Sindrom Pra Wisuda dan Prasangka


Saya beberapa kali jadi tempat diskusi (agak gatel kalau pakai istilah curhat) temen-temen deket perihal kegalauan menjelang kelulusan atau disederhanakan jadi sindrom pra wisuda. Kebanyakan punya dilema yang umum: abis lulus kuliah mau ngapain?

Begitu ditanya balik “emang ada opsi apa aja?” Dijawabnya, “ya kalo ga kerja, ya kuliah lagi”

Standar? Tipikal?

Mungkin ada yang nilai “dangkal” banget, atau mainstream banget. Mungkin ada yang mikir, “kenapa ga bisnis? Keren kan tuh. Lagi ngetrend sekarang lho.” Atau ada juga yang nilai, “huh, munafiq! Dulu aja koar2 soal nasionalisme di kampus, sekarang kerja di perusahaan asing yang gajinya dua digit.” Atau bahkan ada yang kasih opsi lain, “nikah dulu aja!”

Stop dulu sobat!

Stop dulu nilai menilainya. Jangan dulu cap si anu budak korporat, si itu ga punya tujuan hidup, si ono kuliah lagi karena bingung mau ngapain, si inu sok-sok an langsung mulai bisnis padahal ga punya ilmunya.

Stop dulu prasangkanya. Itu murni bukan urusan kita. Yang ada, bukannya nambah khasanah malah bikin kotor hati. Kita ga pernah tau apa alasan dibalik semua tindakan orang. Cuma dia yang tau. Dan alangkah lebih nyaman kalau kita bisa berbaik sangka.

Kalau ternyata si budak korporat itu anak yatim yang punya 4 orang adik dan ibu yang sudah tua,

kalau ternyata si anu kuliah lagi karena itu permintaan terakhir ibunya sebelum meninggal,

kalau ternyata si itu ga bisa ninggalin pekerjaannya sekarang karena sudah punya keluarga yang harus dinafkahi,

kalau ternyata si ono mulai bisnis karena itu cita-citanya sejak kecil dan karena dia ingin mandiri,

maka semua prasangka buruk itu bakal beringsut, menyusut lalu jadi rasa malu dan bersalah.

Jadi sangat merugikan menilai jalan hidup yang dipilih orang lain. Lebih baik perhatikan kaki sendiri: tanah yang dipijak sekarang ini disokong alasan yang cukup kokoh kah? Atau justru tanah ini cuma hasil membuntuti jejak-jejak kebanyakan orang, tanpa kita sadar jejak-jejak ini mengarah ke mana?

Salah-salah justru kita lah sosok buruk yang selalu kita tuduhkan ke orang lain itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s