Hanya Cermin


Dunia ini sungguh hanya memantulkan saja. Ia tersenyum jika kita tersenyum. Ia menjadi jahat jika kita jahat.

Seseorang hanya akan dihormati sebenar-benarnya jika memang ia pantas untuk dihormati. Penghormatan yang sejatinya tak sesuai pasti akan hilang dengan sendirinya. Pahlawan benar-benar dikenang jika memang ia pantas dikenang, jika ia berkorban begitu besar sehingga sikapnya lestari dalam ingatan.

Seseorang hanya akan didengar dan diikuti jika memang ia pantas. Maka jangan melulu salahkan anakmu jika ia selalu membangkang. Mungkin memang kamu bukan orang tua yang pantas untuk ditaati. Maka jangan melulu salahkan istrimu jika ia tidak pernah mendengarkan nasihatmu. Mungkin dirimu belum baik, sebagai pribadi maupun sebagai suami. Masih cacat sana sini. Sehingga bukannya dihormati dan ditaati, justru kamu seakan tidak pantas untuk sekedar disimak ucapannya oleh istrimu.

Dunia dan manusia ini hanya pantulan. Jangan salahkan cerminnya jika yang ditampilkan adalah wajah penuh amarah dan tak ramah. Justru jadikan ia sebagaimana hakikatnya cermin, untuk memeriksa bentuk diri: sudah baik kah, atau masih buruk. Jika dunia tidak ramah pada kita, mungkin memang kita kurang ramah padanya. Dan itu bukan hukuman, hanya pantulan, hanya respon. Kita tidak jadi dirugikan jika pantulan wajah kita memang kurang ramah. Pantulan hanya mengembalikan apa yang sudah dipancarkan. Jangan cemberut jika ingin pantulan wajah kita tersenyum. Sayangnya, masih banyak yang tetap berharap wajahnya tersenyum di cermin, padahal ia jelas-jelas sedang cemberut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s