Adult Leadership: Seni Memimpin Individu-Individu Secara “Dewasa”


Tulisan ini adalah rangkuman dari sebuah makalah berjudul Developing the “Adult” Leaderyang ditulis oleh Peter A.C. Smith – President TLA Inc. Tulisan ini dibuat awalnya karena tuntutan dari atasan untuk tugas pendahuluan sebelum training leadership tanggal 9-10 nanti. Meskipun tugas, tapi ternyata konten makalah ini sangat bagus. Sangat perlu untuk diketahui, terutama untuk mereka yang mau mendalami keterampilan memimpin secara profesional. Uniknya, (mudah-mudahan ga dikira sombong) teori-teori yang dibahas di sini secara ga sadar saya terapkan selama beberapa tahun terakhir ini. What a life…

***

Pendahuluan

Salah satu isu yang dihadapi dunia industri saat ini ialah buruknya leadership yang ada di perusahaan-perusahaan industri, baik skala besar maupun kecil. Buruknya leadership salah satunya disebabkan oleh karakteristik pemimpinnya sendiri. Di satu sisi, ada orang-orang yang terlahir sebagai pemimpin, membawa bakat memimpin sejak lahir. Namun pemimpin seperti ini tentu sangat terbatas jumlahnya. Oleh karena itu dibutuhkanlah pemimpin-pemimpin yang lahir dari sebuah proses belajar dan latihan.

Menurut sebuah riset, perusahaan-perusahaan besar yang terus berkembang ternyata tidak hanya memiliki leadership yang baik pada tingkatan managemen atas saja tetapi juga di setiap tingkatan organisasi. Hal ini lah yang ternyata saat ini dibutuhkan: kemampuan leadership di setiap tingkatan organisasi.

 

Pengaruh Kondisi Bisnis Saat Ini dan Yang Akan Datang Terhadap Organisasi dan Pemimpinnya

Iklim pasar yang sangat dinamis memiliki dampak yang besar pada organisasi, terutama dalam menangani perubahan-perubahan yang terjadi. Perubahan ini harus dapat dihadapi dengan positif, terutama oleh seorang pemimpin.

Salah satunya adalah dengan meningkatkan kualitas SDM dalam organisasi. Dalam konteks kepemimpinan, sebuah organisasi membutuhkan keseimbangan dalam dua hal: keselarasan dalam organisasi dan kemandirian secara individu. Selain bergerak sesuai arah dan tujuan organisasi, tiap individu di dalamnya juga harus mandiri dan aktif dalam berkarya dan membuat kemajuan. Inilah yang disebut sebagai collaborative organization.

 

Manager vs. Leader

Manager berbeda dengan leader. Manager fokus pada efisiensi dan “do the things right” sementara leader fokus pada efektivitas dan “do the right things”. Kemampuan managerial dan leadership harus secara seimbang dimiliki oleh seorang pemimpin karena ia dituntut untuk mampu menyelaraskan visi dan pelaksanaannya. Kepemimpinan seperti ini disebut adult leadership.

  

Peran Seorang Adult leader

Seorang adult leader mempunyai 4 peran penting dalam memimpin organisasi: 1) bekerjasama dalam perumusan strategi, 2) rencana implementasi, 3) memimpin individu dan tim, serta 4) memastikan adanya improvisasi yang kontinyu.

 

Bagaimana strategi untuk dapat menjalankan peran-peran tersebut?

Setiap organisasi membutuhkan tipe pemimpin yang berbeda, berdasarkan pada situasi-situasi tertentu, tugas-tugasnya, dan karakteristik para bawahan. Pemimpin harus mempunyai pemahaman yang mendalam pada organisasinya. Ia juga harus mampu berpikir dan memiliki pandangan secara filosofis untuk melihat organisasi secara esensi. Ia harus mampu mempengaruhi rekan-rekan yang bekerja bersamanya untuk mau bekerja lebih keras dan berinovasi.

Dengan kondisi organisasi yang dinamis, di mana individu di dalamnya pun semakin beragam, pemimpin harus mampu bekerja sama dengan  setiap tipe orang. Oleh karena itu, ia harus memimpin secara mutualistis dan bersikap inklusif. Mutualistis berarti setiap orang bekerja berdasarkan motivasi dari dalam dirinya sendiri karena ingin mendapatkan keuntungan untuk dirinya, bukan hanya keuntungan untuk organisasi tapi mengesampingkan kepentingan individu. Sementara, inklusif berarti tidak eksklusif, terbuka dan mampu bergaul dengan siapa saja. Dengan begitu, pemimpin akan mampu melihat bakat dan kemampuan yang dimiliki tiap-tiap orang dalam organisasinya kemudian memaksimalkan potensi tersebut.

Pemimpin masa depan tidak hanya harus mampu menyampaikan sesuatu dengan baik (how to tell), tapi juga harus mampu bertanya (how to ask). Ketika individu diposisikan sebagai seorang yang mandiri dan dewasa, tidak salah ketika pemimpin selalu bertanya tentang banyak hal kepada bawahan. Dengan bertanya, informasi yang didapat adalah hal-hal baru yang akan bermanfaat bagi organisasi.

 

Leadership di Setiap Tingkatan Organisasi

Seperti yang sudah dibahas di awal bahwa leadership, khususnya adult leadership, dibutuhkan di setiap tingkatan organisasi. Oleh karena itu, seorang top level leader harus memiliki jiwa melayani, yaitu memimpin dengan tujuan untuk melayani kebutuhan orang lain. Tidak berhenti sampai di situ. Ia pun kemudian membantu orang-orang yang ia layani supaya bisa menjadi lebih baik, sehingga selanjutnya bisa berperan juga sebagai seorang pemimpin. Dan begitu seterusnya.

Membangun leadership di semua level organisasi juga membutuhkan sebuah pendefinisian terhadap kompetensi dasar di tiap level. Maksudnya, organisasi harus mendefinisikan kompetensi dasar dari role model pada masing-masing level. Dengan begitu, tiap individu jadi memiliki capaian yang jelas dalam pengembangan diri yang ingin ia tuju. Hal ini sebagai usaha dalam menstimulasi dan mengakomodasi kemandirian dan keaktifan individu. Selain itu, hal ini juga berperan untuk memastikan bahwa perkembangan individu selaras dengan arah gerak organisasi. Pada akhirnya, setiap orang diharapkan mampu berperan sebagai pemimpin ketika suatu saat terjadi leadership vacuum.

 

Dasar-dasar Pendekatan Cost-Effective Leadership Development

Leadership hanya bisa dilatih melalui praktek memimpin secara riil. Tidak bisa hanya mengandalkan pelatihan di kelas saja. Pemimpin dibentuk dan belajar dengan pengalaman memimpin dan pengalaman memimpin terbaik terjadi ketika menghadapi banyak rintangan.

Namun, tidak semua orang mampu belajar dari pengalaman. Dibutuhkan sebuah metode “belajar dari pengalaman” yang lebih terstruktur untuk memudahkan seseorang mengambil pelajaran dari aktivitas yang pernah ia alami. Sebuah metode yang bisa digunakan adalah metode action learning.

Sebelum memulai metode ini, seseorang harus dirangsang untuk bisa menunjukkan kemampuan dasarnya sebagai adult leader. Rangsangan ini disebut dengan role-enabler . Role-enabler adalah segala hal, baik itu pemahaman, pengetahuan, aktivitas, kemampuan, ataupun karakteristik yang bisa “mengaktifkan” jiwa kepemimpinan seseorang sehingga potensi terbaiknya bisa terkuak. Role-enabler harus disusun sebelumnya oleh organisasi sesuai dengan level organisasi.

Pada intinya, metode action learning adalah cara untuk menterjemahkan pengalaman ke dalam pengetahuan yang bisa dikonsepkan dan dipelajari. Media pembelajarannya adalah dengan melakukan berbagai problem solving. Dengan menghadapi berbagai masalah yang dihadapi ketika menjalankan peran sebagai pemimpin, kapabilitas yang dimiliki seseorang secara tidak langsung akan terangkat. Di saat yang sama, kemampuan leadership-nya pun akan meningkat.

Secara praktis, aktivitas yang dilakukan dalam metode action learning ialah 1) mengambil pelajaran dari pengalaman, 2) mengkonsepkannya ke dalam sesuatu yang lebih sederhana, lalu 3) membuat generalisasi dari konsep tersebut sehingga didapat poin-poin umum yang bisa diterapkan kembali pada kondisi lain, baik yang serupa maupun yang berbeda konteksnya. Dari aktivitas ini, hasil yang diharapkan adalah berupa 1) perilaku atau respon yang bisa direplikasi jika menghadapi situasi yang sama, dan 2) sumber pengetahuan atau hal-hal yang perlu ditanyakan/diketahui ketika menghadapi konteks yang berbeda.

***

3 thoughts on “Adult Leadership: Seni Memimpin Individu-Individu Secara “Dewasa”

  1. sebenernya selama di himpunan, banyak penerapannya kot. terutama pas di Sparta sama di divisi. metode2 yang diterapin itu rata2 role-enabler. tapi ada yg sebagai leader, ada jg yang lain2.

    tapi klo di lingkungan kerja, gw pernah nerapin beberapa cara. ada yang diminta sharing knowledge (presentasi gitu), ada juga yang dikasih amanah jadi PIC buat monitoring atau reminder tugas2. belum banyak sih. om google lebih tau mungkin bentuknya mah, haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s