[Tarawih #12] Yang Dirindu


Ternyata menjaga konsistensi amalan lebih berat dari memulainya. Beberapa terakhir materi sudah ada di kepala, hasil intisari ceramah tarawih, tapi belum juga dituangkan ke tulisan di blog ini. Tarawih yang ke-12 ini sangat bagus isinya. Makanya saya merasa sangat perlu untuk membaginya. Yang menyampaikan pun bukan orang sembarangan. Tersebutlah nama Muhammad Zein, salah seorang pendiri yayasan Al-Muhajirin. Kalau tidak salah, yang melahirkan sekolah Al-Azhar. Juga ikut menginisiasi berdirinya Darussalam di komplek Pekayon dan sekitarnya ini. Sudah sangat tua. Tapi masih terpancar kuat semangat beliau, meski ceramahnya ia harus sampaikan dengan susah payah pasca operasi.

Temanya ialah tentang Empat Orang yang Dirindu Surga.

Dalam suatu hadis, Rasulullah pernah berkata tentang empat orang yang dirindu oleh surga. Siapakah orang-orang itu sehingga surga pun merindukan mereka?

Pertama, orang yang senantiasa membaca Al-Quran. Dalam suatu hadis lain dikatakan, orang yang membaca satu huruf dalam Al-Quran, pahalanya sama dengan 10 (sepuluh) kebajikan. Bahkan Rasulullah menegaskan bahwa kata Aliflaammiim yang menjadi awal surat Al-Baqoroh tidak dihitung sebagai satu huruf. Melainkan alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf. Bayangkan, dalam satu ayat ada berapa huruf? Dalam satu halaman ada berapa huruf? Dalam satu juz? Betapa membaca Al-Quran tidak disetarakan dengan membaca kitab lain, bahkan kitab yang sama-sama berbahasa Arab pun.

Saya pribadi sempat berpikir bahwa lebih baik membaca sedikit Al-Quran tapi dengan tartil dan memahami maknanya. Tapi, membacanya pun sudah sebesar itu pahalanya. Maka dengan mengetahui sebesar itu kebaikan dari membaca Al-Quran, harusnya kita mengutamakan sekali membaca Al-Quran ini.

Al-Quran bukanlah makhluk. Ia tidak seperti manusia, malaikat, maupun alam semesta. Ia adalah kalam Allah. Allah sendiri yang menjaganya hingga hari kiamat. Allah sendiri yang menurunkannya ke langit bumi, seperti kata ganti “kami” pada ayat pertama surat Al-Qadr. Bahkan di ayat yang sama, Allah pun menyebut Al-Quran dengan kata ganti “dia” atau “beliau” sebagai bentuk penghormatan pada Al-Quran.

Di hadis lain disebutkan bahwa orang yang dekat dengan Al-Quran, yang rajin membaca, mempelajari, dan mengkajinya, pada hari perhitungan, Al-Quran akan mendatanginya untuk memberikan syafaat.

Kedua, orang yang menjaga lisannya. Memelihara lisan begitu mulianya kah? Ternyata lisan memang seperti pedang, ia dapat digunakan untuk kebaikan, tapi justru sangat berbahaya ketika salah digunakan.

Ada lima perkara yang bisa merusak pahala puasa yaitu :

– berdusta (berkata bohong)

– ghibah (membicarakan aib orang lain)

– namimah (mengadu domba)

– menjadi saksi palsu

– melihat sesuatu yang bisa membangkitkan syahwat.

Empat dari lima hal di atas merupakan bentuk amalan yang dikarenakan ketidakmampuan dalam menjaga lisan. Dalam Al-Quran disebutkan,

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun. [Ibrahim;24-26]

Ketiga, orang yang memberi makan orang yang kelaparan. Orang yang ketiga bahkan sekedar memberi makan bagi yang kelaparan. Terlihat bukan perkara sulit. Namun begitu mulia amalan tersebut sampai-sampai yang melakukannya menjadi orang yang dirindu surga. Dalam Ramadhan, memberi makan orang yang berbuka bahkan sekaligus melakukan dua amalan : memberi buka bagi yang berpuasa, dan memberi makanan bagi yang lapar. Sangat rugi kita yang melewatkan momen terbatas ini.

Keempat, orang yang berpuasa di bulan Ramadhan. Dalam sebuah hadis qudsi dikatakan,

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : “Puasa itu bagKu, ia meninggalkan syahwatnya, makanan dan minumnya karena Aku. Puasa itu perisai. Orang yang berpuasa itu mempunyai dua kesenangan, yaitu kesenangan ketika berbuka dan kesenangan ketika bertemu dengan Tuhannya. Sungguh bau busuknya mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah dari pada bau kasturi”.

Di hadis qudsi yang lain:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam Allah berfirman : “Seluruh amal anak Adam baginya selain puasa, sesung­guhnya puasa itu bagiKu dan Aku membalasnya. Sungguh bau busuknya mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah dari pada bau kasturi”.

Puasa bukan sembarang amalan sehingga Allah yang akan membalasnya. Dalam Al-Quran bahkan dikatakan bahwa, siapa yang menunaikan shaum Ramadhan dan qiyamu Ramadhan, dengan iman dan hanya mengharap ridho Allah, diampunkan segala dosanya yang telah lalu.

Diampuni segala dosa yang telah lalu” itu bukan perkara kecil. Bayangkan berapa juta dosa yang sudah dibuat sejak kita baligh sampai saat ini! Lalu dengan amalan tersebut, SEGALA dosa itu diampuni. Hapus. Hilang.

***

Keempat amalan yang ternyata menempati posisi setinggi itu di mata surga. Bukan sekedar diinginkan tapi dirindu. Tapi justru, amalan-amalan ini yang seringkali dianggap sepele dan remeh.

 

Wallahu a’lam bishshowab.

Referensi tambahan:

– http://yudhim.blogspot.com/2009/08/empat-orang-yang-dirindukan-surga.html

– http://hadits-qudsi.blogspot.com/2010/01/puasa-dan-keutamaannya.html

http://quran.com

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s