Orang Kaya Cinta Dunia?


Kaya raya dengan berlimpah-limpah harta apa bisa diasosiasikan dengan sifat cinta dunia dan lupa akhirat? Yang bisa menggenggam dunia dengan tangannya apa tidak mungkin seorang yang zuhud?

Persepsi umum mengatakan bahwa zuhud adalah seperti ini:

Sebuah sikap yang membenci dunia dan meninggalkannya untuk mengabdi beribadah. Orang yang zuhud lekat dengan kesan kumuh dan kucel karena memang segala hal tentang dunia sudah ditinggalkannya. Orang zuhud lekat dengan kebiasaan menyendiri di tempat ibadah tanpa berinteraksi dengan lingkungannya.

Apa benar zuhud itu seperti itu? Ternyata tidak. Imam Syafi’i (mudah-mudahan tidak salah) bahkan mengatakan, orang yang berperilaku seperti itu (seperti persepsi di atas) justru bukan zuhud. Justru tidak ada Tuhan di dalam dirinya karena justru ia akan merasa sangat bangga ketika ada orang yang mengetahui tentang ke-zuhud-annya lalu mengakuinya dan membicarakannya.

Zuhud sebenarnya hampir tidak ada hubungannya sama sekali dengan jumlah materi atau harta yang dimiliki seseorang. Tidak ada hubungannya antara kemiskinan, kekumuhan, dan ketidakpedulian terhadap dunia dengan sikap zuhud.

Ada tiga tanda dari sikap zuhud yang sebenarnya yaitu:

1. Tidak menjadi gembira dengan yang ada, dan tidak menjadi sedih dengan yang hilang. Sedih dan senang hanya ketika bersama dan tidak bersama Allah,ketika dekat dan jauh dari Allah.
2. Dipuji orang tidak bangga, dihina orang tidak marah. Dengan jabatan/harta yang dimiliki, ia bisa melakukan kebaikan yang lebih dibandingkan jika tidak punya.
3. Kecintaan yang sangat kepada Allah sehingga berusaha untuk selalu menaatiNya.

Tiga parameter ini nampaknya cukup untuk menjadi pertanyaan ke diri sendiri.

Ternyata tidak ada parameter harta dan materi yang dimiliki dalam sebuah tolak ukur zuhud. Ia murni ada di dalam hati dan diri seseorang. Oleh karenanya, jangan menjadikan zuhud sebagai alasan untuk tidak bekerja keras di dunia tapi jangan pula menjadikan dunia sebagai alasan untuk tidak bersiap-siap menghadapi akhirat. Dua hal ini memang disediakan untuk diraih. Tinggal kita yang memilih, mau meraih kebaikan di keduanya atau salah satunya saja. Kalau memang hanya ingin salah satunya, maka sebenarnya percuma doa yang dibaca setiap hari.

Rabbanaa aatinaa fiddunyaa hasanah, wa fil aakhirati hasanah, wa qinaa adzaaban naar. (Ya Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di dunia DAN di akhirat, dan jauhkanlah kami dari siksa api neraka)

Zuhud adanya betul-betul di dalam hati. Dan tidak ada urusan dengan pendapat atau pandangan manusia. Urusan zuhud hanya antara diri sendiri dan Allah saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s