pergi.

Ia lalu mendatangi orang kedua yaitu Si Botak. Kepalanya botak dan mukanya buruk rupa sehingga tidak ada orang yang mau mendekati. Ketika sang musafir berkunjung ke tempat Si Botak, hal yang serupa terjadi. Dengan usapan tangan sang musafir, seketika tumbuh rambut hitam yang ikal dan lebat. Wajahnya pun seketika menjadi tampan. Sebagai modal usaha, ia diberikan sepasang sapi yang sangat besar. Ia pun begitu bahagia dan berterima kasih kepada sang musafir.

Selepas dari rumah Si Botak, sang musafir pergi ke rumah Si Buta. Hal yang serupa dilakukan oleh sang musafir. Ia mengusap wajah Si Buta lalu seketika itu juga, Si Buta bisa melihat untuk pertama kalinya. Ia begitu bahagia. Sang musafir pun memberikan sepasang kambing unggulan sebagai modal usahanya.

Beberapa tahun berlalu. Mereka bertiga dengan giat mengembangbiakkan ternaknya masing-masing. Jumlah ternak mereka pun sudah ribuan dan mereka menjadi orang paling kaya di kampungnya masing-masing.

Untuk menguji ketiga orang tersebut, sang malaikat mendatangi mereka kembali. Kali ini dengan wujud yang berbeda yaitu sebagai seorang pengemis tua dengan cacat fisik seperti yang pernah dialami oleh ketiga orang itu.

Rumah yang pertama kali ia datangi ialah rumah Si Belang. Sambil membungkuk, ia pun mengetuk pintu lalu meminta belas kasihan Si Belang.

“Tuan, tolong kasihani saya. Saya ini miskin, tua, dan kulit saya belang karena penyakit,” sang pengemis memohon.

“Apa yang kamu inginkan wahai pengemis?”

“Aku ingin meminta seekor ontamu. Tapi aku ingin meminta ontamu yang paling besar.”

Dengan penuh amarah dan keheranan, Si Belang pun menghardik, “Apa kau bilang? Sudah bagus aku persilakan masuk, eh, kau malah meminta ontaku yang terbaik? Pergi sana!”

“Sombong sekali Anda wahai Tuan. Padahal dahulu Anda pun mempunyai penyakit belang seperti saya kan?” dengan nada sedih, sang pengemis pun berlalu meninggalkan rumah Si Belang.

Karena kesombongannya itu, Si Belang pun mendapat hukuman. Beberapa hari kemudian, ia kembali terserang penyakit kulit dan terus menjalar ke seluruh tubuh. Hewan ternaknya pun terjangkit penyakit aneh lalu mati satu per satu. Hingga, ia pun tidak memiliki binatang ternak tersisa dan tubuhnya kembali belang seperti dulu.

Selepas dari rumah Si Belang, sang pengemis pergi mendatangi kediaman Si Botak. Dengan cara yang sama, ia meminta seekor ternak terbaik yang dimiliki Si Botak. Namun, sikap yang sama buruknya ditunjukkan oleh Si Botak. Bukannya memberikan santunan, ia malah menghardik dan mengusir sang pengemis. Atas kesombongannya itu, Si Botak pun dihukum dengan hukuman yang sama seperti Si Belang. Rambutnya rontok hingga tak tersisa sehelai pun. Wajahnya pun kembali buruk rupa, dipenuhi bisul dan jerawat. Ternaknya pun ludes dimakan penyakit mematikan.

Sang pengemis kemudian pergi ke tempat Si Buta. Dengan permintaan yang sama, sang pengemis memohon belas kasihan dari Si Buta.

Tidak seperti kedua rekannya, Si Buta justru menangis ketika melihat kondisi sang pengemis. Ia teringat atas kondisinya dahulu yang tidak jauh berbeda.

“Wahai pengemis, aku sedih. Aku ingat ketika aku buta dulu. Aku pun sama sepertimu dan aku bisa merasakan penderitaanmu itu. Ambilllah! Ambil berapapun kambingku yang kau mau! Aku ikhlas!”

Karena belas kasihnya dan rasa syukur yang ia tunjukkan, Si Buta pun mendapatkan berkah yang melimpah. Ternaknya makin banyak. Hartanya makin berlimpah. Ia pun tetap rendah hati dan selalu menolong orang yang membutuhkan.

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s