Takut Punya Mimpi


Saya terkadang takut untuk punya mimpi dan cita-cita.

Kok bisa? Padahal, bermimpi itu gratis, ga ada syarat apa pun, ga dilarang. Kenapa harus takut?

Karena, saya sadar, bermimpi, punya mimpi dan cita-cita, adalah sebuah HAK yang harus DIPERTANGGUNGJAWABKAN. Punya mimpi yang ingin dicapai itu bukan sekedar berkhayal lalu selesai. Itu namanya panjang angan-angan. Mimpi, begitu sudah ditetapkan, tanggung jawabnya itu sama diri sendiri. Bukan sama orang lain. Toh, yang tau mimpi kita ya diri sendiri. Kecuali mimpi itu sempat diceritakan atau dibagi.

Itu lah kenapa saya seringkali takut untuk punya mimpi. Takut sama pertanggungjawaban besar di belakangnya. Takut ditagih janji sama diri sendiri, yang mana sebenarnya lebih harus ditepati daripada janji ke orang manapun.

Satu dua kali, saya sempat terbersit untuk punya mimpi besar. Tapi saking besarnya, saya justru takut untuk mempertanggungjawabkannya. Mungkin orang anggap hal ini sepele. Tapi, saya lebih baik merasakan ketakutan itu karena menyadari besarnya tanggung jawab dari sebuah mimpi, dari pada mengobral mimpi-mimpi besar, baik kepada orang lain atau pada diri sendiri, sementara menganggap itu sekedar pikiran lewat saja. Tidak perlu pembuktian. Tidak perlu tanggung jawab.

Ya, saya memang takut. Tapi ketakutan itu bukan untuk dihindari. Sebuah ketakutan pantas untuk dihadapi jika   ada kebaikan besar dibaliknya. Dan pada suatu titik, ketika mimpi itu ditetapkan, ditancapkan dalam-dalam sampai ke ubun-ubun, itu lah arah ke mana semua energi kita harus disalurkan.

Akhir-akhir ini sedang tren istilah 5 cm. Sebuah istilah sederhana tapi penuh makna tentang pertanggungjawaban mimpi yang diperkenalkan melalui sebuah perjalanan mendaki gunung. Ya, memang harus seperti itu. Kalau perlu, bukan hanya 5 cm menggantung di depan mata. Tapi taruh di belakang kelopak mata. Supaya bahkan saat tidur pun, mimpi itu yang terlihat.

Pertanggungjawaban mimpi, seperti pertanggungjawaban sebuah amanah atau jabatan. Memang seharusnya ditakuti. Tapi bukan para pengecut yang tersenyum paling akhir. Mereka lah yang berani menginjak-injak rasa takutnya, dan menjajal resiko yang ada, dengan akal sehat dan hati yang bersih.

Terakhir, mimpi itu boleh dibagi. Apalagi dengan orang-orang yang kita yakini bisa menjadi dukungan besar untuk kaki yang lelah melangkah atau kepala yang berdenyut terlalu keras. Mereka yang mau dan mampu menjadi tangan untuk menarik dari atas dan mendorong dari bawah, membantu untuk mencapai puncak yang bernama “mimpi” itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s