Hidup Seperti Nyusun Genteng


Beberapa minggu lalu, saya untuk pertama kalinya memperbaiki atap rumah. Pasalnya udah lama bocor tapi si empunya kontrakan ga juga muncul dan ga bisa dihubungi. Akhirnya saya dan penghuni kontrakan lain berjibaku memperbakinya.

Singkat cerita, memang si genteng-genteng di atap ini ga disusun dengan baik. Entah kenapa. Walhasil kami putuskan untuk menyusun ulang genteng-genteng itu. Di sini lah saya belajar sesuatu dari proses susun genteng ini.

Susun genteng ini harus di mulai dari sebuah genteng yang posisinya paling bawah dan paling kanan. Genteng selanjutnya harus disusun ke kiri sampai satu baris habis, baru dilanjut ke satu baris di atasnya dan harus dimulai dari sisi paling kanan lagi. Dan begitu selanjutnya sampai genteng terakhir di baris paling puncak dan paling kiri. Semuanya harus teratur dan sabar dalam prosesnya.

Saya merenung dan tertawa sendiri waktu itu. Ternyata susun genteng ini ibarat membangun kehidupan.

Pertama, harus sabar, telaten, tertib, dan teliti. Itu syarat mutlak. Meskipun terik matahari lagi panas-panasnya, tapi kita tahu, lebih baik menyusun genteng sekarang dan kepanasan supaya kalau nanti hujan, udah ga bocor lagi.

Kedua, harus dimulai dari sebuah genteng. Ga bisa kita pasang langsung sebaris. Harus dari satu keping genteng dan harus dari paling bawah. Ga bisa kalau mau susun atasnya dulu. Yang ada si genteng ini bakal buruk susunannya dan air hujan tetap tembus nantinya.

Ketiga, tiap keping genteng ini perannya sama penting terhadap keseluruhan susunan. Kalau ada satu di angkat, maka yang lain kena pengaruhnya. Kalau satu diangkat, semua harus disusun ulang. Ga ada genteng yang beda sendiri kedudukannya atau posisinya. Semua genteng sama bentuknya.

Keempat, yang baru akhir-akhir ini disadari, ketika semua genteng sudah disusun rapi dan lalu hujan turun, air itu akan mengalir dengan rapi dari genteng paling puncak sampai genteng paling bawah. Kalau susunannya ga rapi, nantinya bakal ada aliran air yang melenceng dan ga sampe ke genteng-genteng di barisan bawah. Air hujan ini ibarat rezeki. Kalau kita bersedia nyusun genteng-genteng hidup ini dari bawah dengan sabar dan telaten, ketika kita udah sampai di genteng paling puncak, aliran air hujan rezeki itu bakal mengalir baik sampai ke barisan bawah. Ga akan lupa atau kelewat. Beda cerita kalau kita langsung lompat ke barisan atas. Bisa jadi cuma berhenti sampai barisan atas aja aliran rezekinya. Lebih parah lagi kalau aliran itu sama sekali ga mengaliri genteng lain dan langsung kebuang begitu aja.

Ah genteng, terima kasih untuk pelajarannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s