Alam Paradoks


Sadar atau tidak, alam dunia ini didesain oleh Yang Maha Pencipta dengan serba terbalik. Bukan secara harfiah salah buat, tetapi memang ada hal-hal dalam konteks makna yang ternyata memang diset terbalik atau paradoks. Saya coba uraikan sedikit hal yang saya maksud itu.

Konsep harta. Logikanya, kalau kita sedang butuh atau ingin uang yang lebih banyak dari biasanya, maka harus ditabung, harus menghemat pengeluaran, dan harus mencari lebih keras lagi. Tapi di sisi lain, ada yang namanya sedekah. Sedekah ini menurut saya hukum alam, bukan sebatas hukum Islam. Sedekah justru bekerja secara terbalik. Kalau kita sedang butuh uang, maka sedekahkan yang kita punya. Aneh ya… Bukan justru dihemat tapi malah dikeluarkan lebih banyak. Dan ini bukan omong kosong. Seperti saya sebut tadi, konsep berbagi itu adalah hukum alam. Hukum di mana ketika kita memberi, maka kita akan menerima lebih banyak di masa depan. Sama seperti hukum fisika, benda jatuh pasti ke bawah. Buktinya pun sudah banyak. Ada istilah filantropi yaitu sikap gemar berbagi yang mulai populer di kalangan orang-orang terkenal. Jackie Chan ialah salah satu artis dunia yang sudah berkomitmen untuk menjadi seorang filantropi atau pengabdi sosial setelah ia pensiun dari dunia akting. Bill Gates bahkan sudah menerapkan sejak lama. Dan hartanya makin tahun makin banyak saja, tidak justru bertambah.

Di dalam Islam, sedekah pun punya kedudukan istimewa di mata penduduk langit. Balasan di dunia yang dijanjikan ialah 10 kali lipat dari apa yang diberikan. Sedangkan di mata Allah, ada hingga 700 derajat pahala. Bahkan lebih. Dan sedekah ini pun menurut saya adalah persimpangan antara ibadah hablum minallah dengan hablum minannas. Seperti juga zakat.

Konsep lainnya ialah terkait kesibukan. Ada sebuah nasihat yang bunyinya begini. Jika ingin urusanmu dipermudah, maka permudahlah urusan orang lain. Ini bukan dalam konteks birokrasi lho ya. Ini dalam konteks saling menolong. Ini juga sebuah paradoks. Logikanya, kalau kita sedang menemui sebuah kesulitam atau kesibukan atau perkara yang berat, maka yang harus dilakukan adalah fokus menyelesaikan masalah itu. Kalau bisa 100% waktu kita pakai untuk itu. Urusan yang lain, apalagi urusan orang lain, nanti dulu. Tapi justru konsep ini terbalik. Kalau sedang menghadapi urusan yang rumit, justru luangkan waktu untuk membantu orang lain menyelesaikan masalahnya. Dengan begitu, justru masalah kita akan jadi lebih mudah selesai. Apa karena orang yang kita bantu itu memberi pertolongan balik? Bisa jadi tapi tidak melulu begitu. Pertolongan bisa datang dari mana pun. Bukti nyatanya mungkin lebih susah dicari ketimbang fenomena yang pertama, tapi silakan iseng dicoba dan buktikan sendiri.

Islam pun menganjurkan hal ini. Menganjurkan untuk tolong menolong, terutama dalam hal yang baik.

Saya baru bisa menulis dua contoh yang insya Allah sudah terbukti memang sebuah paradoks. Tapi ada banyak hal lagi yang ternyata punya hakikat paradoks juga. Tapi seperti dua contoh di atas, ada klausul “Logikanya…” yang menutupi hakikat-hakikat paradoks itu. Beyond logic.

Ada yang menamainya “berpikir cara kanan”, ada yang menamainya “kecerdasan spiritual”, dan macam-macam lagi. Tapi saya memudahkannya dengan pemahaman paradoks. Bahwa banyak hal di alam dunia ini yang sebenarnya butuh pikiran terbalik untuk menyikapinya. Dan hukum Islam sudah menjabarkannya sangat detil sejak ribuan tahun lalu, lewat al-Qur’an dan teladan Rasulullah. Kalau dua hal ini diperhatikan lagi, banyak sekali konsep terbalik di dalamnya. Konsep “beyond logic”. Konsep langit yang di luar nalar.

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s