Sebuah Simpangan


Mata itu masih seteduh dahulu
Masih sering tertunduk malu
Namun kali ini ia tertunduk lebih dalam

Tertunduk
Terisak
Tercucurkan air mata

Dalam sela tarikan nafas
Ia mencoba mengucap
Tapi gagal
Dan ia pun menunduk makin dalam
Lalu berdiri, berpaling dengan tangan di muka

Aku hanya mematung
Menunggu apapun yang Tuhan sudah tulis
Aku serahkan semuanya
Aku sudah tunaikan tugasku, Tuhan

Dan aku masih mematung
Menghitung lembaran-lembaran cerita
Yang tiba-tiba muncul, seperti kilat
Mengingatkan bahwa semua kilasan ini
akan menemukan persimpangannya
Segera

Ia masih mencuri-curi nafas
Menyampaikan pesan dengan sisa ketegaran
Mata teduh itu memerah
Basah

Dan siang itu, Tuhan membuka satu tabir
Lewat lisannya, dengan mata yang masih tertunduk
Bahwa jalan ini Ia restui
Tanpa cela, dengan manis
Tanpa ingkar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s