[Resensi] Rembulan Tenggelam di Wajahmu


Buku ketiga Tere Liye yang saya baca. Layaknya sebuah film, menurut saya sebuah buku pun seharusnya mengikuti teori “15 menit pertama”. Ya, untuk bisa menarik seorang penonton agar bersedia menonton film tersebut sampai selesai, 15 menit pertama harus lah cukup menarik. Untuk sebuah buku, 15 menit ini bisa saja dikonversi menjadi sekitar 50 atau 100 halaman pertama. Sayangnya, untuk sekitar 50 halaman pertama, novel ini buat saya tidak menarik. Bahkan, berhari-hari sejak membeli, novel ini saya telantarkan setelah mendapati “bad first 50 pages” tersebut.

Namun,

cerita khas Tere Liye ini baru menjadi menarik ketika mulai menapaki bagian pertengahan buku. Kenapa? Sebaiknya saya bahas dari awal.

Novel ini bercerita tentang kehidupan seorang lelaki. Kata “kehidupan” berarti bukan hanya penggalan kejadian atau sebuah perjalanan singkat saja melainkan seluruh hidup sang tokoh utama, dari awal hingga menjelang akhir. Uniknya, tidak seperti sebuah biografi, Darwis memainkan plot dengan cara yang berbeda. Fantasi seorang penulis novel fiksi terlihat sekali di sini. Ia mencoba menceritakan kehidupan seorang manusia dengan sebuah “perjalanan metafisik” yang saya bisa bilang bagian paling fantasis (buat istilah sendiri) dalam buku ini. Beberapa saat menjelang kematiannya, ia diberi kesempatan melakukan perjalanan bersama seorang “berwajah menyenangkan”, yang saya yakin maksud Darwis tentang “pemandu” ini ialah asosiasi dari seorang Nabi Khidir, menapaki kehidupannya dari ia kecil sampai tua. Tapi, tidak sekedar pemutaran ulang sebuah kisah hidup. Ia diberi kesempatan melihat kehidupannya “dari sisi lain”. Dari sisi yang tidak pernah ia ketahui sebelumnya. Dan perjalanan ini lah yang pada akhirnya mampu menjawab lima pertanyaan besar dalam hidupnya.

Raehan kecil ialah seorang anak panti yang tidak jelas asal mulanya. Ia seorang anak lelaki bandel dan punya fisik yang kuat dan otak yang cerdas. Sayangnya, lingkungan panti asuhan yang “tidak ideal” membuatnya tumbuh menjadi seorang begundal. Penjaga panti ialah seorang yang “mengeksploitasi” anak-anak panti dengan mempekerjakan mereka di jalanan. Ia pun menyalahgunakan sumbangan dari donatur untuk tabungannya. Bukan sekedar tabungan, tapi tabungan haji. Ini satu kemunafikan pertama dan utama yang melesatkan Raehan dengan kejijikannya terhadap kemunafikan, tumbuh sebagai seorang yang skeptis. Skeptis bahkan terhadap dirinya sendiri dan takdirnya. Skeptis terhadap definisi kebaikan dan kearifan. Dibesarkan di lingkungan terminal dan tempat judi, ia menjadi sosok preman ideal dengan berbagai keberuntungan.

Singkat cerita, banyak kepahitan hidup yang ia alami sejak kabur dari panti asuhan. Namun kepahitan itu sempat berhenti ketika ia dititipkan ke sebuah rumah singgah yang mengajarkannya, untuk pertama kali, tentang arti sebuah keluarga. Anak-anak di rumah singgah begitu berarti baginya. Bahkan ia rela berkelahi dengan para tukang pukul ketika harus membela salah seorang kawannya yang dilukai. Sayangnya, kehidupan di sana berakhir juga dengan cara yang sama: kabur. Tapi, bukan karena kenakalannya ia harus kabur dari sana. Justru karena begitu keras ia membela temannya yang diperlakukan tidak adil oleh orang lain.

Ijinkan saya meringkas ceritanya lagi, karena jujur, saya harus mengakui kelihaian penulis ketika mampu menceritakan kehidupan seseorang dengan unik dan cukup lengkap, hanya dalam sebuah buku. Setelah pergi dari rumah singgah, ia hidup dengan mengamen di kereta. Sampai suatu saat ia bertemu (dan bekerja sama) dengan seorang “pedagang” berlian, yang akibat sebuah kejadian, ia pun lagi-lagi harus “kabur” untuk kesekian kalinya. Kabur dari sebuah rasa bersalah yang akan lebih seru jika Anda baca sendiri ceritanya🙂

Sebuah lembaran baru hidup Ray (nama baru yang akhirnya ia sematkan untuk dirinya sendiri) dimulai ketika ia memutuskan untuk pulang kampung setelah bertahun-tahun merantau. Sekembalinya ia, kampungnya ada dalam masa pembangunan. Kehidupannya beranjak membaik ketika ia memutuskan untuk menjadi kuli bangunan di sebuah proyek pembangunan gedung bertingkat. Kecerdasan dan mental yang ulet membuatnya naik posisi dengan cepat. Ia pun begitu dekat dan didukung oleh para pekerjanya karena sifatnya yang bersahabat.

Kehidupannya semakin manis ketika ia bertemu seorang gadis cantik di rumah sakit dekat lokasi proyek. Semesta seperti memberinya jalan saat itu karena gadis itu pernah ia temui sebelumnya di gerbong restorasi sebuah kereta. Sebenarnya ada cerita yang menarik di fase ini. Tapi, saya memilih untuk tidak membukanya di sini supaya penasaran😀 Ya, ia pada akhirnya menikahi gadis tersebut, gadis yang selanjutnya ia panggil “Si Gigi Kelinci”. Pasangan yang sangat berbahagia. Seorang suami yang pekerja keras dan seorang istri yang begitu setia dan ikhlas mendukung dengan segala cara.

Sayangnya, kebahagian lagi-lagi bukan menjadi sahabat karib untuk Ray. Setelah dua kali kehilangan calon anak mereka dalam kandungan, Ray harus rela melepas Si Gigi Kelinci pergi lebih dulu. Terlalu terburu-buru, terlalu cepat. Satu potongan kalimat yang luar biasa dari istrinya ketika menjelang maut, bukan sebuah wasiat atau pesan yang memberatkan Ray. Ia justru berkata,

“Apakah aku cantik? Aku selalu ingin terlihat cantik di depanmu. Apakah kamu ikhlas denganku sebagai istrimu?”

Dan ternyata, di sepanjang kisah di novel ini, sosok Si Gigi Kelinci inilah yang banyak menginspirasi banyak pembacanya. Kenapa? Tere Liye ingin menggambarkan sebuah cara sederhana untuk meraih surga melalui sosok sang istri ini. Detailnya? Lebih baik dibaca sendiri…

Berkali-kali Ray dikecewakan oleh hidup. Setelah sempat ia merasakan manisnya, dengan kejam direnggut paksa. Dan, melarikan diri menjadi jalan yang ia pilih lagi. Kali ini bukan dengan cara yang biasa. Ia melarikan diri ke dalam kesibukan. Bisnisnya bermultiplikasi setelah dengan berani ia memulai proyeknya sendiri. Dari seorang anak panti, preman terminal, dan kuli bangunan, kini ia menjadi konglomerat yang memiliki kerajaan bisnisnya sendiri. Tapi, ternyata itu pun pada akhirnya tidak mampu membayar kebahagiaan yang pernah ia rasakan sebelumnya, saat masih bersama sang istri. Justru yang ia dapatkan, semakin hancurnya, semakin keropos tubuhnya digerogoti penyakit ini itu. Lagi-lagi, ia marah karena untuk kesekian kalinya, langit tidak juga mengizinkannya bahagia.

Kenapa ia bisa dititipkan di panti asuhan sial itu?

Apakah hidup adil?

Kenapa langit tega mengambil istrinya?

Apakah kaya adalah segalanya?

Kenapa ia harus sakit berkepanjangan?

Lima pertanyaan itu yang berteriak-teriak di dalam kepalanya setiap kali ia mengalami peristiwa pahit. Satu pertanyaan setiap satu peristiwa. “Perjalanan metafisik” itu lah yang kemudian menjawab kelimanya. Menjawab bukan dengan kata-kata, tapi dengan menunjukkan peristiwa dan sudut pandang yang selama ini tidak Ray tahu. Seperti apa jawabannya? Justru itu akan jadi spoiler paling besar kalau sampai saya bocorkan di sini.

Apa yang pesan yang paling saya tangkap dari novel ini, ialah bahwa Tere Liye, dengan segala pemikiran dan pemahamannya tentang hidup dan berkehidupan, mencoba menyadarkan pembaca bahwa banyak hal dalam hidup ternyata tidak seperti apa yang kita pikirkan. Perjalanan dan kilas balik yang dialami Ray ibarat potongan-potongan puzzle yang pada akhirnya ia temukan sehingga terbentuklah gambaran hidup yang utuh. Ibarat pola sulaman indah yang selama ini hanya ia lihat sebagai benang kusut permasalahan hidup. Bahwa sebenarnya, tidak ada yang tidak direncanakan oleh Tuhan, bahkan kepahitan. Jika saja kita mau berbaik sangka pada setiap takdir, maka seburuk apa pun yang dihadapi, menjadi suatu hal yang sederhana saja. Bahwa sebagai pemain, yang hanya memainkan “bagian”nya saja, baru akan tahu seluruh cerita ketika semuanya sudah terangkai utuh. Jadi berbaik sangkalah.

Last, saran saya, sebaiknya bersabarlah sampai Anda mencapai pertengahan buku ini. Jangan langsung mencap buruk dulu.

4 thoughts on “[Resensi] Rembulan Tenggelam di Wajahmu

  1. penggemar Novel Tere-Liye juga ya?😀
    Saya gak berani baca ulang. Bikin nyesek. ini novelnya sudah dengan cover edisi baru ya?

  2. awalnya sih karena rekomendasi temen, waktu itu dia saranin untuk baca Delisha. Tapi karena ada yg lebih murah, jadinya pertama kali baca yang Bidadari2 Surga, hehe..

    menariknya karena tere liye ga pernah menyia-nyiakan media novel dan tulisannya untuk sharing ide dan prinsip2 dia ke pembacanya, ga sekedar berbagi cerita tapi maknanya banyak.

    covernya sesuai gambar aja, yasmin, entah itu yg baru apa yang lama ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s