[Tarawih #13] Sekolah Ramadhan dan Parameter Taqwa


Sebenarnya ceramah ke-13 ialah tentang intisari dari buku Aidh Al-Qarni berjudul Madrasah Ramadhan (Sekolah Ramadhan). Namun karena tidak saya catat, seperti anak-anak kecil itu mencatat di buku Ramadhannya, jadi lah sebagian besar sudah menguapūüėÄ Yaa, nanti coba dicari-cari dulu. Siapa tahu ada di internet juga.

Tapi ada satu bagian yang betul-betul saya ingat. Bagian ini cukup sederhana, aplikatif, tapi benar-benar penting dan bermakna. Yaitu tentang parameter seseorang yang sudah lulu dengan baik dari Sekolah Ramadhan ini.

Tujuan Allah memperintahkan kita untuk berpuasa di bulan Ramadhan ialah agar kita menjadi orang yang taqwa. Kata TAQWA juga bisa menjadi parameter dalam menilai kelulusan diri kita. Kata TAQWA dalam bahasa Arab disusun oleh empat huruf yaitu ta, qof, waw, dan ya. Keempat huruf ini secara sederhana bisa kita pakai sebagai parameternya.

Tawadhu, rendah hati. Parameter taqwa yang pertama ialah tawadhu atau rendah hati. Rendah hati ialah negasi dari sombong. Kesombongan, menurut pendapat saya, ialah penyakit hati yang paling berbahaya dan merusak. Sombong adalah akar dari penyakit hati yang lain. Seorang menjadi dengki karena sombong, karena merasa dirinya lebih pantas mendapat hal yang orang lain dapat. Sombong membuat kita merendahkan orang lain. Sombong membuat kita melawan, membantah. Bagaimana mungkin seorang yang sombong bisa menaati apa yang diperintahkan padanya? Apalagi melarang apa yang ingin dilakukannya?

Qonaah, menerima keputusan Allah. Yang kedua ialah menerima keputusan Allah, apapun itu, dengan rasa syukur dan prasangka baik pada-Nya. Seburuk apapun keputusan yang terjadi, meskipun upaya yang dilakukan sudah maksimal, orang yang qonaah akan menganggap keputusan itu ialah yang terbaik.

Wara,¬†tidak silau pada dunia. Yang ketiga ialah sifat wara’, atau tidak silau pada dunia dan kerlap kerlipnya. Tidak silau bukan berarti meninggalkannya sama sekali. Tidak silau berarti tidak tertipu dan tidak tertutup matanya dengan hal-hal indah yang dunia sajikan. Rasulullah memberikan mahar berpuluh-puluh ekor unta pada Khadijah. Kalau dihitung nilainya saat ini, sepuluh ekor unta saja sama dengan 100 juta. Jelaslah ia bukan orang yang kekurangan. Namun, segala materi yang dimilikinya tidak membuat dunia begitu ‘wah’ dan akhirat begitu ‘yah’. Islam pun memerintahkan umatnya untuk mencari rezeki seluas-luasnya.

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.¬†[Al-Jumu’ah:10]

Yaqin, optimis. Orang yang taqwa memandang hidup secara optimis. Kenapa? Karena qonaah, meyakini apapun yang diputuskan terjadi adalah yang terbaik. Karena yakin, bahwa selalu ada Dzat yang Maha Berkuasa menjadikan apa saja. Sekarang buruk belum tentu besok buruk. Sekarang gagal belum tentu besok juga gagal. Pola berpikir yang Rasulullah ajarkan sederhana dan memang cukup butuh keyakinan, di samping kerja keras, untuk menjadikan yang kita kehendaki. Yakin bahwa yang Allah beri pasti yang terbaik.

Dengan empat parameter ini, cukup mudah untuk menilai diri kita.

Sudah se-tawadhu apa kita? Masih ada sombongkah dalam pikiran?

Sudah se-qonaah apa kita? Masih sering berprasangka buruk dan lupa bersyukur kah?

Sudah se-wara’ apa kita? Masih menjadikan dunia prioritas nomor satu kah?

Sudah se-yaqin apa kita? Masih ragu bahwa tidak mungkin hal-hal buruk jadi membaik kah?

Wallah a’lam bishshowab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s