[Resensi] Negeri Para Bedebah


Pernah dengar istilah Economic Hitman? Atau Economic Warfare? Pada novel karya Darwis Tere Liye, peran seorang Economic Hitman justru dibuat terbalik. Hmm, let’s say Economic Savior. Tapi jangan bayangkan alur cerita yang datar dan membosankan. Justru plot dalam novel ini akan membuat pikiran Anda maju mundur dan selalu bertensi tinggi.

Novel ini secara garis besar menceritakan tentang seorang konsultan finansial yang sangat brilian. Dibesarkan dalam kondisi yang tidak seimbang, seperti kisah Batman, justru Thomas menjadi seorang ahli finansial  yang namanya diakui di dunia. Setiap pidatonya ditunggu pelaku ekonomi di berbagai negara. Setiap prediksinya bak menjadi niscaya di masa depan. Setiap nasihatnya tentang investasi seperti hal yang sangat berharga bagi para investor.

Namun, di tengah kesuksesannya, masa lalunya yang sudah ia tinggalkan jauh-jauh, tiba-tiba muncul ke depan matanya. Ia mempunyai paman seorang pelaku bisnis yang bertangan dingin. Om Liem namanya. Ia menjuragani banyak bisnis di berbagai bidang. Salah satunya di bidang perbankan. Bank Semesta namanya. Bukan cuma namanya yang mirip, tapi kasusnya sama seperti Bank Century. Dalam hitungan jam, bank ini dinyatakan collapse. Semua tabungan dan asset nasabah ludes. Seluruh kekayaan Om Liem menjadi jaminan. Bahkan, dirinya pun harus ditahan dengan tuduhan permainan kotor dalam bisnisnya. Berita menggemparkan ini tiba-tiba saja muncul di hadapan Thomas.

Bukan hanya penggerebekan rumah Om Liem, Thomas pun dihadapkan dengan kondisi tantenya, istri Om Liem, yang sakit keras akibat shock. Berada di tengah kepungan polisi dan Tante Liem yang masih belum sembuh betul, ia hanya punya dua pilihan: membiarkan semuanya terjadi atau mengambil tindakan untuk merubah kondisi menjadi sebaliknya.

Seperti seorang anak manis yang tiba-tiba menjadi liar, Thomas justru memilih jalan nekat. Ia tidak sudi Om Liem dan keluarganya hancur. Otaknya yang brilian dalam hitungan menit menyusun sebuah rencana yang sangat besar dan hampir tidak mungkin dilakukan: menyelamatkan Bank Semesta. Dengan mengerahkan seluruh potensi dan kemampuan dirinya, yang secara akal sangat cerdas dan secara fisik sangat kuat, sang petarung tersebut menjalankan serentetan rencana hebat dalam waktu kurang dari 48 jam. Seorang Thomas dengan segala kemampuannya mencoba memutar balik fakta ekonomi negara yang sudah hampir pasti terjadi.

Apakah Thomas akan berhasil membuat pemerintah memutuskan untuk menggelontorkan uang untuk menyelamatkan Bank Semesta, atau pada akhirnya semua usaha Thomas hanya sia-sia belaka?

Tensi yang terus tinggi dari awal hingga akhir cerita, diwarnai berbagai kenyataan tentang bobroknya mental para pemangku tanggung jawab dan begitu manipulatifnya dunia ekonomi, membuat novel ini layak Anda masukkan dalam to-read list. Penilaian pribadi dari saya, novel ini akan sangat menarik jika diangkat ke layar lebar. Plot yang padat dan sarat aksi, pasti menarik untuk dinikmati secara visual.

Dari beberapa novel Tere Liye yang sudah saya baca, topik dan cerita novel ini bisa dibilang cukup melawan arus. Tapi dengan begitu, hal ini justru membuktikan bahwa betapa seorang Tere Liye tidak hanya pandai bermain dengan kata dan makna yang dalam, tapi juga kreatif dalam menyusun alur cerita yang padat dan rumit.

Over all score: 7.8/10

20 thoughts on “[Resensi] Negeri Para Bedebah

  1. hahaha.. persi sundanya ya? iya, baru baca 2 buku tere liye. ntar kalo ke bandung, mau borong ah dari rumah buku, biar murah😀

  2. klo palasari bisi stensilan ein, alias copian/bajakan. karunya si penulisnya klo beli bajakan. klo rumah buku rata2 diskon 25% untuk semua buku. klo lagi promo, bisa sampe 30%. yang buku Bidadari2 Surga saya beli lg diskon 30%

  3. Membaca Negeri Para Bedebah, sensasinya sama dengan menonton film action Hollywood dengan berbaga intriknya. Hanya saja latar utamanya di Jakarta, bukan New York. sayangya ilmu ekonominya saya masih belom ngerti.

  4. yap betul. gaya ceritanya mirip2 Angels and Demons – nya Dan Brown klo udh pernah baca. ceritanya cuma dalam waktu singkat tapi penuh adegan. pokoknya pas kalo untuk dibuat layar lebarnya.

    salam kenal ya sebelumnya😀

  5. mungkin pak tere baru selesai baca buku tsb, hehe, kalau saya sih baru baca Davinci Code. hanya 48 jam, tapi detailnya membuat kita lupa kalau itu cuma dua hari.

  6. Gue dah baca berkali-kali dan ngga pernah bosan, gue yang selalu skeptis dengan hal politik dan ngga tau apa apa tentang ekonomi dihadapkan sama alur cerita ini yang selalu high-tense, keren. Ngga nyangka Tere-Liye bisa bikin cerita se-cerdas ini, apalagi sekuelnya, Negeri di Ujung Tanduk, baca deh!!😀

  7. baru aja selesai baca “daun yang jatuh tak pernah membenci angin” meski akhir’na ga hepi ending tp ttp baguuuusss

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s