Resign dan Respon


Responnya beda-beda. Ada yang bilang hebat, nekat, salut, tapi ada yang mata dan raut mukanya seperti berkata “bodoh kamu”.

Itu yang saya dapatkan setelah saya mengambil sebuah keputusan yang cukup besar: resign dan fokus memulai bisnis.

Yang bilang hebat, mungkin karena banyak hal. Mungkin karena menurut mereka bisnis adalah urusan semalam jadi, mungkin juga karena menganggap saya berbangga hati karena sudah pindah posisi jadi bos di perusahaan sendiri, mungkin juga karena dianggapnya saya mengambil langkah ini dengan gagah berani tanpa ketakutan sedikitpun.

Yang bilang nekat, jelas karena saya melepas gaji rutin yang tiap akhir bulan “hinggap” di rekening bank lalu bergantung pada keinginan orang membayar jasa yang saya jual. Mungkin juga ada alasan lain. Mungkin karena saya baru setahun kerja udah nekat melepasnya dan mulai bisnis dari nol, mungkin juga karena dianggapnya saya kurang memikirkan masa depan saya akan seperti apa tanpa naungan korporat raksasa, atau mungkin juga karena modal ilmu bisnis yang belum ada tapi udah nekat mulai.

Yang bilang salut, mungkin karena menghargai keputusan saya untuk membela cita-cita dari pada jabatan dan gaji pasti. Ada yang bilang, di perusahaan tempat saya dulu bekerja, keputusan seseorang untuk berhenti kerja akan lebih dihargai jika motifnya bukan kurangnya gaji atau kerjaan yang kurang cocok, tapi jika motifnya untuk sekolah lagi atau pindah profesi. Mungkin itu yang jadi alasan respon ‘salut’ ini. Mungkin juga karena udah berani sebar-sebar kartunama sendiri dengan jabatan yang sok-sokan.

Tapi, sebenarnya lebih banyak yang tidak merespon dengan jelas, hanya mengernyitkan dahi, memainkan alis, memicingkan mata, atau memiringkan kepala. Seolah-olah berkata “bodoh kamu!” Rata-rata yang kasih respon macam ini adalah saudara-saudara, om tante, atau kerabat-kerabat yang umurnya udah sepantar orang tua.

Sebenarnya ini respon yang memang paling wajar dan manusiawi ketika mendengar keputusan yang saya ambil. Bagaimana tidak? Perusahaan tempat saya bekerja punya titel sebagai emporium bisnis lokal terbesar di Indonesia, bahkan namanya sudah besar juga di Asia. Gaji saya pun lumayan. Jabatan yang ditawarkan pasca penyampaian maksud resign pun bukan sembarangan. Sejak awal saya sudah dikumpulkan dengan rekan-rekan kerja yang bahkan lebih cocok saya panggil om tante dari pada mas atau mbak. Bukan hal sulit untuk menghadap orang-orang di level middle dan top manager, bahkan hampir tiap minggu. Kalau saya mau, mungkin saja saya bisa lompat ke bapak perusahaan dari grup besar ini. Semua kemapanan seperti sudah terproyeksi dengan jelas, seperti sudah terjadi saja.

Namun, proyeksi yang sangat jelas ini lah yang ternyata membuat saya memilih untuk tidak berjalan di jalan ini. Garis bawahi kata “memilih”. Karena memang, semuanya kembali kepada pilihan pribadi. Saya justru belajar banyak dari rekan-rekan kerja di sekitar. Kondisi rekan-rekan saya justru membantu saya menyusun proyeksi itu. Ada yang lebih memilih jalan ini dan mampu bertoleransi dengan semua konsekuensinya, meskipun kadang nalar dan hati saya tidak sanggup membayangkannya. Tetapi ada juga yang memang tidak punya pilihan lain. Bukan “ada” tetapi “banyak”. Dan oleh karena itu saya sangat menghormati apa yang dilakukan kelompok ini meski ada sedikit iba.

Proyeksi ini membuat saya berpikir dan menghasilkan statement yang cukup jelas, “Kalau memang harus bersusah payah sampai setengah mati, pilihlah yang bisa dinikmati, dan lakukan itu sedini mungkin. Selama masih ada cukup energi, selama belum banyak perut untuk diisi. Karena rumus hidup selalu sama, setelah kesusahan ada kemudahan. Dan mungkin kalau yang ditemui lebih banyak kemudahannya dulu, harus khawatir kalau-kalau datang kesusahan di belakang. Masih banyak hal yang lebih penting daripada mengejar materi. Uang bisa dicari, waktu kalau lewat ga akan balik lagi, fisik kalau sudah usang ga akan jadi baru lagi, anak kalau sudah besar ga bisa dipaksa kecil lagi, orang tua kalau sudah ga ada, gimana mau kembali.”

Kata-kata terakhir memang mungkin agak naif tapi memang begitu kenyataannya. Akhirnya saya tidak memuja idealisme dan menyingkirkan realitas. Tapi selalu ada cara untuk mempertahankan keduanya, meskipun lebih banyak energi dan usaha yang harus dikeluarkan, meskipun banyak resiko yang membayang-bayangi.

Setelah ini, dan sampai kapan pun, saya akan menerima respon apa pun itu. Rumus “man jadda wajada” pun saya terus pegang. Rumus “man yattaqillaha yaj’allahu makhroja wa yarzuqhu min haitsu laa yahtasib” juga tetap berlaku.

Terakhir, mohon doanya supaya kita semua bisa konsisten di jalan yang baik dengan caranya masing-masing, supaya bisa sukses semua yang diusahakan, dan supaya yang sekarang dilakukan bisa dipetik hasil manisnya nanti. Aamiin🙂

NB:
Ketinggalan. Bisnisnya apa? See facebook.com/terasnusantara, @terasnusantara, or http://www.terasnusantara.com which will come very soon.

5 thoughts on “Resign dan Respon

  1. buatlah perencanaan yang baik untuk menjalani hidup. jika tidak membuat perencanaan tersebut maka kita akan menjadi bagian dari perencanaan orang lain.

  2. Semangat yasiir! Hebat deh, gw sampe skrng masih selalu salut sama org yang mau buka usaha sendiri dan memperkerjakan banyak orang, walaupun dimulai dari nilai yang kecil. Semoga berhasil sir,, aamiin…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s