Antara Ambisi dan Nurani

25 01 2012

image from wwwdelivery.superstock.com

Jika aku berkata tentang semangat,maka aku tidak berkata tentang ambisi. Jika aku berkata tentang bergerak, maka aku juga berkata tentang melihat.

 

Aku banyak belajar dari banyak teman,tentang apa itu ambisi dan passion. Jika passion adalah panggilan jiwa,maka ambisi aku katakan sebagai pencerminan passion yang keliru — jika kita tidak mampu mengelolanya dengan baik.

 

Aku jadi teringat tentang cerita dua orang yang sedang berlomba lari. Keduanya sama-sama memiliki passion dalam berlari,bermarathon. Namun, bedanya adalah, salah seorang menjalaninya dengan ambisi, yang satu menjalaninya dengan hati. Sang ambisius berlari sekencang-kencangnya sejak pluit tanda mulai berbunyi panjang. Yang ada di kepalanya hanya lah garis finish dan start, yang ada di kepalanya hanya lah impiannya,cita-citanya,dan tentunya,ambisinya. Kepalanya dipenuhi semua itu hingga tidak ada ruang di pikirannya untuk hal lain,bahkan orang lain.

 

Sementara,pelari yang satu lagi menjalaninya dengan hati. Ia tetap punya semangat yang tinggi untuk menyelesaikan perlombaan dengan usaha maksimal yang bisa ia lakukan. Namun,ia tidak memenuhi kepalanya dengan ambisinya semata. Kalau boleh diibaratkan, keinginan untuk menjadi juara hanya ia genggam di tangan,tidak ia tanam di hati. Sehingga dia lah yang mengendalikan tujuannya itu,bukan sebaliknya.

 

Di tengah perjalanan, ternyata ada seorang pelari lain yang terjatuh dan kakinya terluka cukup parah. Lalu,bagaimana reaksi sang ambisius ketika melewati pelari itu? Ya,dia pun tidak lantas menolong. Matanya tetap nanar memandang jauh ke depan,tanpa sudi berpaling ke kanan dan ke kiri. Ia pun tetap memacu dirinya untuk bisa mencapai garis finish paling pertama. Lalu bagaimana dengan pelari satunya? Ya, ia tidak lantas meneruskan larinya ketika menemui pelari yang cedera tersebut. Dengan sigap,ia pun segera menghampiri pelari yang cedera,menanyakan kondisinya,melakukan pertolongan kecil untuk meringankan cederanya,lalu memapahnya hingga garis finish.

 

Ya, pada akhirnya sang ambisius memang juara. Ia berhenti setelah garis finish,terengah-engah parah,lalu sesaat kemudian tubuhnya ambruk,pingsan seketika,karena fisiknya sebenarnya tidak mampu menahan tekanan dari ambisinya.Sedangkan sang penolong,ia berada di urutan terakhir. Ia mungkin kalah, namun, bagi pelari yang cedera, dan bagi penonton yang lain, dialah pemenangnya.

 

Kisah ini seperti kisah nyata seorang calon anggota pecinta alam yang akhirnya dilantik karena ia meninggalkan rombongan ketika pelantikan demi menolong temannya yang terluka.

 

——

 

Hidup memang harus direncanakan. Hidup memang harus dipersiapkan. Hidup memang perlu tujuan, cita-cita, dan mimpi. Namun, jangan sampai semua itu mempengapi pikiran dan hati kita. Jangan sampai ambisi kuliah di luar negeri sampai merugikan orang lain karena tanggung jawab sebagai seorang pengurus organisasi dilupakan. Jangan sampai ambisi lulus cepat sampai mengacuhkan kesulitan teman saat mempersiapkan acara bakti sosial. Jangan sampai ambisi mendapat gelar mahasiswa terbaik sampai menghalalkan mencontek dan memplagiat tugas orang lain.

 

Buta hati, tumpul nurani, termakan ambisi.

 

Ketika kita mau melonggarkan sedikit tali ambisi di kepala kita, sehingga kepala kita mampu untuk menoleh tidak hanya ke depan saja, tapi juga mampu menoleh ke kanan dan ke kiri, maka kita akan melihat lingkungan kita secara lebih luas,lebih komprehensif. Kita akan lebih mudah mengambil hikmah dari tiap kejadian. Kita akan lebih mudah melihat ketidaknormalan di sekitar kita. Ketidaknyamanan yang dirasakan orang lain terhadap perilaku kita. Kekecewaan orang lain terhadap perkataan kita yang mungkin pedas. Dan diluar semua itu,penderitaan orang lain yang tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan tindakan kita.

 

Untuk apa?

 

Mengutip sabda Rasulullah, muslim yang paling baik adalah muslim yang paling banyak memberi manfaat bagi muslim lainnya. Silakan cari satu saja nama pahlawan yang berjasa karena memperjuangkan ambisi pribadinya. Silakan sebut satu tokoh besar yang dikenal karena kegigihannya mencapai ambisinya,tanpa memberi manfaat ke banyak manusia. Mengutip kata Ahmad Dahlan dalam Sang Pencerah, hidup ini pendek,terlalu berharga jika dijalani hanya untuk diri sendiri.

 

Berambisi lah sewajarnya, bertekad kuatlah. Tapi jangan pernah mau diperbudak ambisi. Seperti yang aku tulis tadi,kita mungkin tidak harus memperlambat langkah kita. Kita hanya harus membuka mata dan telinga lebar-lebar sehingga kita tahu betul kapan kita harus berhenti berlari mengejar garis finish,untuk sekedar menolong teman kita yang sedang kesulitan.

 

Meminjam penjabarannya Herry Nurdi, manusia modern kini memang semakin diperlelah oleh rutinitas,pekerjaan,kuliah,dan berbagai tekanan kehidupan. Sehingga,ketika ada kesempatan untuk berhenti sejenak,yang akan dilakukan adalah mencari hiburan,penyenang,merefresh kembali pikiran yang penat. Mencari hiburan dan liburan yang memuaskan batin.

 

Sangat wajar. Namun,menjadi tidak wajar adalah ketika,setiap kali stress mulai mendera,setiap itu pula dilampiaskan pada hiburan untuk menghilangkan penat. Dan itu terus terjadi berkali-kali. Sehingga,hati kita mati rasa. Kita sudah hampir tidak sempat merasakan penderitaan karena setiap kali penderitaan itu mulai hadir,kita lari mencari hiburan. Hati kita mati rasa terhadap penderitaan sehingga semakin tidak peka dengan penderitaan,penderitaan orang lain khususnya. Bukan berarti kita harus sengaja berkubang dalam penderitaan. Namun,kita sebisa mungkin harus menyeimbangkan semuanya,tidak hanya berkutat dengan stress dan pelariannya saja.

 

—-

 

Merenung sejenak tidak akan membuatmu gagal mencapai mimpi. Berpikir sejenak justru memastikan apakah jalan yang kau ambil sudah benar, apakah langkahmu terlalu cepat, atau terlalu lambat. Apakah sepanjang perjalanan tidak kau temui orang-orang yang menderita karena tertabrak olehmu? Jika ia,berhati-hatilah,karena sangat wajar jika dia lah yang berbalik menabrakmu suatu saat.

 

Pedulilah sebanyak mungkin,bantulah sebanyak mungkin temanmu yang terjatuh,karena jika kau nanti terjatuh,banyak tangan yang akan mengangkatmu untuk berdiri lagi.

 

–bekasi 17 Sept 2010

Originally posted : https://www.facebook.com/note.php?note_id=436130946742





Cobalah Mengubah, Jangan Diam Saja

19 01 2012

Diawali dengan sebuah quote yang cukup terkenal,

“Ketika muda, banyak orang yang berpikir untuk merubah dunia. Namun, ketika ia mencobanya, ia sadar bahwa ia harus mengubah negaranya terlebih dahulu. Namun, ketika ia mencoba mengubah negaranya, ia sadar bahwa ia harus lebih dulu mengubah kota tempat tinggalnya. Namun, ketika ia sudah mencoba untuk mengubah kota kediamannya, ia sadar bahwa yang harus ia ubah lebih dahulu ialah keluarganya. Sayangnya, ketika ia mencoba untuk mengubah keluarganya sendiri, ia baru tersadar bahwa yang paling awal harus ia ubah adalah dirinya sendiri. Dan saat ia sadar akan hal itu, ia sudah tua renta, dan untuk mengubah dirinya sendiri pun sudah tak mampu.”

Hal ini benar saya sadari sebagai seorang biasa, seperti masyarakat yang lain. Apalagi ditambah banyaknya fenomena aneh yang terjadi di sekeliling. Salah satu yang paling membuat saya heran adalah, banyak sekali tokoh di Indonesia ini yang terkenal, sangat terkenal, menyuarakan berbagai hal tentang bagaimana menjadi manusia yang baik, mengajak orang lain untuk menjadi baik, tapi ternyata ketika tidak sengaja saya mencoba melihat dan mencari tahu kondisi keluarganya, terutama anak-anaknya, tidak mencerminkan sebagaimana yang selalu diserukannya kepada khalayak. Seorang kyai terkenal ternyata anaknya tidak berjilbab. Seorang trainer tersohor ternyata anaknya berbeda dengan citra yang melekat pada dirinya. Seorang pejabat tinggi negara ternyata anaknya punya banyak masalah tentang pergaulan.

Mari kita pandang hal ini tidak sebagai upaya mencari-cari cela dari seseorang tapi sebagai evaluasi dan perbaikan untuki diri kita ke depannya. Saya jadi teringat pada sebuah cita-cita sederhana yang ditulis oleh seorang teman, orangnya biasa saja, tidak terlihat alim, bahkan cenderung bandel. Namun, cita-cita yang ia tuliskan di buku kenangannya, tentang ingin menjadi apa ia 10-20 tahun lagi ialah : “jadi bapak yang baik buat anak-anak gue”. Kata-kata itu pun terngiang-ngiang di dalam pikiran saya. Ketika banyak mahasiswa di kampus terbaik itu membuat cita-cita setinggi langit, cita-cita yang sangat makro, teman saya membuat cita-cita yang sederhana, dekat, tapi sangat dalam maknanya.

Lagi-lagi saya mengajak kita untuk berpikir lebih positif, bukan berarti setiap cita-cita tinggi adalah salah. Tetapi mulailah semuanya dari elemen paling dasar dan paling dekat, kemudian bergerak ke elemen yang terdekat selanjutnya, dan perlahan bergerak ke elemen terluar dari diri kita. Sayangnya, mungkin banyak orang besar di negeri ini yang melompati elemen-elemen yang berada dekat dengan dirinya, dan langsung merambah ke elemen-elemen terluar, yang sebenarnya jauh dari kehidupannya sehari-hari, namun tentu lebih besar dan nampak.

Kalau saya mengambil contoh terlalu jauh, mari coba ambil contoh di sekeliling kita, atau bahkan diri kita sendiri. Kamu seorang aktivis organisasi kampus? Seorang aktivis dakwah kampus? Seorang petinggi himpunan? Atau seorang ketua acara kaderisasi? Mari perhatikan diri sendiri. Mungkin di luar sana, di kampus, kita begitu aktif bergerak, melakukan perubahan di sana-sini, perbaikan, melaksanakan program, pendidikan berbagai macam, kaderisasi, dan segala dinamikanya. Memutar otak untuk mencari metode yang efektif dalam menurunkan nilai-nilai kemahasiswaan dalam kaderisasi. Dengan memikul visi dan misi yang besar, menjalankan roda organisasi bersama kerabat-kerabat. Dengan begitu semangat, melakukan program-program dakwah kampus, berlelah-lelah mempersiapkan acara, mengajak teman-teman dekat untuk partisipasi, atau sekedar menempel poster kegiatan di malam hari.

Tapi apakah yang sudah kita lakukan untuk keluarga kita di rumah ketika kita kembali berkumpul dengan keluarga kandung, elemen terdekat setelah diri sendiri?

Ada baiknya mengevaluasi diri masing-masing saja. Mungkin agak disayangkan ketika begitu aktifnya kita membuat perbaikan dan melakukan hal-hal positif sebagai mahasiswa, tapi tidak berbuat banyak untuk keluarga, tidak mencoba memperbaiki apa yang tidak baik di keluarga, tidak mencoba menyerukan keluarga untuk berbuat baik. Seakan kita menjadi orang yang berbeda di rumah dan di kampus. Apakah kita di rumah sudah mencoba menjadi pemeran aktif, atau sekedar figuran yang pasif dan tidak berbuat apa-apa?

Mungkin di keluarga, kita bukan ketuanya. Tidak seperti di organisasi, kita pengurusnya, atau bahkan pemimpinnya. Tapi, keluarga itu adalah keluarga kita sebenarnya. Bukan organisasi yang sekedar menempelkan label kekeluargaan. Keluarga yang menjadi sekolah pertama kita sebelum menjadi hebat seperti sekarang. Dan yang terpenting, keluarga yang Allah titipkan pada kita, untuk kita selamatkan dari keburukan.

“Hindarkanlah dirimu dan keluargamu dari api neraka”

Hal ini tentunya tidak menafikan kewajiban kita untuk mengubah yang lain. Namun, jika untuk mengubah keluarga kita menjadi lebih baik dengan menerapkan semua ilmu yang kita dapat di organisasi dan di kampus, mungkin kita hanya akan menambah daftar panjang orang-orang besar yang saya sebutkan sebelumnya tadi. Dimulai dari keluarga tempat kita berada saat ini untuk menimba ilmu dan pengalaman, untuk menjadi bekal membangun keluarga kita sendiri nantinya.

Elemen setelah keluarga adalah daerah tempat tinggal. Ikut sertakan daerah tempat tinggal kita ke dalam skenario cita-cita kita. Kita pernah dititipkan di kampus yang jauh dari tempat tinggal untuk menempa diri dan diharapkan dapat kembali untuk membangun daerah masing-masing.

Terakhir, jika kita mau mulai mencoba mengubah keadaan keluarga kita, daerah kita, niscaya akan kita temui kenyataan bahwa berawal dari diri kita sendiri lah semua perubahan yang mungkin terjadi. Jadi, memang perbaikan dan perubahan itu harus dilakukan secara paralel, bukan seri : menunggu yang satu selesai secara UTUH baru beranjak mengubah yang lain. Karena tidak akan ada habisnya jika melakukannya secara iteratif.

Ambil peran, lakukan perbaikan sekecil apa pun.

Ini sekedar apa pemikiran dan apa yang saya anggap benar. Semoga bisa menjadi renungan kita bersama. Wallahu a’lam.

keluarga kecil tapi "besar" :D





Keluhan Seekor Anak Kerang

16 01 2012

Cerita ini saya dapat dari seorang dosen teladan yang menjadi panutan saya selama kuliah di kampus. Tidak hanya mengajar, tapi juga mendidik. Tidak hanya menguji tapi juga membina. Tidak hanya menyuapi tapi juga memberi tantangan dan mengajak berpikir.

***

from inchi04.student.umm.ac.id

Syahdan, seorang anak kerang mutiara dan induknya tinggal di sebuah laut dalam. Suatu hari, sebuah serpihan karang kecil tidak sengaja masuk ke dalam tubuhnya. Sang anak pun merasa terganggu dan tidak nyaman karena serpihan yang masuk ke dalam tubuhnya itu.

“Ibu, tolong aku! Ada serpihan karang yang masuk ke dalam tubuhku dan aku merasa kesakitan! Tolong aku, Bu, tolong keluarkan serpihan ini!” keluh sang anak kerang kepada sang ibu.

“Sabar, Nak. Coba tahan rasa sakit itu..” jawab sang ibu sederhana.

Berhari-hari berlalu, sang anak kerang masih merasakan sakit karena serpihan itu. Ia pun kembali mengeluh.

“Ibu, aku merasa terganggu sekali. Tolong singkirkan serpihan ini dari tubuhku!” lagi-lagi sang anak kerang mengiba dan meminta bantuan sang ibu kerang.

Ibunya pun menjawab dengan kalimat yang sama, “Sabar, Nak. Coba tahan rasa sakit itu…”

Berminggu-minggu berlalu dan sudah berkali-kali sang anak kerang mengeluh dan membujuk sang ibu kerang untuk membantunya. Sesering itu pula sang ibu menasehati anaknya untuk bersabar.

Setelah akhirnya hampir satu bulan berlalu, ketika sang anak sudah bisa terbiasa dengan rasa sakitnya dan mulai tidak merasakannya, sang ibu pun menyuruh sang anak kerang untuk membuka tubuhnya dan melihat apa yang ada di dalamnya.

Sang anak kerang terkejut dan takjub. Ternyata, di dalam tubuhnya ada sebuah mutiara putih yang sangat indah dan berkilau. Ia pun terheran dari mana asalnya mutiara itu.

Sang ibu pun menjawab,

“Mutiara itu dulunya adalah serpihan kerikil yang menyakitimu, Nak. Namun, dengan kesabaranmu menahan rasa sakit, tubuhmu pun perlahan menyelimuti kerikil itu dengan cairan yang kau hasilkan. Dan ketika sudah berminggu-minggu kau lalui rasa sakitmu itu, mutiara ini lah yang kau hasilkan; buah dari kesabaranmu menahan rasa sakit selama ini.”

***

Begitu juga kehidupan kita. Kita tak jarang mengeluh akan kesusahan yang kita alami. Kita seringkali merasa tak kuat dan ingin menyerah saja. Tapi, jika kita mau bersabar terhadap kesusahan itu, niscaya kesabaran kita akan berbuah “mutiara” yang indah.

Boleh jadi kita membenci sesuatu padahal itu baik bagi kita, dan sebaliknya, boleh jadi kita menyukai sesuatu padahal itu buruk bagi kita.





Bukan Sembarang Supir Angkot – Puzzle Series

11 01 2012

Cerita ini didapat ketika aku dalam perjalanan pulang dari daerah karawaci ke Bekasi.

 

Bis no 74A yang seharusnya berhenti di daerah UKI, saat itu justru langsung menuju Kp Rambutan melalui jalur alternatif. Abis mengambil Tol Bintaro, entah keluar di mana, yang aku tahu, ketika plang penunjuk jalan menunjukkan Cawang/UKI seharusnya belok kiri, bis itu kata sang kondektur bakal langsung lurus, ke terminal nampaknya. Mau tidak mau, aku pun turun saat itu juga, untungnya dengan bawaan yang sedikit.

 

Ga pikir panjang, aku pun berjalan mengikuti arah penunjuk jalan, ke Cawang belok kiri. Di perempatan yang sangat besar itu, aku pun melihat beberapa mikrolet (istilah angkot buat daerah jakarta) lagi ngetem. Aku pun bertanya pada salah satu supir angkot, dia bilang, kalau ke UKI, naik angkot di depannya. Aku pun langsung mengambil kursi depan, karena di dalam angkot, masih belum ada satu pun penumpang. Angkot 06A, jurusan gandaria.

 

Ini lah supir pertama. Dia menunggu penumpangnya sambil ngetem di perempatan tadi. Berteriak2 setiap kali ada orang yang berjalan mendekatinya, dan berkali-kali memajumundurkan mobil, tanpa peduli ada 1 orang penumpang di situ yang sudah tidak sabar ingin berangkat. Setiap kali si supir pertama ini tampak mau berangkat, setiap kali itu pula dia memundurkan mobilnya ke posisi semula. Dan itu ia lakukan hingga belasan kali. Silakan bayangkan seperti apa perasaan si penumpang satu-satunya ini.

 

Sampai sekitar 15 menit, ada penumpang lain masuk. Dia duduk di belakang, lalu ikut menunggu menemaniku. Tidak berbeda yang dilakukan supir pertama. Masa bodoh sekali. Sampai akhirnya aku memberanikan diri sedikit “menyindir” dgn bertanya “Masih lama bang?”. Tepat setelah saya bertanya, eh, si penumpang yang dibelakang sudah lebih dulu turun, karena sudah tidak sabar lagi. Aku pun mengambil ancang2 keluar dan bukannya si supir berangkat, dia malah berkata “Kalau mau cepet, naik taksi aja mas..!”

 

 

Ga ambil pusing, toh marah pun ga nyelesein masalah. Langsung cari 06A lain yang nampak sedang berjalan dan cukup banyak penumpangnya. Dapat lah satu angkot 06A yang lain. Dan ini lah supir kedua, dengan jurusan yang sama.

 

Sangaat berbeda tabiat supir kedua ini. Mungkin, ini lah supir angkot paling ramah yang pernah saya temui. Sepanjang perjalanan, dia berbincang-bincang hangat dengan seorang nenek yg duduk di belakang supir. Sangat bersahabat walau dengan suara yang lantang. Sopan dan penuh senyum. Dari cermin, aku bisa melihat wajahnya yang selalu ceria.

 

Dia melajukan angkotnya dengan cukup cepat, seperti yang diharapkan oleh semua penumpang. Katanya kepada si nenek, “Ga perlu saya mah berhenti lama-lama, cepet aja”. Bahkan, setiap kali ada calon penumpang yang berdiri di pinggir jalan, dia ga segan menyapa dengan ramah dan suara lantang, menawarkan tumpangan. Makanya, ga heran kalo di mobil, ga pernah kurang dari 5 orang penumpangnya. Lalu, ketika ada pejalan kaki yang ternyata tidak bermaksud naik angkotnya, dia pun bergumam, “Oh, ternyata ga mau”, dan tetap tersenyum.

 

Dua orang penumpang di depan pun tak lepas dari obrolan dengannya seputar pertandingan bola piala asia. Orang asing nampak bukan orang asing baginya. Setiap kali ada penumpang yang ingin turun, dia selalu memastikan bahwa tempat ia menurunkan penumpangnya adalah tempat yang aman, makanya dia selalu meminta penumpangnya untuk sabar, tunggu sampai ia berhentikan mobilnya di pinggir jalan. Setiap kali penumpangnya memberi ongkos, dia selalu mengucap terima kasih.

 

Dua orang supir yang berbeda, dengan trayek angkot yang sama, tapi dengan tabiat dan karakter yang jauh berbeda. Aku mempelajari satu hal yang sangat berharga. Rezeki itu mengikuti kok, kalau kita selalu berusaha untuk ga menyusahkan orang lain dan berbuat baik kepada siapapun. Apakah si supir pertama dalam 20 menitnya ngetem, mendapatkan sepeser saja rupiah? Apakah si supir pertama dengan sifatnya yang seperti itu akan mendatangkan banyak penumpang? Sementara, supir kedua, tampak sangat bahagia. Seperti ia sangat tahu apa yang diharapkan penumpang dan tidak berpikir panjang untuk melakukannya. Lalu, penumpang pun datang silih berganti. Di luar takdir Dia dan ketentuan Mikail dalam mengatur rezeki, bahkan si nenek pun membayar dengan ongkos berlebih. Si supir sempat berkata, “Wah, si nenek bayarnya banyak banget nih. Padahal sama anak kecil dua.”

 

Sepanjang perjalanan, aku ga bisa berhenti tersenyum kagum pada si supir. Dengan profesinya sebagai supir angkot aja, dia bisa membahagiakan banyak penumpangnya. Dengan profesinya sebagai supir angkot, dia bisa menjalaninya dengan ceria. Dengan profesinya sebagai supir angkot, banyak pengalaman yang bisa ia bagi kepada para penumpangnya.

 

Lalu, yakinkah kita dengan orientasi profesi kita saat ini? Yang niat mau jadi bos, kalau sekedar demi uang banyak dan sejahterain diri sendiri, mungkin masih kalah sama supir angkot. Yang niat mau jadi eksekutif muda tapi belum niat mau membahagiakan banyak orang, mungkin masih kalah juga.

 

Banyak hikmah yg diambil. Terima kasih pa supir.

***

originally posted on Friday, 31 December 2010

https://www.facebook.com/note.php?note_id=482766791742





Anjing Dekil

11 01 2012

Seperti anjing-anjing dekil yang menggonggongi patung

Ia takut, ia takut

Mereka menggonggong agar ketakutannya hilang

Mereka menggonggong agar patung itu ketakutan

Mereka menggonggong karena kawannya menggonggong

Mereka menggonggong, tanpa tahu mengapa mereka menggonggong

 

Seperti menggonggongi patung

Tak peduli didengar atau tidak

yang penting ia takut

yang penting ia tau mereka ada

 

Gonggongan anjing dekil membelah sore

Bergerombol

 

Mereka abadikan gonggongan mereka

buat apa?

untuk apa?

 

Sementara yang melihat hanya mampu mencela

merendahkan gonggongan tanpa tahu harus apa

menjadi anjing-anjing dekil lain, yang merasa gonggongannya lebih merdu

meski serak, pelan, buruk, tapi baginya terdengar lebih baik

 

Entah lah,

Jika anjing-anjing dekil itu mampu,

aku akan meminta mereka mengaum,

karena auman berarti perintah, tapi gonggongan berarti celoteh

***

originally posted on Monday, 2 May 2011 at 21:31

https://www.facebook.com/note.php?note_id=10150175673031743





Ikhlas

9 01 2012

Bismillah

Tulisan ini diawali dengan sebuah riwayat, As-Suusiy berkata: “Ikhlas adalah tidak merasa telah berbuat ikhlas. Barang siapa yang masih menyaksikan keikhlasan dalam ikhlasnya, maka keikhlasannya masih membutuhkan keikhlasan lagi”.

Kalau ikhlas berarti mengerjakan sesuatu tanpa pamrih, agaknya salah. Karena manusia pasti pamrih. Tapi pamrihnya beda-beda. Dan ikhlas berarti pamrih terhadap keridhoan Allah. Riwayat kedua,

Sesungguhnya Allah tidak akan menerima suatu amal, kecuali jika dikerjakan murni karena-Nya dan mengharap wajah-Nya”. (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i)

Setiap perbuatan baru akan diterima ketika dilakukan dengan ikhlas. Sekilas, dua pernyataan ini agak bertolak belakang. Kita harus ikhlas mengerjakan sesuatu, tapi jika kita merasa sudah ikhlas, maka itu belum sempurna keikhlasannya. Bingung.

Tapi, saya memahaminya, bahwa ikhlas itu hanya bisa dinilai oleh Allah karena itu urusan hati, urusan bathin, urusan ghaib. Kondisi keikhlasan yang sempurna tidak akan kita sadari.

Maka memang tugas manusia itu bukan menunggu sampai ia ikhlas baru beramal misalnya, tapi melakukan amalan, dan berusaha sekuat-kuatnya untuk menghilangkan niat-niat dan harapan lain selain ridhoNya. Justru ketika kita merasa sudah ikhlas melakukan sebuah amalan, ketika itu pula kita belum ikhlas.

Jadi? Jangan dipusingkan sama pertanyaan apakah kita SUDAH IKHLAS ATAU BELUM, tapi APAKAH KITA SUDAH SEKUAT TENAGA BERUSAHA UNTUK IKHLAS.

Dan Allah Maha Tahu.

referensi : http://edukasi.kompasiana.com/2011/11/10/ikhlas/





Belajar dari Luka Bakar – Puzzle Series++

3 01 2012

Kakiku tempo hari terluka karena terkena knalpot motor. Segeralah aku masuk rumah dan mengolesi lukaku dengan minyak dan obat luka bakar. Tidak banyak yang aku pikirkan saat itu,hanya menahan sakit sebisa mungkin. Lalu sore harinya, ibuku terkena musibah. Kakinya tidak sengaja menumpahkan sayur yang baru mendidih sehingga sebagian kakinya tersiram air panas. Aku pun tidak berpikir panjang lalu bergegas mengambil obat luka bakar yang aku SUDAH SANGAT HAPAL LETAKNYA. Kaki ibu ku pun selamat,tidak ada luka melendung seperti luka bakar lainnya. Alhamdulillah. Tidak henti2 nya kemudian aku tersenyum dan bersyukur,karena ternyata,aku diberi luka untuk mempersiapkan ibuku yang akan terluka juga.

 

——————–

 

from shteratesmphangtuah3.blogspot.com

Aku punya pemahaman yang baru tentang ucapan Rasulullah ttg belajar,

 

Tuntutlah ilmu,dari buaian hingga liang lahat

 

Memang mungkin seperti itu seharusnya seorang muslim hidup; penuh pembelajaran di sana sini; penuh ilmu yang dipetik dari berbagai sumber. Awalnya aku mengartikan “menuntut ilmu” yang Rasul katakan td secara sangat sempit. Aku mengartikannya sebagai proses belajar,menambah ilmu pengetahuan yang berasal dari penambahan wawasan dan penajaman akal semata. Bahkan aku mengartikan sebagai proses belajar baku, resmi, formal, di bawah naungan lembaga, sebatas akademis. Ya, awalnya aku mengartikan seperti itu.

 

Namun, seiring waktu, aku diberi pemahaman yg lebih luas ttg itu. Tentang belajar, yang betul betul dari buaian hingga liang lahat. Aku mungkin diajari Allah tentang arti sebuah pembelajaran melalui amanah dan rangkaian aktivitas.

 

Mempelajari kehidupan.

 

Aku belajar bahwa manusia ini seperti kendaraan. Iya harus punya bahan bakar untuk bisa berjalan. Dan bahan bakar itu adalah keinginan belajar.

 

Kita sebenarnya berada pada kondisi yang sangat berbahaya ketika setiap aktivitas kita,tidak didasari oleh semangat belajar. Semangat belajar lah yang membuat manusia tetap bergerak,tetap mencari tahu. Adalah celaka ketika kita merasa sudah tau semua hal, sehingga dengan sombongnya kita tidak mau untuk membuka pikiran dan mencari tahu hal hal baru.

 

Aku pun kini mendefinisikan belajar sebagai proses pemberian makna dan penarikan hikmah dari suatu peristiwa. Ketika dihadapkan pada satu peristiwa,hanya jiwa jiwa pembelajar lah yang mau dengan pikiran jernih memaknai peristiwa tsbut dengan cara yang berbeda. Hanya jiwa jiwa pembelajarlah yang mau dan mampu menarik hikmah dan pelajaran dari peristiwa tersebut.

 

Ketika seorang kakak membiarkan adiknya jatuh berkali kali saat belajar sepeda,maka mungkin sang kakak bermaksud memberi kesempatan pada adiknya untuk berjuang sendiri. Meski mungkin,adiknya memaknai tindakan kakaknya sebagai ketidakpedulian,keangkuhan,atau pun kejahatan.

 

Seperti itu seringkali kita berpikir. Hanya emosi yang dipakai,akal dan hatinya diistirahatkan. Sehingga, setiap peristiwa hanya dimaknai secara kasar,tanpa perenungan dan pemikiran. Dan persepsi kita pun menjadi salah sehingga bahkan tidak ada satupun pembelajaran yang kita dapat.

 

Memaknai setiap peristiwa dengan hati hati adalah salah satu bentuk kebijaksanaan. Seperti Nabi Musa yang meminta Nabi Khidr untuk menyaksikan dan memaknai setiap perbuatannya dengan lebih bijaksana. Dengan lebih BERPRASANGKA BAIK.

 

Seorang yang bijak akan selalu berusaha menambah kualitas dirinya dengan memaknai hikmah dari setiap peristiwa. Mungkin tak ada satu peristiwa pun yang dipandangnya buruk atau sia sia. Dengan bermodalkan kemauan belajar,memperbaiki diri,serta kemauan berprasangka baik,setiap peristiwa pasti akan dicari hikmahnya,seburuk apa pun.

 

Sehingga,semua usaha kita dalam menarik hikmah dan pelajaran pada akhirnya akan kembali pada diri kita. Mana yang lebih baik antara bola yang sedang diam di atap rumah dibandingkan dengan bola yang berada di tanah namun baru saja ditendang dengan keras ke atas? Aku lebih menghargai orang yang mempunyai kemauan belajar yang tinggi meskipun ia bodoh daripada orang yang sudah pintar dan merasa sudah puas dengan ilmunya sekarang.

 

Belajarlah kawan, belajar lah dari setiap kejadian. Mari belajar dari setiap musibah. Mari belajar dari setiap kesulitan. Mari hauskan diri dengan semangat memperbaiki diri. Mari memaknai setiap kejadian dengan lebih baik.

 

Dan banyak lagi cerita seperti itu.

 

Mari bersama sama belajar,karena tanpa sebuah pembelajaran,kita hanya akan menjadi seperti robot,yang menjalankan rutinitas tanpa makna. Yang pertimbangannya hanya dengan logika saja,tanpa rasa.

 

Mari buka pikiran dan hati,sehingga nurani kita tidak mati rasa dimakan ambisi pribadi.

 

***

Originally posted on Friday, 17 September 2010 at 22:54

https://www.facebook.com/note.php?note_id=435992611742





Ketika Ompong Mahasiswaku

3 01 2012

Ketika ompong mahasiswaku
Yang dipunyanya hanya teori-teori pinjaman
yang belum juga sempat ia terapkan untuk bangsanya
Sudah tergerus lebih dulu oleh manisnya materi

Ompongnya mahasiswaku
Ketika ditanya apa yang mau dikerjakannya
Dijawabnya akan menjadi prajurit kapitalis
Mengeruk punggung bangsanya sendiri dengan dalih globalisasi
Mencabik isi perut pertiwi tanpa memberinya sekedar panganan pengganti

Ketika mahasiswaku ompong
Yang dilihatnya hanya akan menjadi apa dirinya nanti
Sementara muka-muka masam gelandangan yang bergelayut di pundak pundaknya
Jangankan dipedulikan,terasa beratnya saja tidak
Setan yang bernama lapar dan miskin itu ia jauhi betul-betul
Terlempar ke sanak sebangsanya tak masalah

Mahasiswaku bergigi bolong
Ketika berkeras sedikit dengan idealismenya,
Terbentur realita,dan kepalanya menunduk kembali
Dicocok hidungnya,dibawa kesana kemari oleh ambisi dunia
Hutang pada bangsa,manalah lagi jadi atensi

Aku orang biasa
Bukan mahasiswa
Aku mahasiswa
Bukan orang biasa

Aku gantungkan harapanku pada mahasiswaku
Aku yakinkan diriku pada nurani prajurit-prajurit yang kuberi makan
Sekecil apapun benih yang kutanam,tumbuhnya pasti,meskipun entah kapan
Biarkan saja mahasiswaku belajar,
Belajar hidup
Belajar berdiri di atas prinsip sendiri
Belajar memahami kutipan orang lain
Lalu membuat kalimatnya sendiri
Belajar menjadi orang biasa
Yang diberi pangkat lebih oleh bangsanya,sebagai prajurit perubahan
Ketika bangsaku meraung-raung menderita
Dan yang duduk di atas sama sekali tak ambil dengar

***

originally posted on Saturday, 30 April 2011 at 01:14

https://www.facebook.com/note.php?note_id=10150173421451743





Hidup Seperti – (repost dari note versi Tahun Baru)

1 01 2012

Hidup seperti fungsi waktu

Atau seperti deretan domino?

Jika hidup seperti fungsi waktu

maka aku tidak harus khawatir dengan diriku saat ini

karena aku, pada waktu ku, pada pijakan ku, saat ini,

adalah sebagaimana hidup menentukan episodenya

Jika hidup seperti fungsi waktu

maka kau boleh bersenda gurau, bermain-main

dengan masa depanmu

karena setiap tingkahmu hari ini,

tidak akan mengubah apa pun dirimu nanti

Jika hidup seperti fungsi waktu,

maka kita bisa berjalan di mana pun

toh waktu lah yang menentukan,

di jalan mana kita akan berada, suatu saat nanti

Tapi,

Jika hidup seperti deretan-deretan domino

Setiap tingkah kecil yang aku lakukan saat ini

adalah awal dari seperti apa aku nanti

setiap sentuhan kecil pada satu deretan

akan menjatuhkan kepingan demi kepingan domino yang lain

yang berada dalam deretan yang sama

Jika hidup seperti deretan-deretan domino

Kau tidak bisa lagi bermain dengan waktu

karena dirimu adalah apa yang kamu lakukan

saat ini

Setiap permainanmu adalah investasi

seperti sebongkah batu bata yang menyusun dirimu

gambaran dirimu, kelak

Jika hidup seperti deretan-deretan domino

kita akan kalah, jika kita saat ini kalah

kita akan menang, jika kita saat ini menang

jangan punya mimpi, jangan punya cita

Tidak,

Hidup tidak seperti keduanya

Hidup seperti perjalanan

Setiap kesempatan berhenti, pandai-pandailah mencari bekal

Setiap kali ada persimpangan, cobalah salah satunya

Jika tersesat, kembalilah, ambillah jalan lain

Kita akan tersesat, hanya jika kita memilih untuk tersesat

Kita akan sampai di tujuan, hanya jika kita memilih untuk itu

Buat lah mimpi, buat lah cita-cita

Karena perjalanan panjang tidak hanya ditempuh dalam satu malam

Butuh tempat-tempat persinggahan, sekedar melepas beban,

dan memastikan jalan yang diambil sudah benar

Hidup seperti perjalanan,

yang kita tidak pernah tau kapan akan berakhir

tapi tau, apa yang harus dituju

jadi cukup tersenyum, dan berjalan lah terus

hadirkan usaha terbaik, karena tidak sedikit kerikil yang menusuk

karena tidak sedikit taman bunga yang melenakan

Semoga perjalanan ini indah di akhir, di tempat yang ingin kita tuju

from www.listsoplenty.com

***

original facebook post on Thursday, 10 March 2011 at 23:25





Sedekah – Puzzle Series

1 01 2012

Ini tentang pengalaman nyata lagi, dialami oleh seorang sahabat. Diceritakan supaya bisa memberi bukti gimana cara Allah dalam membalas apa yang dikeluarkan kita di jalan kebaikan. Kali ini tentang sedekah.

***

from www.progressivestates.com

Ceritanya tentang seorang ibu pencuci baju. Ia bekerja sebagai seorang penjual makanan di sebuah daerah kos-kosan di Bandung. Sebagai kerjaan sampingan, ia juga mencucikan pakaian anak-anak kosan sekitar situ.

Singkat cerita, sahabat saya itu yang tadinya mencuci pakaian sendiri, mulai kewalahan akibat tugas-tugas kuliah. Dapat informasi dari salah seorang kawannya, dan dia pun akhirnya berlangganan cuci di sang ibu tersebut yang dibayar bulanan. Ga mahal, cuma sekitar 65 ribu buat satu bulan cucian sebanyak apapun.

Suatu hari, sahabat saya heran mengapa si ibu sudah lebih dari seminggu tidak mengantar cuciannya. Ternyata sore harinya, si ibu mengabari sahabat saya melalui SMS. Ia meminta maaf karena belum bisa mengantar cucian karena ibunya sedang sakit keras dan harus dirawat di RSHS. Sahabat saya pun sangat maklum.

Keesokan harinya, si ibu tukang cuci pun menyempatkan diri mengantar cucian sahabat saya ke kosan. Si ibu pun bercerita tentang musibah tersebut dan kesulitan dana yang ia alami. Ia sudah menjual motor dan masih kekurangan biaya. Katanya, ia butuh biaya yang cukup besar supaya ibunya boleh pulang dari rumah sakit.

Mendengar cerita si ibu, sahabat saya pun tergerak hatinya untuk mencoba membantu. Setelah memikirkan sisa tabungan yang ia punya dan sisa hari di bulan itu, mungkin beberapa ratus ribu bisa ia keluarkan untuk membantu. Ia pun menanyakan kepada ibu tukang cuci berapa nominal yang dibutuhkan. Ternyata, si ibu masih butuh 750 ribu untuk menebus ibunya. Dan uang itu harus dibayarkan besok pagi kalau tidak ibunya tidak bisa pulang dalam waktu dekat.

Sahabat saya memikirkan kembali hal itu. Di tabungannya hanya tersisa sekitar 750 ribu dan itu belum mendekati akhir bulan. Ia sangat berhati-hati dan berusaha untuk tidak meminta pada orang tuanya lebih dari apa yang sudah menjadi jatah bulanannya. Apakah mungkin ia memberikan seluruh tabungannya?

Tapi, sahabat saya yakin pada janji Allah. Ia yakin betul kalau setiap sen yang dikeluarkan untuk kebaikan pasti akan Allah ganti. Keyakinannya pun didukung dengan keberadaan teman-teman yang bisa ia hutangi dulu sampai kiriman dari orang tuanya tiba. Ia bulatkan hati dan memutuskan untuk memberikan 700 ribu tabungannya dan menyisakan 50 ribu untuk keperluan darurat. Ia sampaikan pada sang ibu tukang cuci dan ia berikan siang harinya. Meskipun si ibu berjanji untuk mengembalikannya dan sambil menangis, berkali-kali mengucapkan terima kasih, sahabat saya sudah merelakan uang itu untuk membantu sang ibu.

Si ibu pun berhasil melunasi biaya rumah sakit keesokan harinya dan ibunya bisa kembali ke rumah.

Singkat cerita, satu sampai dua hari setelah ia keluarkan bantuannya itu, sahabat saya mendapat telepon dari ibunya. Sekedar menanyakan kabar seperti biasa dan menanyakan kondisi keuangan. Karena merasa tidak enak, sahabat saya pun cenderung diam dan tidak menjawab dengan jelas.

Dan di sini lah dua hal yang menakjubkan terjadi. Pertama, ibunda sahabat saya itu menghubungi kembali keesokan harinya dan berkata bahwa ia sudah mentransfer uang tambahan untuk sahabat saya. Naluri seorang ibu memang terlalu tajam untuk dibohongi.

Kedua, dan paling menakjubkan, adalah ketika sahabat saya menanyakan jumlah uang yang dikirimkan, ternyata jumlahnya adalah 700 ribu rupiah! Tidak kurang sepeser pun!

***

Jika saja sahabat saya tidak memberikan 700 ribunya untuk membantu si ibu, maka mungkin ia bisa menjawab dengan pasti bahwa simpanannya masih banyak pada ibunya dan ibunya pun mungkin tidak mengirimkannya uang tambahan. Jika saja sahabat saya memilih untuk tidak membantu, mungkin uangnya tetap, tidak berubah sedikit pun. Tapi ia memilih untuk menyerahkan 700 ribunya dan yang ia dapat dan ia tidak kehilangan uang sama sekali dan ia mendapat pahala yang lebih berharga dari sekedar 700 ribu.

Perniagaan yang tidak akan rugi adalah perniagaan dengan Allah

Nice, Bro!








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.