3 Fase Pendidikan Karakter Manusia


Saya tiba-tiba ingat tentang teori pendidikan karakter yang dulu pernah saya pakai sebagai landasan teori skripsi sarjana saya. Teori ini saya caplok dari sebuah skripsi lain karya mahasiswi psikologi yang membahas tentang pendidikak karakter. Teori yang diterbitkan oleh Lickona ini mengatakan tentang sebuah alur perkembangan karakter baik seorang manusia, di mana ada tahap-tahap yang bisa jadi tolak ukur seberapa matang karakternya.

Di teori itu, dikatakan sebuah karakter yang baik adalah integrasi dari 3 hal, yaitu KNOW the good, FEEL the good, dan ACT the good. Jadi, untuk dapat dikatakan seseorang memiliki karakter yang baik, ia harus memiliki tiga komponen ini. Ia harus tau mana yang baik, ia juga harus “merasa” perlu melakukan yang baik, dan yang terutama, ia juga “bisa” melakukan apa yang dia anggap baik itu.

Jadi sebenarnya ketiga hal ini seperti tiga tahap yang saling berurutan. Untuk bisa menampilkan perilaku yang baik, ya orang itu harus didorong oleh sebuah motivasi. Motivasi yang mendasari perilaku yang dia tunjukkan. Motivasi di sini simpelnya kita bilang sebagai “perasaan” atau sense. Sense untuk melakukan sikap yang ia pilih. Sense ini tentunya didasari dari pengetahuan tentang mana yang baik dan mana yang tidak baik.

Pertanyaannya, kita sekarang ini udah di tahap mana kah? Karena, yang udah TAU belum tentu punya RASA. Yang udah punya RASA, belum tentu punya cukup kekuatan untuk menampilkannya sebagai PERILAKU.

Ada banyak hal yang jadi faktor kritis antara satu fase sama fase selanjutnya. Misalnya, seorang anak kecil, dia harus tau dulu kalau membuang sampah sembarangan itu hal yang buruk dan membuang sampah di tempat sampah adalah hal yang baik. Stop sampai di situ. Sang anak belum tentu akan membuang sampah di tempat sampah selepas ia keluar dari kelas. Karena ia baru sebatas tau.

Lalu apa yang membuatnya merasa ia harus membuang sampah pada tempatnya?

Ini sedikit lebih kompleks lagi. Bahkan sebenarnya faktor yang ini yang paling ga jelas. Meskipun, paling jelasnya adalah bahwa setiap kita seharusnya bisa jadi “orang baik”. Orang baik ini adalah orang-orang yang melakukan hal-hal yang baik. Jadi sense untuk berbuat baik ini sesederhana klausul umum ini bahwa kita harus melakukan hal yang baik supaya jadi orang baik, HARUSNYA. Tapi nyatanya, banyak juga toh yang tidak merasa dirinya HARUS jadi orang baik. Apalagi di zaman sekarang. Ambil lah contoh sogok menyogok. Pada akhirnya meskipun semua tau kalau menyuap itu buruk, tapi dia tidak merasa bahwa dia harus jadi orang baik dengan tidak menyuap, karena buat apa jadi orang baik sementara mayoritas orang justru tidak baik. Sense tentang “harus jadi orang baik” nya pun ga ada. Ada faktor lain yaitu pengaruh lingkunga yang akhirnya membuat dia tidak merasa butuh jadi orang baik. Sama halnya seperti anak-anak yang lahir di lingkungan penjahat. Dia tau apa yang dilakukan orang-orang di lingkungannya itu buruk. Tapi dia ga merasa perlu untuk jadi orang baik karena mungkin dia ga melihat ada keuntungan dari menjadi orang baik.

Sebutlah kita berada di lingkungan yang baik, yang secara kontras bisa memberikan respon terhadap kita atas perbuatan buruk yang kita kerjakan. Misalkan kita ada di lingkungan yang sangat menjaga kebersihan. Begitu kita buang sampah sembarangan, orang-orang di sekitar kita akan memberi “hukuman sosial” atas perilaku itu. Dengan begitu, kita jadi punya “sense” untuk ga buang sampah sembarangan, karena sadar apa kerugian dari melakukan hal buruk, atau apa keuntungan dari melakukan hal baik.

Sejauh ini setidaknya ada 2 ceklist yang perlu diadakan: pengajaran dan lingkungan. Saya tidak menyebut kata “pengajaran” dengan kata “pendidikan” untuk memberi penekanan bahwa “pendidikan” itu mencakup keseluruhan proses pembentukan karakter baik, sementara “pengajaran” hanya berupa proses transfer pengetahuan kepada seseorang.

Sekarang, sense dan pengetahuan itu sudah kita punya. Tapi ada tahap ketiga yaitu mewujudkannya menjadi perilaku. Saya yakin di Indonesia ini masih banyak orang yang punya hati dan logika yang sehat. Hati dan logika ini yang melahirkan sense untuk berbuat baik. Tapi nyatanya, masih banyak juga orang yang melakukan hal tidak terpuji meskipun dia tau itu buruk dan dia merasa seharusnya dia tidak melakukannya. Faktor-faktor di tahap terakhir ini ternyata jauh lebih kompleks dan beragam. Mayoritas kembali pada pribadi masing-masing.

Ambil lah contoh paling ekstrim seorang gadis yang melakukan aborsi karena hamil di luar nikah. Dia jelas tau membunuh bayinya itu sebuah kejahatan. Dan sebagai ibu, sense dia tentu cukup kuat terhadap janinnya itu. Perasaannya pasti mencegahnya dari aksi aborsi ini. Tapi, ada faktor lain seperti rasa takut dan rasa malu. Takut ketahuan orang lain kalau dia hamil di luar nikah, apalagi orang tua. Malu sama masyarakat. Takut belum siap. Takut masa depannya berantakan. Takut dan malu.

Yang tidak terlalu ekstrim ada banyak. Misalkan, memberi sedekah untuk orang yang butuh. Jelas-jelas dia merasa kasihan dan tau kalau membantu itu baik. Tapi dia punya kebutuhan lain misalkan. Atau contohnya seorang pejalan kaki yang melihat nenek-nenek kesulitan menyebrang. Dia bisa saja melengos pergi meskipun tau dan merasa kasihan karena dia malas.

Di samping itu, ada satu virus buruk dalam pikiran kebanyakan masyarakat perkotaan yang berpikir bahwa “pasti ada orang lain yang bakalan bantu, jadi gua ga perlu bantu”. Dan kayaknya, virus ini cukup banyak menjangkiti kepala-kepala kita, khususnya masyarakat perkotaan. Atau virus-virus lain seperti virus “bukan urusan kita” dan virus “lain kali”.

Pada akhirnya, butuh “kekuatan” yang ga sederhana untuk seseorang beranjak mewujudkan pengetahuan dan perasaannya ke dalam sebuah tindakan. Tapi, justru banyak orang-orang hebat yang menganggap itu hal yang sederhana. Ga perlu alasan terlalu rumit untuk mereka melakukan aksi-aksi baik. Mungkin itu yang membedakan, kesederhanaan dalam menyusun motif. Ga perlu alasan yang rumit untuk melakukan hal-hal baik, dan ga perlu alasan yang rumit juga untuk menghindari suatu hal buruk.

Ceklist yang ketiga, setelah pengajaran dan lingkungan, adalah motivasi. Motivasi yang saya maksud bukan aktivitas hingar bingar penuh euforia yang meletupkan emosi dan semangat sampai ke ubun-ubun dalam waktu sesaat, lalu lenyap dalam hitungan jam setelah semua aktivitas itu selesai. Motivasi yang saya maksud ialah penataan motif dan pola pikir yang melibatkan logika dan perasaan yang cukup mendasar, sehingga tidak serta merta hilang begitu saja ketika berhadapan dengan keadaan. Motivasi yang saya maksud ialah proses berantai menjawab berbagai pertanyaan “mengapa” hingga berujung pada satu motif dasar yang paling menentukan karakter seseorang. Motif dasar itu sudah bukan di ranah emosi maupun logika, tapi biasanya spiritual. Karena, emosi itu sifatnya berubah-ubah, dan logika itu dapat direkayasa. Tapi keyakinan, iman, meskipun kualitasnya naik turun, tapi bentuknya tetap.

Pengajaran untuk ilmu, sifatnya fisik dan dapat direkayasa. Fokusnya kepada ketersampaian ilmu dan informasi.

Lingkungan untuk emosi, sifatnya psikis dan cenderung berubah-ubah. Fokusnya kepada konsistensi dan ketegasan dalam merespon setiap sikap. Pembentukan mental dengan cara pengulangan yang konsisten.

Motivasi untuk energi, sifatnya spiritual dan naik-turun. Fokusnya kepada pembangunan fondasi yang kokoh dalam penyusunan motif, dengan cara menuntun diri dalam menjawab berbagai kata tanya “mengapa” sampai pada motif paling dasar.

Sekian sharing pemikiran dari saya. Kalau ga begitu bermanfaat, setidaknya saya sudah mendokumentasikan modal mendidik anak dalam bentuk eksplisit, bukan tasit.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s