Bersedekap dan Tipe Belajar


Saya akhir-akhir ini mencermati gerakan bersedekap dalam sholat. Mungkin sekilas, gerakan bersedekap ini nampak kosong. Sekedar berdiri tegap sambil melipat kedua tangan di depan dada, tangan kanan di atas tangan kiri. Tapi, anehnya justru bersedekap termasuk gerakan sholat paling dominan.

Ternyata, bersedekap – yang sesungguhnya – tidak mudah. Kenapa? Karena, pada gerakan bersedekap itulah kita membaca salah satu bacaan yang menjadi rukun sholat yaitu Al-Fatihah. Artinya rukun, ya kalau ditinggalkan, atau “tidak sempurna” melaksanakannya, jadi cacatlah ibadahnya. Maksudnya sempurna, Al-Fatihah bukan sekedar dibaca tanpa jiwa, tanpa penghayatan, tapi dengan penuh konsentrasi dan khusyuk. Bahkan, dalam salah satu panduan sholat, ketika membaca Al-Fatihah, kita sebaiknya membacanya seperti sedang berdialog dengan Allah. Bertolak belakang dari hal tersebut, saking hafalnya kita, ketika membaca Al-Fatihah seringkali kita justru mengaktifkan mode “auto-pilot” kita, tanpa penghayatan atau minimal kesadaran.

Nah, bersedekap ini ternyata hebat. Saya mencermati ternyata gerakan bersedekap, sambil membaca ayat Al-Qur’an, adalah gerakan yang sangat mendukung untuk berkonsentrasi atau melakukan sesuatu dengan penuh kesadaran. Hal ini saya sambungkan dengan tipe belajar seseorang yang bisa terbagi menjadi tiga tipe yaitu tipe audio, visual, dan kinestetik. Ternyata, gerakan bersedekap yang sempurna memfasilitasi orang dengan tipe belajar yang mana pun untuk bisa berkonsentrasi.

Tipe visual.

Tipe ini belajar atau mengingat dengan media indera penglihatan. Mata adalah indera utamanya dalam menyerap informasi dan begitu juga sebaliknya, ingatan dalam bentuk gambar menjadi media utamanya dalam mengingat. Ia bisa begitu cepat menyerap dan berkonsentrasi dengan maksimal ketika berhadapan dengan citra penglihatan.

Dalam gerakan sedekap yang baik, pandangan kita harus diarahkan ke tempat sujud. Selama membaca ayat, mata kita harus tertuju kepada satu tempat, atau satu titik. Saya menangkap perintah untuk memandang ke tempat sujud bukan sekedar menghadap kan wajah ke bawah (menunduk). Jika sekedar begitu, seringkali mata kita terbuka, wajah kita memang menghadap bawah, tapi sebenarnya kosong. Mata kita tidak fokus pada satu titik atau objek. Saya baru memahami betul bahwa memandang ke tempat sujud maksudnya memfokuskan mata kita kepada objek tertentu dengan konsentrasi. Ternyata, untuk saya yang tipe visual, hal ini sangat membantu untuk mempertahankan konsentrasi selama membaca ayat Al-Qur’an. Asalkan, objek yang dilihat ini tidak justru mengganggu. Buat pembaca yang visual, silakan coba untuk fokuskan pandangan selama bersedekap ini, insya Allah bisa lebih “sadar” baca ayat-ayatnya.

Tipe audio

Tipe audio belajar dan mengingat dengan media indera pendengaran. Untuk hal mengingat bunyi, nada, intonasi, dan suara, tipe ini sangat cepat. Tipe ini bisa sangat berkonsentrasi ketika informasi yang coba ditangkapnya berbentuk suara atau bunyi.

Dalam sholat, kita dianjurkan untuk melafalkan bacaan sholat tapi dengan suara yang sangat lirih, yang cukup hanya didengar oleh diri sendiri saja. Kecuali dalam sholat yang bacaannya dikeraskan, kita justru dilarang membaca ayat ketika imam sedang membaca ayat. Untuk seorang bertipe audio, hal ini sangat berperan dalam menjaga konsentrasi dan kesadaran selama sholat. Ia bisa mendengarkan apa yang ia baca sehingga konsentrasinya bisa tetap terjaga. Silakan yang bertipe audio bisa bantu coba buktikan.

Tipe kinestetik

Tipe yang ketiga ini belajar dan mengingat dengan “merasa”. Saya lebih mudah memahaminya dengan istilah: belajar dengan indera selain mata dan telinga. Rasa itu identik dengan tiga indera lainnya yaitu indera pengecap (lidah), indera pencium (hidung), dan indera peraba (kulit). Orang bertipe kinestetik selalu berusaha agar berada dalam posisi tubuh yang nyaman untuk bisa belajar dengan baik. Hal-hal yang berkaitan dengan aktifitas fisik menjadi media yang cukup efektif untuk menjaga konsentrasi atau belajar.

Dalam sedekap, gerakan melipat kedua tangan menjadi media berkonsentrasi untuk orang bertipe kinestetik. Bersedekap yang baik ialah ketika tangan kanan menggenggam tangan kiri dan diletakkan di depan dada. Ada dua gerakan fisik yang cukup butuh konsentrasi di sini. Pertama, gerakan “menggenggam” berbeda dengan sekedar “meletakkan”. Jika gerakannya sekedar meletakkan, maka tangan kanan tidak secara aktif melakukan sesuatu. Tidak terlalu banyak kontraksi otot tangan. Tapi gerakkan menggenggam justru butuh banyak gerak aktif. Selama bersedekap itu, kita harus tetap menggenggam lengan kiri sehingga untuk orang kinestetik, ia akan merasakan ada gerakan aktif pada tangan kanan, dan rasa rabaan pada tangan kiri yang bisa cukup membantu dalam berkonsentrasi.

Kedua, posisi kedua tangan yang harus berada di depan dada. Meskipun ada beberapa pendapat tentang posisi tangan ini, kebanyakan pendapat mengatakan demikian. Pada sebuah acara televisi yang membahas tentang khasiat gerakan sholat, seorang dokter menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan dada ialah area badan yang menutupi tulang dada. Tulang dada berada tepat di tengah dan menjadi sambungan antara ruas rusuk kanan dan ruas rusuk kiri. Sederhananya, dokter itu menjelaskan bahwa area yang dimaksud dengan “dada” ialah area yang jika kita raba, masih terasa tulang dada tersebut. Jika sudah terasa lunak (tidak ada tulang), maka area tersebut sudah bukan area dada. Silakan dirasakan sendiri. Sekarang coba untuk bersedekap dengan benar yaitu tangan kanan menggenggam pertengahan lengan kiri lalu diletakkan di area dada (yang masih ada terasa tulang dada). Ternyata, gerakan bersedekap tersebut membutuhkan banyak kontraksi otot tubuh bagian atas. Dari mulai bahu, belikat, selangka, dada, dan lengan atas. Dalam kondisi sedekap yang sempurna seperti itu, bagaimana mungkin seseorang bisa mengantuk. Berbeda dengan sedekap asal-asalan yang diletakkan seenaknya. Bagi orang bertipe kinestetik, saya yakin posisi sedekap yang baik bisa membantu untuk berkonsentrasi selama membaca ayat Al-Qur’an.

Uraian di atas sekedar membahasakan dan mendokumentasikan apa yang bisa saya petik dari salah satu gerakan sholat ini. Mungkin belum ada penelitiannya yang membuktikan benar salahnya uraian ini. Maka dari itu, kalau ada yang ingin sumbang pendapat atau saran, silakan😀

Yang penting, sholat itu seminimal mungkin ada yang “nyangkut” lah, ada perasaan yang berbeda antara sebelum dan sesudahnya. Jangan sekedar ritual gerakan dan bacaan yang sudah saking hafalnya kita, sampai sambil tidur pun mungkin bisa dilakukan tanpa ada “nyawa”-nya.

Wallahu a’lam bishshowab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s