Ingat Ibu


2 hari kemarin, ada calon karyawan baru di cafe. Perempuan usia awal 20. Ia dibawa dari Majalaya oleh saudaranya yang sudah bekerja di cafe ini 6 bulan lamanya.

Singkat cerita, saya coba tugaskan dia untuk merapikan buku-buku perpustakaan dan mendata jika ada buku yang hilang. Pasalnya, dia hanya lulusan SMP dan tidak familiar dengan komputer. Jadi yang awalnya akan saya tugaskan sebagai librarian jadi saya arahkan ke petugas kebersihan.

Seharusnya pagi ini ia datang lagi. Tapi ternyata, kata saudaranya ia tidak jadi melanjutkan. Alasannya sederhana tapi cukup membuat saya tertegun.

Dia bilang, dia teringat terus pada ibunya yang sakit di rumah.

Advertisements

Salah Satu Parameter Ayah Hebat


… menurut saya, adalah ketika anak perempuannya ditanya

“Kamu ingin punya suami yang seperti apa?”

anaknya menjawab,

“Aku cuma ingin seorang lelaki yang seperti ayahku.”

***

Hanya “salah satu”, bukan “satu-satunya”. Tapi kalau kamu seorang anak perempuan dan senyum-senyum saat membaca tulisan ini, bersyukurlah! Karena tandanya kamu sudah dianugerahi seorang ayah yang hebat.

A Prayer


I’ve been praying for months, with the same prayer over and over

Almost not a single day I missed

A prayer to get an answer, response for a decision

A prayer with a crystal clear right-or-wrong answer

A simple question, a really simple one

 

With Your all-knowing-ness, I ask for a guidance

If this is good for me, for my life, for my ever after, destine it and make it easy for me, then grace me with this

But,

if this is not good for me, for my life, and for my ever after,

please make it hard for me to get, keep it away from me, as far as possible, until it looks impossible

make it so hard, so I will stop trying

make it further when I get closer, twice as much

because You know, I am bad at giving up something

 

And indeed, I am bad at surrendering

Even these problems can’t even make me stop or think but keep walking

But at this very time, I suddenly stop and looking everything in a wider perspective

 

Yes, He has replied my prayer

He replied, but not by fulfilling my desire

Resign dan Respon


Responnya beda-beda. Ada yang bilang hebat, nekat, salut, tapi ada yang mata dan raut mukanya seperti berkata “bodoh kamu”.

Itu yang saya dapatkan setelah saya mengambil sebuah keputusan yang cukup besar: resign dan fokus memulai bisnis.

Yang bilang hebat, mungkin karena banyak hal. Mungkin karena menurut mereka bisnis adalah urusan semalam jadi, mungkin juga karena menganggap saya berbangga hati karena sudah pindah posisi jadi bos di perusahaan sendiri, mungkin juga karena dianggapnya saya mengambil langkah ini dengan gagah berani tanpa ketakutan sedikitpun.

Yang bilang nekat, jelas karena saya melepas gaji rutin yang tiap akhir bulan “hinggap” di rekening bank lalu bergantung pada keinginan orang membayar jasa yang saya jual. Mungkin juga ada alasan lain. Mungkin karena saya baru setahun kerja udah nekat melepasnya dan mulai bisnis dari nol, mungkin juga karena dianggapnya saya kurang memikirkan masa depan saya akan seperti apa tanpa naungan korporat raksasa, atau mungkin juga karena modal ilmu bisnis yang belum ada tapi udah nekat mulai.

Yang bilang salut, mungkin karena menghargai keputusan saya untuk membela cita-cita dari pada jabatan dan gaji pasti. Ada yang bilang, di perusahaan tempat saya dulu bekerja, keputusan seseorang untuk berhenti kerja akan lebih dihargai jika motifnya bukan kurangnya gaji atau kerjaan yang kurang cocok, tapi jika motifnya untuk sekolah lagi atau pindah profesi. Mungkin itu yang jadi alasan respon ‘salut’ ini. Mungkin juga karena udah berani sebar-sebar kartunama sendiri dengan jabatan yang sok-sokan.

Tapi, sebenarnya lebih banyak yang tidak merespon dengan jelas, hanya mengernyitkan dahi, memainkan alis, memicingkan mata, atau memiringkan kepala. Seolah-olah berkata “bodoh kamu!” Rata-rata yang kasih respon macam ini adalah saudara-saudara, om tante, atau kerabat-kerabat yang umurnya udah sepantar orang tua.

Sebenarnya ini respon yang memang paling wajar dan manusiawi ketika mendengar keputusan yang saya ambil. Bagaimana tidak? Perusahaan tempat saya bekerja punya titel sebagai emporium bisnis lokal terbesar di Indonesia, bahkan namanya sudah besar juga di Asia. Gaji saya pun lumayan. Jabatan yang ditawarkan pasca penyampaian maksud resign pun bukan sembarangan. Sejak awal saya sudah dikumpulkan dengan rekan-rekan kerja yang bahkan lebih cocok saya panggil om tante dari pada mas atau mbak. Bukan hal sulit untuk menghadap orang-orang di level middle dan top manager, bahkan hampir tiap minggu. Kalau saya mau, mungkin saja saya bisa lompat ke bapak perusahaan dari grup besar ini. Semua kemapanan seperti sudah terproyeksi dengan jelas, seperti sudah terjadi saja.

Namun, proyeksi yang sangat jelas ini lah yang ternyata membuat saya memilih untuk tidak berjalan di jalan ini. Garis bawahi kata “memilih”. Karena memang, semuanya kembali kepada pilihan pribadi. Saya justru belajar banyak dari rekan-rekan kerja di sekitar. Kondisi rekan-rekan saya justru membantu saya menyusun proyeksi itu. Ada yang lebih memilih jalan ini dan mampu bertoleransi dengan semua konsekuensinya, meskipun kadang nalar dan hati saya tidak sanggup membayangkannya. Tetapi ada juga yang memang tidak punya pilihan lain. Bukan “ada” tetapi “banyak”. Dan oleh karena itu saya sangat menghormati apa yang dilakukan kelompok ini meski ada sedikit iba.

Proyeksi ini membuat saya berpikir dan menghasilkan statement yang cukup jelas, “Kalau memang harus bersusah payah sampai setengah mati, pilihlah yang bisa dinikmati, dan lakukan itu sedini mungkin. Selama masih ada cukup energi, selama belum banyak perut untuk diisi. Karena rumus hidup selalu sama, setelah kesusahan ada kemudahan. Dan mungkin kalau yang ditemui lebih banyak kemudahannya dulu, harus khawatir kalau-kalau datang kesusahan di belakang. Masih banyak hal yang lebih penting daripada mengejar materi. Uang bisa dicari, waktu kalau lewat ga akan balik lagi, fisik kalau sudah usang ga akan jadi baru lagi, anak kalau sudah besar ga bisa dipaksa kecil lagi, orang tua kalau sudah ga ada, gimana mau kembali.”

Kata-kata terakhir memang mungkin agak naif tapi memang begitu kenyataannya. Akhirnya saya tidak memuja idealisme dan menyingkirkan realitas. Tapi selalu ada cara untuk mempertahankan keduanya, meskipun lebih banyak energi dan usaha yang harus dikeluarkan, meskipun banyak resiko yang membayang-bayangi.

Setelah ini, dan sampai kapan pun, saya akan menerima respon apa pun itu. Rumus “man jadda wajada” pun saya terus pegang. Rumus “man yattaqillaha yaj’allahu makhroja wa yarzuqhu min haitsu laa yahtasib” juga tetap berlaku.

Terakhir, mohon doanya supaya kita semua bisa konsisten di jalan yang baik dengan caranya masing-masing, supaya bisa sukses semua yang diusahakan, dan supaya yang sekarang dilakukan bisa dipetik hasil manisnya nanti. Aamiin 🙂

NB:
Ketinggalan. Bisnisnya apa? See facebook.com/terasnusantara, @terasnusantara, or http://www.terasnusantara.com which will come very soon.

Bukan Bidan Biasa


Ketika membuat tulisan ini, saya iseng mencari di Google. Ternyata, bidan Wiwid ini memang bukan bidan biasa. Ia pernah mendapat penghargaan dari sebuah lembaga internasional untuk kemanusiaan. Kisah hidupnya juga tidak biasa. Lengkapnya, bisa dilihat di link berikut.

Bidan itu bernama Wiwied. Wajahnya ramah dan terlihat ada darah tionghoa mengalir di dirinya. Tapi dia bukan bidan biasa, seperti yang ada di benak orang pada umumnya.

***

Siang itu, saya dan rekan KMPA bernama Fya mengantar seorang siswi diklatsar yang harus mendapat perawatan medik ke puskesmas karena kondisi fisik yang memburuk. Dia nampak kekurangan cairan dan ada beberapa luka luar yang harus dirawat segera. Kami keluar dari hutan dan mencari puskesmas terdekat di suatu desa di sudut utara Lembang. Sebuah desa yang jauh dari kota Bandung, bahkan dari Lembang pun masih cukup jauh. Sayangnya, puskesmas desa tersebut kebetulan sedang tutup karena hari libur. Dan mobil kami akhirnya berhenti di sebuah klinik bidan di tepi jalan.

Dari luar, kliniknya memang sederhana. Tapi bersih dan rapi. Temboknya berwarna hijau. Saya pun melongok ke dalam, mencari perawat di dalam. Lalu keluar ibu bidan Wiwied,

“Kenapa ini? Lagi diksar ya? Udah hari ke berapa?”, bidan Wiwied secara ramah menyapa, seperti sudah biasa berhadapan dengan “korban” diksar 🙂 Saya pun menjawab,

“Hari ke sekian bu.”

“Wah, tanggung dong. Bentar lagi selesai”, kalimat bidan Wiwied semakin meyakinkan saya bahwa beliau sudah sangat lazim berhadapan dengan kasus ini.

“Ya udah, sini saya rawat dulu”, kemudian bidan Wiwied dan Fya pun masuk ke ruangan untuk merawat si siswi.

Singkat cerita, perawatan si siswi pun dilakukan oleh bidan Wiwied dan timnya. Saya melihat dari luar, bidan Wiwied dan tim nampak bekerja sangat baik dan telaten. Ia membersihkan semua luka dan memandikan si siswi. Setelahnya, ia pun meminta si siswi untuk istirahat, sampai infus yang diberikan habis.

Selama menunggu, saya, Fya, dan beberapa panitia istirahat di teras klinik. Saya yang mulai bosan, mencoba melihat-lihat kondisi sekitar. Ternyata, bangunan klinik ini bergabung dengan rumah bidan Wiwied. Di sini lah saya mulai sadar bahwa bidan Wiwied ini agak spesial.

Ternyata, bangunan rumah di belakang klinik adalah sebuah rumah yang cukup besar dan mewah. Mobil yang terparkir pun sebuah Fortuner putih. Tidak lama, seorang gadis kecil manis berparas tionghoa pun keluar dari dalam klinik. Ternyata ia adalah anaknya bidan Wiwied. Dari penampilannya, gadis kecil nampak terawat dan terlihat sekali berasal dari keluarga berada. Ia bersekolah di kota Bandung, yang jaraknya lebih dari satu jam dari desa ini.

Sepanjang siang, pasien seperti tidak henti-hentinya datang dan pergi dari klinik. Sepertinya, penduduk sekitar begitu mempercayakan kesehatan mereka pada bidan Wiwied. Dan nampaknya, bidan Wiwied tidak mematok harga terlalu mahal untuk pengobatan di sana. Makanya penduduk sekitar tidak ragu untuk berobat di situ.

Saya mulai berpikir, bidan Wiwied ini jelas keluarga yang berada. Klinik dan rumahnya bisa dibilang paling “rapi” di jalan desa itu. Tapi kenapa ia memilih tinggal di desa ini? Mengapa memilih membuka klinik bidan sendiri dari pada menjadi bidan di kota? Di kota tentu ia bisa mematok tarif yang lebih mahal. Pasiennya pun mungkin lebih banyak.

Saya mulai mereka-reka jawabannya. Ia memilih tinggal di sini, padahal kedua anaknya tetap bersekolah di kota Bandung, karena suasana di desa ini sangat tenang. Udaranya bersih dan bebas kemacetan. Penduduknya mayoritas berkebun dan berternak sapi. Mungkin ia memilih tinggal di sini karena merasa damai hidup di desa ini.

Ia bisa saja tetap bekerja di kota, seperti anaknya yang sekolah di kota. Tapi ia memilih membuka klinik di desa ini untuk melayani penduduk desa ini dalam urusan kesehatan. Desa ini jelas sangat jauh dari rumah sakit besar. Hanya ada puskesmas di balai desa. Sementara, klinik bidan Wiwied ini sangat rapi, alatnya lengkap, dan ruangannya tertata rapi. Seperti “rumah sakit kecil”.

Bidan ini sepertinya memilih untuk jadi “bidan desa”. Dan jelas, penduduk sekitar begitu merasakan manfaatnya. Saya dan panitia yang menunggu di teras pun merasakan kebaikannya secara konkret. Beberapa buah jagung rebus dan dua gelas kopi disuguhkan oleh asisten bidan Wiwied seraya berkata, “Kata ibu, harus dimakan.” Kami pun menurut saja 🙂

***

Sore mulai menjemput. Ternyata infus si siswi sudah habis dua kantong. Ia sudah boleh kami bawa ke kota. Sambil beres-beres, saya dan Fya mulai menerka-nerka biaya pengobatannya. Perawatannya sekujur tubuh. Infusnya dua kantong. Saya khawatir uang kami kurang.

Fya pun mengurus administrasinya dengan bidan Wiwied langsung. Ia menuliskan nominal 300.000 di selembar kuitansi. Mungkin memang sudah standarnya segitu. Tapi sayang, uang kami jelas kurang. Fya hanya punya 100.000 sementara saya hanya punya 85.000. Itu pun hasil merogoh semua kantong dan tas. Wajar saja. Kami baru keluar dari hutan.

Saya pun baru ingat, saya bisa pakai m-banking untuk transfer biaya itu langsung ke rekening bidan Wiwied. Tapi setelah kami bilang uang kontan kami hanya 185.000 dan saya bisa lunasi lewat m-banking, ia lantas mencoret nominal 300.000 itu dan menggantinya dengan angka 200.000. Saya bersikeras ingin melunasi lewat transfer. Tapi bidan Wiwied juga bersikeras menolak dan bilang, “Udah ga apa-apa, 15 ribunya jadi berkah aja.”

Saya dan Fya saling bertatap, mengisyaratkan “Aduh, si ibu ini baik banget.” Kami pun berterima kasih berkali-kali atas kebaikan bidan Wiwied.

Kebaikan bidan Wiwied tidak berhenti di situ. Ketika kami bersiap untuk pulang, ia bertanya selanjutnya akan kami bawa ke mana si siswi ini? Kami mengatakan bahwa akan kami bawa ke rumah sakit di kota untuk dirawat, sesuai rekomendasi bidan Wiwied. Tapi ia justru mengatakan bahwa daripada dirawat di rumah sakit tapi tidak ada yang standby menemaninya, lebih baik si siswi dirawat oleh bidan Wiwied saja di klinik ini. Bidan Wiwied tentunya bisa membantu kapan saja karena rumahnya di belakang klinik. Ia bahkan berkata, “Setelah pelantikan, kalau kalian siswinya mau dirawat saya di sini, pencet aja belnya. Jam berapa pun.”

***

Kami memutuskan untuk merawat si siswi di rumah sakit di kota. Terlalu jauh rasanya kalau harus dirawat di klinik bidan Wiwied. Nanti kami kesulitan menjaganya.

Bidan Wiwied meninggalkan kesan yang tidak biasa pada saya. Image bidan di benak saya banyak berbeda dengan image bidan Wiwied. Kedamaian dalam hidup ia coba capai dengan memilih tinggal di desa yang jauh dari kota ini dan berbuat baik pada penduduk sekitar sebagai bidan. Manfaat yang dia beri jelas terlihat dirasakan oleh warga. Saya melihat pasiennya begitu variatif, dari balita, remaja, hingga manula. Dan satu lagi, sepertinya suami bidan Wiwied sudah lebih dari cukup memberikan penghidupan untuk bidan Wiwied dan keluarga. Benar atau tidak, tapi sikapnya yang menomorsekiankan biaya demi kesehatan pasiennya, harus bisa dicontoh oleh orang banyak.

Terima kasih sekali lagi bidan Wiwied.