Berani Melayani


Saya bersyukur punya sebuah pola pikir yang kadang tidak biasa. Orang-orang memandang aktivitas “melayani” sebagai sesuatu yang rendah. Pembantu rumah tangga, pelayan restoran, dan customer service misalnya.

Saya justru melihatnya terbalik. Melayani justru sebuah kehormatan. Tapi bukan dalam konteks keterpaksaan atau tuntutan ya (yang biasanya diasosiasikan dengan profesi).

Mengapa sebuah kehormatan? Sifat dasar manusia pasti menolak dan enggan untuk melakukan sesuatu untuk orang lain tanpa keuntungan untuknya. Apalagi melayani. Sifat dasar kita adalah enggan untuk melayani. Di sini lah menariknya.

Bertolak belakang dengan sifat dasar, maka tidak akan banyak orang yang mau melayani dengan sukarela. Terlebih lagi, melayani orang lain berarti bersedia menurunkan harga diri sejengkal di bawah orang yang dilayani. Tentunya tidak banyak orang yang mau harga dirinya di bawah orang lain.

Tapi, justru karena tidak banyak orang yang MAMPU untuk melayani, saya melihatnya sebagai suatu yang mulia dan terhormat. Tidak semua orang MAMPU mengendalikan egonya supaya bersedia merendahkan sedikit harga dirinya. Justru ketika seorang mampu melayani dengan tulus, itu adalah sebuah kebanggaan.

Kesan yang dalam saya dapat ketika berdiskusi dengan seorang senior di KMPA ITB, unit kepecintaalaman. Ketika itu ia bertanya, “Menurut lo, gimana kalo ada anggota muda yang males kalo disuruh bikin kopi?” Saya jawab, “Ya gue si coba sindir-sindir aja sampe mau. Ga bagus kalo dipaksa.” Uniknya, dia justru berkata, “Wah, kalo gue, gue tegas-tegas nyuruh. ‘Nyuruh’ ya, bukan ‘minta tolong’. Nyuruh kayak ke pembantu aja.”

Saya agak kaget awalnya, ekstrim juga caranya ya. Tapi lalu dia menjelaskan, “Kenapa gue ‘nyuruh’ mereka bikin kopi? Gue mau mendidik mereka supaya mau mengalahkan egonya, merendahkan harga dirinya buat ngelayanin orang lain. Ini penting banget buat mereka ke depannya. Dengan mereka mau dan bisa mengalahkan ego dan harga diri mereka, mereka nantinya bakal bisa membaur dan bergaul dengan siapapun. Apalagi kita pecinta alam, lo harus bisa bergaul sama anak-anak PA lain yang tipenya kayak gimana pun. Dan kalo lo belum bisa mengalahkan ego lo itu, lo akan merasa ‘tinggi’ dan ga akan bisa dan mau bergaul dengan anak PA lain atau penduduk lokal kalo lagi sosped.

***

Ada yang bilang, “pemimpin adalah pelayan”. Prinsip ini pun simpel tapi luar biasa benar. Prinsip budha pun hampir sama. Para biksu itu bahagia ketika bisa melayani. Bukan cuma biksu, semua pengemban tugas sebagai pendakwah seharusnya punya prinsip yang sama.

Jadi jangan merasa bangga dan puas ketika banyak yang melayani kita. Karena itu sebenarnya tidak menunjukkan apa-apa selain ketidakmampuan kita mengurus diri sendiri dan mengelola emosi. Lebih lagi, semoga kita bisa menghargai orang-orang yang mau melayani, baik tuntutan profesi maupun panggilan pribadi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s