Kebiasaan dan Keterbiasaan


Prang!!! Akhirnya puasa menulis ini pecah juga. Sudah mulai jengah rasanya tidak menulis isi kepala (which seriously done) hampir setahun ini. Mudah-mudahan berbagi cerita dan pikiran ini bisa jadi jalan manfaat buat yang baca ya. Aamiinn.

Saya sebenarnya sudah melongkap beberapa kewajiban menulis, terutama tentang perjalanan saya dan istri saya, yang mulanya hanya teman sekelas, dan akhirnya kini jadi teman sehidup semati ūüėõ Tapi, secara saya cukup sulit mengembalikan mood menulis ini, jadi ya sudah, apa yang ada di kepala dicurahkan saja segera, mumpung masih mau, hehe…

Di bulan ke-9 pernikahan kami, alhamdulillah masih banyak hal manis yang kami alami, dan semoga semakin banyak. Namun hal pahitnya juga pasti ada dan ga bisa dibilang sedikit juga. Tapi saya selalu menekankan ke diri sendiri, dan juga ke istri, bahwa salah satu semangat yang harus terus dijaga itu adalah semangat belajar. Belajar dari APAPUN dan tentang APAPUN. Baik itu dari sekedar rasa masakan yang kurang asin, atau dari kerutan karpet yang selalu ada setiap saya bangun dari duduk. Baik itu tentang memahami karakter pasangan seutuhnya, atau tentang teknik menyusun baju supaya rapi dan muat di lemari. Semua hal! Karena saya yakin, kami yakin, bahwa mental pembelajar lah modal paling penting dalam menjalani semua ini. Orang dungu pun bisa jauh lebih beruntung dari si pintar jika mental pembelajarnya ribuan kali lipat.

Dan belajar memahami pasangan ialah salah satu hal yang paaaling berat untuk dijalani. Gimana nggak?

Pertama, dan paling utama, saya lelaki dan istri wanita (dan alhamdulillah begitu :P). Hal paling mendasar ini lah yang membawa segudang materi perkuliahan untuk dipahami. Bukan sekedar materi kuliah umum yang cukup dengan skill mengarang saja sudah bisa dapat A. Tapi materi kuliah yang dipakai oleh penulis naskah Interstellar dalam menyusun filmnya, luar biasa rumit dan bahkan tidak pernah kita dengar sebelumnya. Hmm, mungkin saya akan bahas ini di tulisan terpisah saking banyaknya perbedaan yang harus kami pelajari, hanya karena saya mengutamakan logika, dan istri saya, secara fitrah, lebih mengutamakan rasa.

Kedua, kami tidak menjalani pacaran seperti artis-artis di TV, seperti anak-anak SMU di film Diam Diam Suka, atau seperti drakula dan manusia seperti di film Ganteng-Ganteng Serigala. Kami hanya sempat kenal waktu SMA, lalu menyimpan diam-diam kekaguman pada satu sama lain. Hmm, mungkin saya agak-agak lebih terbuka ya soal ini hehe..

Tapi poinnya adalah kami baru benar-benar mulai berinteraksi secara intensif dan mengenal dari interaksi tersebut, setelah kami menikah. Sebelumnya, komunikasi kami hampir seluruhnya via media elektronik (yaa sesekali media cetak juga). Itu pun kami jalani dengan sangat hati-hati, karena kami berdua alhamdulillah sudah paham soal koridor-koridor yang terlarang untuk dijajaki selama belum menikah. Yang cukup membantu ya ketika proses menjelang pernikahan (kurang lebih 2 tahun sebelumnya :P) karena kami beberapa kali bertemu secara fisik dan membicarakan satu dua hal. Tapi lagi-lagi, itu pun tidak intensif. Saya lebih sering berduaan dengan bapak mertua malahan. Bahkan hampir-hampir disuruh nikah sama bapaknya saja ūüėÄ Singkatnya ialah kami belum begitu tau hal-hal apa saja yang ia “terbiasa” dengannya, dan hal-hal apa yang jadi “kebiasaan” nya.

Nah, dua poin ini yang ingin saya angkat di tulisan ini. Bahwa masing-masing dari kami membawa dua elemen yang mengandung kata “biasa” dari kehidupan kita masing-masing. Hal itu ialah “kebiasaan” dan “keterbiasaan”. Untuk soal kebiasaan, saya sudah menyadarinya bahkan sebelum menikah. Namun untuk “keterbiasaan”, saya baru memahaminya belakangan ini. Apa bedanya?

Kebiasaan ialah perilaku, amalan, aktivitas, atau sikap yang kita sering melakukannya, berulang-ulang, baik secara sadar maupun tidak. Kadang positif, tapi lebih sering negatif. Kebiasaan ini yang mutlak hanya bisa teramati jika kita sudah mengalami interaksi langsung secara intensif dan lama dengan seseorang. Misalnya, saya baru tau kebiasaan seorang teman yaitu suka buang angin sembarangan, hanya jika kita sudah berinteraksi cukup lama, cukup intensif. Kenapa? Karena kebiasaan-kebiasaan itu, terutama yang buruk, tidak akan pernah tampil dan ditampilkan di awal-awal pertemuan. Tidak mungkin kita sekonyong-konyong “ngupil” di depan orang yang baru kita kenal di kereta. Alasannya? Jelas untuk menjaga image. Tapi, kita tentu sudah nggak segan-segan lagi untuk “ngupil” di depan teman-teman akrab kita atau adik kakak kita. Secara nggak sadar, kita jadi lebih merasa “bebas” untuk menunjukkan kebiasaan-kebiasaan kita, terutama yang buruk, jika kita sudah relatif dekat dengan seseorang.

Apa itu buruk? Hmm, saya angkat sisi baiknya dulu. Positifnya ialah, itu menjadi indikator bahwa seseorang sudah merasa dekat dan nyaman dengan kita. Sangat nyaman. Hingga ia sudah menafikan rasa gengsinya di depan kita. Negatifnya? Jelas ketika kebiasaan itu cukup buruk, bahkan bisa mencoreng image kita di depan seseorang, atau bahkan sudah pada level mengganggu dan mengkhawatirkan, kebiasaan buruk bisa jadi bom waktu. Seiring melunturnya toleransi, kebiasaan buruk yang mengganggu ini bisa suatu saat jadi bahan konflik yang sangat berbahaya, karena sudah menyerang salah satu sisi paling melekat dengan diri seseorang. Seperti kalau kita sudah menghina fisik seseorang, si hidung pesek misalnya. Mengangkat kebiasaan buruk seseorang sebagai bahan celaan juga bisa sangat melukai, karena kebiasaan melekat dengan kepribadian.

Dalam pernikahan pun begitu. Sebelum menikah dan di awal pernikahan, kebiasaan-kebiasaan buruk ini akan ditekan sekuatnya supaya nggak muncul. Wajar. Karena manusia cenderung ingin mempertahankan citra baik di mata manusia lainnya, apalagi seseorang yang kita sukai. Namun seiring berjalannya waktu, kebiasaan-kebiasaan buruk kita pun mulai muncul. Seiring dengan rasa dekat dan nyaman tadi yang semakin kuat. Sudah satu paket.

Nah, yang jadi soal ialah tentang TOLERANSI dan keinginan untuk MEMPERBAIKI. Seberapa toleran kah kita terhadap kebiasaan buruk pasangan, dan seberapa besar keinginan kita untuk memperbaiki kebiasaan buruk kita yang tidak disukai pasangan. Dua hal ini juga harus sepaket datangnya. Toleransi artinya kita mencoba “menerima”, dan memperbaiki kebiasaan artinya kita coba “memberi”. Sebisa mungkin, kita menghindari sikap “meminta” atau “menahan”. “Meminta” pasangan kita untuk memperbaiki kebiasaan buruknya, meski di beberapa hal diperlukan, cenderung sulit dan melukai, apalagi kalau penyampaiannya salah. Itu ibarat meminta seseorang supaya hidungnya yang pesek dibuat mancung. Mungkin kebiasaan buruk itu memang masih bisa diubah, nggak seperti hidung pesek. Tapi akan lebih baik kalau dirinya sendiri lah yang menyadari dan berusaha memperbaiki. Sedangkan “menahan” maksudnya acuh dan membiarkan kebiasaan buruk kita semakin menjadi, meski sudah jelas pasangan kita kurang menyukainya. Saya coba menekankan pada diri sendiri bahwa semuanya mesti bermula dari “saya” dulu, dari apa yang bisa “saya” lakukan.

Nah, gimana dengan “keterbiasaan”? Saya pakai istilah ini untuk merujuk pada kondisi-kondisi yang kita terbiasa dengannya. Contohnya, saya terbiasa meminum teh hangat setiap¬†pulang¬†kerja, saya terbiasa mendapati teh hangat itu sudah tersaji di meja nggak lama setelah saya tiba. Ya, ibu saya yang membuatnya. Atau, di rumah, saya terbiasa mendapati setiap waktu makan tiba, nasi, lauk, dan sayur sudah tersedia di meja makan. Lagi-lagi yang menyediakan ibu saya. Saya tidak perlu repot-repot membeli, mencari, atau memasaknya.

Lalu, bagian mana yang jadi persoalan? Keterbiasaan ini sudah menjadi pola yang melekat di dalam pikiran kita, bahkan sampai-sampai membentuk pola perilaku. Nah, dalam rumah tangga yang baru dibangun, pola ini dibenturkan dengan kondisi baru yang serba berbeda. Sudah tidak ada lagi ibu kita di rumah (tapi kalau yang tinggal sama orang tua atau mertua beda kasus ya). Jika waktu tiba di rumah selepas kerja, saya nggak mendapati teh hangat itu, mesti ada satu dua komponen rasa yang tergelitik (susah dideskripsikannya, maaf jadi agak aneh). Atau, jika waktu makan tiba, perut sudah bunyi-bunyi, tapi ternyata belum ada makanan yang tersaji, empat lima komponen rasa lainnya tergelitik. Lagi-lagi, kesabaran, toleransi, dan kedewasaan kita diuji dari hal-hal sepele macam begini. Seberapa paham kita terhadap kondisinya dan seberapa mampu kita mengendalikan gelitikan-gelitikan rasa tadi.

Itu dari sisi kita. Dari sisi pasangan berbeda lagi. Hal paling umum ialah soal urusan kerumahtanggaan. Misalkan pasangan kita tidak terbiasa mencuci pakaiannya sendiri karena selama di rumah, ada asisten rumah tangga yang mengerjakan. Tapi ketika di rumah tangga barunya harus dihadapkan bahwa salah satu PR yang harus dikerjakan ialah cuci pakaian ini, keterbiasaannya harus dibenturkan dengan kondisi baru. Ini suatu hal baru baginya, dan wajar jika ia butuh beradaptasi. Keterbiasaan lamanya masih mendominasi dan mungkin pikiran dan perilakunya pun masih sama: mendapati semua bajunya sudah bersih dan rapi kembali di lemari.

Melawan keterbiasaan ini juga nggak kalah berat dibandingkan memperbaiki kebiasaan buruk lho. Ada hal-hal yang harus dikorbankan karena kita tidak terbiasa dengannya. Ada tenaga, waktu, dan kadang perasaan segan. Ini yang belakangan ini saya coba pahami dan maklumi, bahwa menghadapi situasi baru, yang mungkin jauh dari keterbiasaan pikiran, jauh dari algoritma dan pola yang sudah terbentuk dan mengakar, butuh usaha dan waktu. Tidak semerta-merta semuanya langsung berjalan normal.

Pernikahan kami ini baru seumur jagung, meskipun saya nggak begitu tau umur jagung berapa bulan. Apakah sekitar 9 bulan atau tidak? Kalau iya berarti kalimat saya sudah benar. Tapi intinya, pasangan-pasangan yang awet sampai tua renta selalu bilang, proses belajar dalam rumah tangga itu ialah proses tanpa akhir. Bukan seperti kuliah yang ada batas wisudanya. Bukan juga seperti seminar motivasi, yang kalau kita nggak paham atau nggak suka materinya, bisa dengan mudah melengos pergi begitu saja.

Jadi mari kita mencoba mentolerir kebiasaan pasangan, memperbaiki kebiasaan buruk diri sendiri, dan memahami kondisi baru yang berbeda, lalu beradaptasi, dan menjadi dewasa bersama.

Advertisements

Hanya Cermin


Dunia ini sungguh hanya memantulkan saja. Ia tersenyum jika kita tersenyum. Ia menjadi jahat jika kita jahat.

Seseorang hanya akan dihormati sebenar-benarnya jika memang ia pantas untuk dihormati. Penghormatan yang sejatinya tak sesuai pasti akan hilang dengan sendirinya. Pahlawan benar-benar dikenang jika memang ia pantas dikenang, jika ia berkorban begitu besar sehingga sikapnya lestari dalam ingatan.

Seseorang hanya akan didengar dan diikuti jika memang ia pantas. Maka jangan melulu salahkan anakmu jika ia selalu membangkang. Mungkin memang kamu bukan orang tua yang pantas untuk ditaati. Maka jangan melulu salahkan istrimu jika ia tidak pernah mendengarkan nasihatmu. Mungkin dirimu belum baik, sebagai pribadi maupun sebagai suami. Masih cacat sana sini. Sehingga bukannya dihormati dan ditaati, justru kamu seakan tidak pantas untuk sekedar disimak ucapannya oleh istrimu.

Dunia dan manusia ini hanya pantulan. Jangan salahkan cerminnya jika yang ditampilkan adalah wajah penuh amarah dan tak ramah. Justru jadikan ia sebagaimana hakikatnya cermin, untuk memeriksa bentuk diri: sudah baik kah, atau masih buruk. Jika dunia tidak ramah pada kita, mungkin memang kita kurang ramah padanya. Dan itu bukan hukuman, hanya pantulan, hanya respon. Kita tidak jadi dirugikan jika pantulan wajah kita memang kurang ramah. Pantulan hanya mengembalikan apa yang sudah dipancarkan. Jangan cemberut jika ingin pantulan wajah kita tersenyum. Sayangnya, masih banyak yang tetap berharap wajahnya tersenyum di cermin, padahal ia jelas-jelas sedang cemberut.

Pergelutan


Setiap individu, seharusnya memiliki pergelutannya masing-masing

Pergelutan yang lebih banyak tidak diketahui

Pergelutan yang sering kali di luar nalar

Yang jika saja kita tau, mungkin membuat alis mata ini menaik sebelah

 

Pergelutan itu yang melahirkan pilihan:

Akan mengaku kalah, atau berjuang habis-habisan

Akan menjadi yang menangis sedu sedan, atau yang tersenyum belakangan

 

Dan sungguh, setiap pergelutan itu pula yang membuat kita tetap hidup

Jika, kita memilih untuk tidak menyerah

Dan sungguh, berbanggalah mereka yang menjadikan dilema sebagai menu pikiran setiap hari

Karena itu tandanya nurani kita masih hidup

Itu tandanya kita masih manusia, yang tidak rela begitu saja disetir oleh dunia

 

Tetap berjuang kawanku…

Perjuangan di dalam pergelutan itu lah yang membuat mu bernilai

Mungkin bukan di mata manusia

Tapi pasti di mata Tuhan

 

Selamat berjuang kawanku…

Aku tidak tahu apa pergelutanmu

Tapi yang jelas, tidak ada pengorbanan yang sia-sia

 

Selamat berjuang kawanku…

Dan pergelutan terberat ialah melawan dirimu sendiri. Sungguh.

Manis itu pasti datang

 

Selamat berjuang untuk dapat hidup dalam hidup

3 Fase Pendidikan Karakter Manusia


Saya tiba-tiba ingat tentang teori pendidikan karakter yang dulu pernah saya pakai sebagai landasan teori skripsi sarjana saya. Teori ini saya caplok dari sebuah skripsi lain karya mahasiswi psikologi yang membahas tentang pendidikak karakter. Teori yang diterbitkan oleh Lickona ini mengatakan tentang sebuah alur perkembangan karakter baik seorang manusia, di mana ada tahap-tahap yang bisa jadi tolak ukur seberapa matang karakternya.

Di teori itu, dikatakan sebuah karakter yang baik adalah integrasi dari 3 hal, yaitu KNOW the good, FEEL the good, dan ACT the good. Jadi, untuk dapat dikatakan seseorang memiliki karakter yang baik, ia harus memiliki tiga komponen ini. Ia harus tau mana yang baik, ia juga harus “merasa” perlu melakukan yang baik, dan yang terutama, ia juga “bisa” melakukan apa yang dia anggap baik itu.

Jadi sebenarnya ketiga hal ini seperti tiga tahap yang saling berurutan. Untuk bisa menampilkan perilaku yang baik, ya orang itu harus didorong oleh sebuah motivasi. Motivasi yang mendasari perilaku yang dia tunjukkan. Motivasi di sini simpelnya kita bilang sebagai “perasaan” atau sense. Sense untuk melakukan sikap yang ia pilih. Sense ini tentunya didasari dari pengetahuan tentang mana yang baik dan mana yang tidak baik.

Pertanyaannya, kita sekarang ini udah di tahap mana kah? Karena, yang udah TAU belum tentu punya RASA. Yang udah punya RASA, belum tentu punya cukup kekuatan untuk menampilkannya sebagai PERILAKU.

Ada banyak hal yang jadi faktor kritis antara satu fase sama fase selanjutnya. Misalnya, seorang anak kecil, dia harus tau dulu kalau membuang sampah sembarangan itu hal yang buruk dan membuang sampah di tempat sampah adalah hal yang baik. Stop sampai di situ. Sang anak belum tentu akan membuang sampah di tempat sampah selepas ia keluar dari kelas. Karena ia baru sebatas tau.

Lalu apa yang membuatnya merasa ia harus membuang sampah pada tempatnya?

Ini sedikit lebih kompleks lagi. Bahkan sebenarnya faktor yang ini yang paling ga jelas. Meskipun, paling jelasnya adalah bahwa setiap kita seharusnya bisa jadi “orang baik”. Orang baik ini adalah orang-orang yang melakukan hal-hal yang baik. Jadi sense untuk berbuat baik ini sesederhana klausul umum ini bahwa kita harus melakukan hal yang baik supaya jadi orang baik, HARUSNYA. Tapi nyatanya, banyak juga toh yang tidak merasa dirinya HARUS jadi orang baik. Apalagi di zaman sekarang. Ambil lah contoh sogok menyogok. Pada akhirnya meskipun semua tau kalau menyuap itu buruk, tapi dia tidak merasa bahwa dia harus jadi orang baik dengan tidak menyuap, karena buat apa jadi orang baik sementara mayoritas orang justru tidak baik. Sense tentang “harus jadi orang baik” nya pun ga ada. Ada faktor lain yaitu pengaruh lingkunga yang akhirnya membuat dia tidak merasa butuh jadi orang baik. Sama halnya seperti anak-anak yang lahir di lingkungan penjahat. Dia tau apa yang dilakukan orang-orang di lingkungannya itu buruk. Tapi dia ga merasa perlu untuk jadi orang baik karena mungkin dia ga melihat ada keuntungan dari menjadi orang baik.

Sebutlah kita berada di lingkungan yang baik, yang secara kontras bisa memberikan respon terhadap kita atas perbuatan buruk yang kita kerjakan. Misalkan kita ada di lingkungan yang sangat menjaga kebersihan. Begitu kita buang sampah sembarangan, orang-orang di sekitar kita akan memberi “hukuman sosial” atas perilaku itu. Dengan begitu, kita jadi punya “sense” untuk ga buang sampah sembarangan, karena sadar apa kerugian dari melakukan hal buruk, atau apa keuntungan dari melakukan hal baik.

Sejauh ini setidaknya ada 2 ceklist yang perlu diadakan: pengajaran dan lingkungan. Saya tidak menyebut kata “pengajaran” dengan kata “pendidikan” untuk memberi penekanan bahwa “pendidikan” itu mencakup keseluruhan proses pembentukan karakter baik, sementara “pengajaran” hanya berupa proses transfer pengetahuan kepada seseorang.

Sekarang, sense dan pengetahuan itu sudah kita punya. Tapi ada tahap ketiga yaitu mewujudkannya menjadi perilaku. Saya yakin di Indonesia ini masih banyak orang yang punya hati dan logika yang sehat. Hati dan logika ini yang melahirkan sense untuk berbuat baik. Tapi nyatanya, masih banyak juga orang yang melakukan hal tidak terpuji meskipun dia tau itu buruk dan dia merasa seharusnya dia tidak melakukannya. Faktor-faktor di tahap terakhir ini ternyata jauh lebih kompleks dan beragam. Mayoritas kembali pada pribadi masing-masing.

Ambil lah contoh paling ekstrim seorang gadis yang melakukan aborsi karena hamil di luar nikah. Dia jelas tau membunuh bayinya itu sebuah kejahatan. Dan sebagai ibu, sense dia tentu cukup kuat terhadap janinnya itu. Perasaannya pasti mencegahnya dari aksi aborsi ini. Tapi, ada faktor lain seperti rasa takut dan rasa malu. Takut ketahuan orang lain kalau dia hamil di luar nikah, apalagi orang tua. Malu sama masyarakat. Takut belum siap. Takut masa depannya berantakan. Takut dan malu.

Yang tidak terlalu ekstrim ada banyak. Misalkan, memberi sedekah untuk orang yang butuh. Jelas-jelas dia merasa kasihan dan tau kalau membantu itu baik. Tapi dia punya kebutuhan lain misalkan. Atau contohnya seorang pejalan kaki yang melihat nenek-nenek kesulitan menyebrang. Dia bisa saja melengos pergi meskipun tau dan merasa kasihan karena dia malas.

Di samping itu, ada satu virus buruk dalam pikiran kebanyakan masyarakat perkotaan yang berpikir bahwa “pasti ada orang lain yang bakalan bantu, jadi gua ga perlu bantu”. Dan kayaknya, virus ini cukup banyak menjangkiti kepala-kepala kita, khususnya masyarakat perkotaan. Atau virus-virus lain seperti virus “bukan urusan kita” dan virus “lain kali”.

Pada akhirnya, butuh “kekuatan” yang ga sederhana untuk seseorang beranjak mewujudkan pengetahuan dan perasaannya ke dalam sebuah tindakan. Tapi, justru banyak orang-orang hebat yang menganggap itu hal yang sederhana. Ga perlu alasan terlalu rumit untuk mereka melakukan aksi-aksi baik. Mungkin itu yang membedakan, kesederhanaan dalam menyusun motif. Ga perlu alasan yang rumit untuk melakukan hal-hal baik, dan ga perlu alasan yang rumit juga untuk menghindari suatu hal buruk.

Ceklist yang ketiga, setelah¬†pengajaran dan¬†lingkungan,¬†adalah¬†motivasi.¬†Motivasi yang saya maksud bukan aktivitas hingar bingar penuh euforia yang meletupkan emosi dan semangat sampai ke ubun-ubun dalam waktu sesaat, lalu lenyap dalam hitungan jam setelah semua aktivitas itu selesai. Motivasi yang saya maksud ialah penataan motif dan pola pikir yang melibatkan logika dan perasaan yang cukup mendasar, sehingga tidak serta merta hilang begitu saja ketika berhadapan dengan keadaan. Motivasi yang saya maksud ialah proses berantai menjawab berbagai pertanyaan “mengapa” hingga berujung pada satu motif dasar yang paling menentukan karakter seseorang. Motif dasar itu sudah bukan di ranah emosi maupun logika, tapi biasanya spiritual. Karena, emosi itu sifatnya berubah-ubah, dan logika itu dapat direkayasa. Tapi keyakinan, iman, meskipun kualitasnya naik turun, tapi bentuknya tetap.

Pengajaran untuk ilmu, sifatnya fisik dan dapat direkayasa. Fokusnya kepada ketersampaian ilmu dan informasi.

Lingkungan untuk emosi, sifatnya psikis dan cenderung berubah-ubah. Fokusnya kepada konsistensi dan ketegasan dalam merespon setiap sikap. Pembentukan mental dengan cara pengulangan yang konsisten.

Motivasi untuk energi, sifatnya spiritual dan naik-turun. Fokusnya kepada pembangunan fondasi yang kokoh dalam penyusunan motif, dengan cara menuntun diri dalam menjawab berbagai kata tanya “mengapa” sampai pada motif paling dasar.

Sekian sharing pemikiran dari saya. Kalau ga begitu bermanfaat, setidaknya saya sudah mendokumentasikan modal mendidik anak dalam bentuk eksplisit, bukan tasit.

unfinished


Saya jelas-jelas belum selesai dengan diri sendiri. Bukan seperti puzzle yang belum utuh. Lebih seperti pelancong dari kampung yang mengira Jakarta itu hanya satu titik saja. Sehingga ketika sudah sampai di Jakarta, dia pun bingung ketika ditanya “mau ke Jakarta daerah mana?”. Dan dia hanya bisa bilang, “ya pokoknya Jakarta!”.

Eling


Dalam suatu diskusi multitopik antara saya dan dua orang teman, saya ditanya,

“Jadi hidup lo sekarang udah enjoy banget ya?”

Waktu itu saya menjawab. Tapi jawaban yang keluar cenderung retoris, sekedar menghindari momen awkward. Padahal di dalam hati langsung bingung waktu ditanya begitu.

Apa iya udah enjoy? Kalau definisi enjoy itu adalah bahagia, belum. Kalau lengkap juga belum.

Lalu saya ingat-ingat lagi jawaban spontan saya tempo hari.

“Justru lagi ga enjoy. Karena ternyata, semua kesibukan ini malah bikin susah khusyu sholat.”

Ternyata kesibukan dunia itu memang meminta korban. Korbannya adalah kedekatan dengan Allah. Bukan dari sisi kuantitas ibadah, tapi dari kualitas. Dan lebih dari itu, dalam 24 jam, waktu untuk mengingat Allah jauh lebih sedikit daripada mengingat tetek bengek urusan printilan sehari-hari yang sebenarnya udah jadi pikiran sehari-hari.

Jadi mendingan nganggur? Itu lebih bahaya lagi. Titik beratnya bukan pada sebanyak apa kegiatan kita, tapi seberapa.sadar kita menjalaninya. Dan kesadaran yang sebenarnya bukan sekedar punya kendali atas semuanya, terukur, terjadwal. Tapi lebih dari itu, memahami dengan jelas fungsi dan kontribusi dari setiap aktivitas terhadap kehidupan dan setelahnya. Semuanya bisa jadi bermakna dan bisa jadi kosong, tergantung semampu apa kita menjawab pertanyaan “mengapa” di belakangnya.

Dan alasan terbaik, mutlak, adalah tentang Allah. Tapi bagaimana menjawab dan mencari keterkaitan yang paling sesuai dengan cara pikir kita, itu yang paling susah.

Akhirnya kembali pada kesimpulan, “kamu ini masih terlalu bodoh, belajar lagi yang banyak supaya paham”

Saya Titip


Saya ini lemah ya Allah, bodoh, serba tergantung, dan tidak berdaya.

Maka,

Saya titipkan keluarga saya di rumah pada Mu, supaya Engkau yang atur rezekinya, Engkau yang bahagiakan, Engkau yang jaga dari penyakit, Engkau yang pastikan makanan mereka cukup dan sehat.

Saya titipkan adik-adik saya di rumah pada Mu, karena saya tidak bisa mendidiknya setiap hari, biar Engkau saja yang menjaga mereka dari pergaulan bebas, dari lingkungan buruk, dari buruk sikap, biar Engkau yang menata pikiran dan sikap mereka supaya jadi anak yang solehah.

Saya titipkan masa depan saya pada Mu, karena saya tidak pernah tahu betul apa yang sudah Engkau siapkan, di jalan apa saya akan berjalan, sepahit apa deritanya, semanis apa kebahagiaannya, karena saya tidak bisa mengatur semuanya seperti yang saya kehendaki, saya hanya bisa berencana dan berusaha semaksimalnya. Saya titipkan masa depan saya pada Mu, biar Engkau yang susun rapi, karena yang tahu skenario terbaik cuma Engkau.

Saya titipkan rezeki saya pada Mu, karena bukan saya yang menggenggamnya, karena bukan karena usaha saya Engkau memberi saya rezeki, tapi karena Engkau kasihan, karena rahmat Mu, dan hanya Engkau yang mengaturnya, tidak akan salah jumlah, tidak akan salah waktu. Saya titip rezeki saya pada Mu, karena saya hanya bisa khawatir, baru bisa takut, sementara percaya pun masih setengah-setengah. Saya titipkan perniagaan ini pada Mu, karena kami hanya bisa waswas dan gelisah tiap kali tidak ada yang mau membelinya.

Saya titipkan jodoh saya pada Mu, biar Engkau yang pilihkan, Engkau yang datangkan, Engkau yang atur semuanya supaya baik. Karena saya hanya bisa menyusun dan menjalankan rencana, karena saya hanya bisa menurut apa yang Engkau minta saya untuk perbuat. Saya titipkan jodoh saya pada Mu, karena bukan saya yang memegang hatinya, bukan saya yang memberinya rezeki tapi Engkau yang menjadikan rasa kasih sayang, dan Engkau yang memeliharanya dari kelaparan, bukan saya dan nafkah saya.

Saya titipkan hati ini pada Mu, karena Engkau yang membolak-balikannya. Saya hanya bisa mengikutinya ketika baik, dan mengikutinya ketika buruk. Saya titip hati saya ya Allah, yang penuh riya dan hasut. Saya hanya bisa menegurnya sesekali, tapi lebih banyak kalah dan ikut menyerah. Saya titip iman saya pada Mu ya Allah, yang seringkali turun dan jarang sekali naik.

Saya titipkan semua kehidupan ini pada Mu, karena saya tidak lebih dari makhluk lemah yang sombong, yang merasa dirinya mampu mengatur semuanya, yang merasa mampu menjalani semuanya dengan upaya sendiri. Padahal tidak ada kekuatan setitikpun, kecuali dari Engkau ya Allah. Kebaikan yang aku dapat bukan karena upaya ku, tapi karena kebaikan Mu ya Allah.

Saya titipkan kedua orang tua saya pada Mu ya Allah. Engkau yang Maha Memelihara, Engkau yang membahagiakan, yang menjamin rezeki mereka, yang menjaga mereka tetap sehat. Saya tidak mampu berbuat apapun bahkan sekedar memberi kepuasan barang sedikit saja di hati mereka. Engkau yang mencukupkan mereka. Engkau yang menjaga mereka dari bahaya, bukan saya yang untuk berada di samping mereka pun tidak bisa. Saya titipkan mereka pada Mu ya Allah, Engkau yang meninggikan derajat mereka, bukan saya. Engkau yang menerima amal mereka, bukan saya. Engkau yang tahu betul sebesar apa jasa mereka pada saya, dan hanya Engkau yang bisa membalasnya dengan balasan yang utuh, tidak kurang.

Saya hanya bisa menitipkan semuanya, dan jangan biarkan saya yang mengatur meskipun hanya hal sepele saja.