[Resensi] Cloudy With A Chance of Meatballs


Film ini sebenarnya sudah cukup tua. Mungkin dirilis sekitar 2-3 tahun yang lalu. Tapi kebetulan sebuah stasiun TV swasta memutarnya untuk mengisi acara liburan.

Saya tidak akan membahas keseluruhan isi dari film ini. Ada satu aspek dari film ini yang sangat menarik yaitu hubungan antara Flint, tokoh utama seorang ilmuwan jenius, dan ayahnya yang seorang pemilik toko sarden kecil di pinggir jalan.

Kenapa menarik?

Karena somehow, saya yakin banyak pemuda jaman sekarang yang mengalami hal yang hampir sama dengan Flint dan ayahnya.

Sang ayah adalah seorang yang kaku, tidak banyak bicara, dan dingin. Sang ilustrator dengan sangat baik menggambarkan karakter itu dalam sesosok pria besar, dengan kumis sangat tebal, hidung yang berbentuk segi empat-dan memenuhi wajahnya- dan yang paling unik ialah alis mata yang bersambung dan sangat tebal. Sangat tebal sehingga menutupi matanya sama sekali.

Sementara Flint ialah anak muda yang brilian, jenius, namun urakan. Rambutnya selalu berantakan dan tak terawat. Seorang ilmuwan yang punya cita-cita menjadi orang hebat agar bisa membuat bangga ayahnya.

Yang saya soroti ialah usaha Flint dalam menciptakan sebuah penemuan yang bisa membuat bangga ayahnya. Ia pun akhirnya berhasil menciptakan alat yang bisa membuat hujan makanan. Ia cukup memasukkan menunya, lalu turunlah hujan makanan sesuai menu. Kota tempat tinggalnya yang semula sangat terbelakang karena hanya mengkonsumsi sarden sebagai makanan sehari-hari, seketika makmur dan menjadi sorotan dunia karena hujan uniknya. Nama Flint pun membumbung tinggi sebagai pahlawan.

Tapi apakah itu membuat ayahnya bangga?

Ternyata tidak! Justru si ayah sempat mengatakan, “Ini tidak benar,Nak..” Nampaknya si ayah menyadari bahwa hujan makanan membuat penduduk kota menjadi malas. Mereka tidak perlu kerja dan cukup menadahkan piring ke langit. Mereka pun jadi bersikap berlebihan dalam makan. Ayahnya menyadari hal itu. Namun, kelemahan sang ayah dalam berkata-kata membuatnya sulit menyampaikan hal itu pada Flint. Flint pun menangkap sikap ayahnya dengan salah sehingga mereka akhirnya berselisih.

Mungkin fenomena ini banyak terjadi di keluarga jaman sekarang. Ayah punya harapan tertentu terhadap anaknya. Anak punya bakat dan minat yang justu berbeda. Buruknya komunikasi antar ayah dan anak akhirnya melahirkan perselisihan. Padahal, sang anak pun punya cita-cita untuk membuat bangga ayahnya. Padahal cita-cita akhir keduanya sama.

Satu hal yang paling saya ingat adalah momen ketika sang ayah memberikan kepercayaannya pada Flint ketika ia meminta izin untuk melanjutkan alat pembuat hujan makanannya. Ayahnya hanya berkata, “Ayah akan memberimu izin jika kamu bisa menatap mata ayah sambil berkata, ‘Aku akan membuat semuanya baik-baik saja’.” Flint dengan susah payah menatap mata ayahnya -yang biasanya tertutup alis- lalu mengatakan hal itu. Lalu ayahnya pun berkata, “Ok, you know what you’re doing.”

Jalan yang dipilih seorang anak bisa jadi benar-benar melenceng dari apa yang sang ayah rencanakan. Lebih banyak lagi kasus di mana sang ayah memaksakan jalan yang tidak sesuai dengan minat anak. Jangan kira hanya terjadi di FTV atau sinetron! Karena saya pun sudah menyaksikan beberapa kasus serupa di lingkungan sekitar.

Film ini berakhir dengan akhir yang bahagia ketika Flint berhasil menyelamatkan kota dari badai makanan. Alat yang ia buat rusak dan menimbulkan badai makanan yang menghancurkan kota.
Film pun ditutup ketika sang ayah, yang kesulitan berkata-kata, harus dibantu dengan alat penterjemah pikiran untuk mengatakan bahwa ia bangga pada Flint dan sangat mencintainya. Yaa setiap ayah kadang perlu alat ini mungkin😀

Overall, film ini bagi saya menjadi unik karena aspek di atas ditambah satu hal lagi: imajinasi pembuat yang hebat. Membuat film tentang hujan makanan mungkin tidak terlintas di pikiran kebanyakan orang. Ditambah lagi, banyak bagian-bagian dari film yang cukup imajinatif seperti zombie ayam goreng, alat pengubah air jadi makanan, pizza yang bisa menyerang manusia, dan banyak lainnya yang membuat film ini tidak monoton sama sekali.

[REVISI]

Ternyata film ini terinspirasi dari sebuah buku cerita dengan judul yang sama, bukan murni ide sang pembuat😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s